Tanpa disadari, hampir dua dekade sudah saya menggunakan komputer—dan laptop, secara bergantian. Perkenalan pertama saya dengan komputer—lengkap dengan CPU, monitor, mouse, dan keyboard-nya itu—terjadi ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, kira-kira antara tahun 2007 sampai 2010.
Jika saya pikirkan kembali detik ini, betapa luar biasanya
fakta bahwa sebuah SD kecil di kawasan pinggiran Sidoarjo, yang tiap tingkatnya
cuma punya satu rombongan belajar—tidak seperti sekarang dengan pembagian kelas
1A, 1B, dan seterusnya—sudah dilengkapi lab komputer sendiri. Padahal kala itu,
seluruh kegiatan belajar-mengajar di sekolah kami masih mengandalkan papan
tulis dan kapur, serta kertas dan pensil. Bila guru ingin memperlihatkan gambar
supaya bisa dilihat seluruh siswa, pilihan satu-satunya adalah menggunakan OHP (Overhead Projector),
yang sebelum adanya komputer merupakan perangkat tercanggih di sekolah kami.
Maka betapa progresifnya pihak sekolah yang berani
mengenalkan teknologi komputer kepada murid-murid usia dini! Saya pun merasa
beruntung bisa menimba ilmu di sekolah progresif itu. Sebab tanpa pengalaman
tersebut, boleh jadi saya baru mengenal komputer jauh lebih lambat, mungkin
baru di jenjang SMP…
Dikarenakan keterbatasan lahan, lab komputer tersebut dibangun
di sudut paling belakang sekolah, tepat di atas sebidang tanah sisa yang tak
terpakai. Ruangan itu
juga berfungsi ganda sebagai musala sekolah bila tiba musim ujian praktik—sebuah fakta yang cukup membuktikan
betapa kecilnya SD kami. Letaknya yang diapit bangunan lebih tinggi di segala
sisi membuat lab itu gelap dan pengap. Namun, kondisi tersebut sama sekali
tidak mengurangi antusiasme saya. Setiap kali jadwal pelajaran TIK (Teknologi
Informasi dan Komunikasi) tiba, saya justru tak sabar untuk cepat-cepat memasuki
lab suram itu.
Di lab tersebut hanya tersedia beberapa komputer, barangkali
tak sampai sepuluh unit. Padahal jumlah siswa di kelas saya mencapai 52
orang—betul, Anda tidak salah baca—jelas perangkat-perangkat itu jauh dari kata
mencukupi. Akibatnya, satu komputer harus digunakan bersama oleh 8-9 anak.
Semua berebut kesempatan, sama-sama ingin mengklik mouse dan
menekan-nekan keyboard sesuka hati alih-alih mengikuti arahan yang
sedang disampaikan guru.
Saya tidak lagi ingat apa merek komputer yang digunakan,
tetapi warnanya masih jelas dalam ingatan saya. Semuanya berwarna putih gading,
mulai dari monitor, keyboard, mouse, sampai CPU-nya—warna
yang sepertinya amat khas komputer era 2000-an. Mouse yang digunakan pun
masih bertipe bola, dan saya ingat betul saya sering memainkannya diam-diam
sewaktu mendapat giliran, semata-mata karena rasa penasaran akan bentuknya yang
menyerupai biji buah alpukat. Di bagian CPU, terdapat tempat untuk memasukkan
CD, meski pada waktu itu hampir tak pernah dimanfaatkan.
Yang paling sering dipakai justru slot disket. Disket
pertama saya adalah pemberian sekolah, berwarna abu-abu, dengan stiker kosong
di depannya yang ditulisi nama saya oleh wali kelas. Jika Anda mencarinya di
Google, kapasitas maksimal satu disket hanya sekitar 1 MB. Namun entah
bagaimana, saya tak pernah kehabisan kapasitas penyimpanan. Dan disket pemberian
guru itu juga yang menjadi satu-satunya disket yang pernah saya miliki di
sepanjang hidup saya. Isinya hanya berbagai hasil praktik pelajaran TIK di
sekolah, karena memang tak ada keperluan lain untuk menggunakannya.
Seperti dokumen Word dari latihan mengetik. (Walaupun
sebenarnya, yang paling membuat saya antusias adalah ketika diajari
mempercantik halaman menggunakan WordArt dan bingkai. Bicara soal bingkai,
favorit saya adalah motif waluh Jack-o’-lantern.) Selain itu, ada pula file
Paint—berisi percobaan saya menyalin gambar gunung dan laut dari buku gambar,
yang tentu saja berakhir dengan hasil yang memprihatinkan…
Barangkali karena melihat kegembiraan putri sulungnya tiap
kali menceritakan apa saja yang dipelajarinya selama pelajaran TIK di sekolah,
Mama tampaknya tergerak juga. Sebab tak lama setelah itu, satu set PC tiba di
rumah—tepatnya ketika saya naik kelas enam SD.
Untuk yang satu ini, saya masih ingat betul mereknya:
Compaq. Sepintas lalu saja terlihat perbedaan levelnya dengan komputer-komputer
di sekolah. Alih-alih plastik tebal, casing CPU saya terbuat dari logam
tebal! (Gara-gara itu, lutut saya kerap tersengat listrik tiap kali tak sengaja
menyenggolnya.) Perbedaan lainnya ada pada sistem operasinya. Jika komputer
sekolah masih menjalankan Windows 98, PC saya sudah dibekali dengan Windows XP.
(Anda tentu familiar dengan wallpaper bergambar hamparan bukit hijau di
bawah langit biru cerah itu. Gambar bernama “Bliss” itu merupakan salah satu wallpaper
komputer paling legendaris sepanjang masa.)
Punya komputer sendiri sungguh membuat hati saya bahagia,
padahal saya tak pernah sekalipun mengatakan kepada Mama bahwa sebetulnya saya kepingin
punya juga. Kebahagiaan itu pun berubah menjadi kebanggaan begitu saya
mendengar—secara tidak sengaja—bahwa Compaq konon adalah salah satu merek
komputer paling tahan banting di dunia. Sejak itu, saya merasa terhormat dapat
menampung benda yang sedemikian bagusnya di kamar kos jelek kami.
Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kehadiran PC itu. Semua
yang saya pelajari di sekolah saya ulangi lagi di rumah, dan kini saya bisa
langsung menunjukkan hasilnya kepada Mama dan Papa lewat layar monitor—tak
perlu lagi menjelaskan dengan kata-kata yang belum tentu bisa dibayangkan. Adik
saya yang masih duduk di kelas satu pun ikut saya libatkan. Bersama-sama kami
belajar menggambar, membuat wallpaper, kartu ulang tahun, sampai kartu Lebaran.
Pemandangan itu rupanya membuat Mama sangat senang, sebab komputer yang
dibelinya dengan meminjam dana dari koperasi kantor ternyata digunakan dengan
sungguh-sungguh.
Memasuki bangku SMP, pemanfaatan komputer di rumah pun
bertambah luas. Salah satu tonggak awalnya adalah tugas membuat makalah tentang
sel tumbuhan dan sel hewan. Pada masa itu, saya belum menguasai cara mengunduh
gambar—lebih tepatnya, saya belum paham bagaimana cara berselancar di internet.
Beruntung, teman sebangku saya berkenan mengajari langkah-langkahnya. Di rumah
sendiri, akses internet belum tersedia—tak ada modem, apalagi WiFi—sehingga
satu-satunya cara adalah mengunduh semua gambar yang saya butuhkan di lab
komputer sekolah. (Lab ini ukurannya sekitar tiga kali lebih besar dibanding
lab di SD!) Setelah itu, semua gambar tadi saya simpan di disket untuk dibawa
pulang.
Jika membuat makalah tergolong gampang, lain ceritanya
dengan membuat presentasi slide. Meski begitu, saya semangat
mempelajarinya. Rasanya seperti membuat film, hanya saja tanpa video.
Saking asyiknya, di kelas 8 saya pernah membuat presentasi
ASEAN dengan 40 slide lebih! Dan sudah pasti, jumlah slide
perkenalan anggota kelompok jauh lebih banyak daripada isi materinya. Saya
tambahkan berbagai GIF dan gambar—mulai dari bebek berjoget, Danbo menangis,
Doraemon menyapa, sampai anak-anak mengucapkan “Assalamu’alaikum”—lengkap
dengan efek suara, yang semuanya itu saya pilih setelah berjam-jam menimbang.
Sampai sekarang, karya itu masih memegang rekor sebagai presentasi slide
terbaik yang pernah saya buat. Buktinya, kelompok kami mendapat nilai tertinggi
berkatnya.
Oh ya, pada mulanya saya tidak merasa terganggu harus terus
memakai disket. Tetapi namanya juga anak-anak, rasa iri pun timbul di hati saya
ketika melihat teman-teman menggantungkan flash disk di leher dengan
tali warna-warni bergambar karakter lucu. Flash disk mereka pun tak
kalah berwarna-warni. Ada yang kuning, merah, dan biru.
Karenanya, saya pun merengek supaya dibelikan flash disk
juga. Butuh waktu berminggu-minggu untuk meyakinkan Mama bahwa disket saya tak
lagi sanggup menampung presentasi-presentasi slide super kreatif buatan
saya itu sebelum akhirnya Mama luluh.
Namun begitu flash disk itu sampai di tangan saya,
ketertarikan saya sirna... sebab warnanya abu-abu! Dari sekian banyak
pilihan, kenapa sih harus abu-abu, omel saya dalam hati. Saya sempat
mengeluh, tentu saja, tetapi Mama tak bergeming. Mau tak mau, saya terima nasib
menjadi anak yang membawa flash disk tanpa warna di kelas...
Upgrade dari disket ke flash disk itu menjadi
tonggak berikutnya yang kian memperluas pemanfaatan komputer di rumah saya
lantaran kapasitas penyimpanannya yang jauh lebih besar. Alhasil, komputer tak
lagi saya gunakan semata untuk belajar, tetapi juga sebagai sumber hiburan.
Bermain gim hanyalah salah satunya. Saya rajin menyalin
berbagai gim bajakan dari Aditya dan Audi, dua “anak IT” di kelas saya. Kalau
Anda bertanya apakah saya punya gim-gim dari Gamelab, ah, jangan ditanya. Diner
Dash, Wedding Dash, Crazy Taxi 2—tinggal sebut saja. Koleksi
saya juga mencakup gim non-Gamelab seperti Plants vs. Zombies, Pepsi
Man, Pizza Frenzy, Feeding Frenzy, Insaniquarium, Miss Management, The
Sims, Varmintz, Sally Salon, Sally Spa, Alice
Greenfingers, Alice Greenfingers 2, Cooking Academy, Cooking
Academy 2, serta sederet judul lain yang tak terhitung jumlahnya.
Walau koleksi gim saya terbilang banyak, nyatanya saya
jarang sempat memainkannya, kecuali di akhir pekan. Penyebabnya karena semasa
SMP saya tergabung dalam yang namanya kelas unggulan, yang membuat jam pulang
saya selalu molor sampai sekitar setengah lima sore. Sesampainya di rumah,
masih ada kewajiban belajar, dan biasanya sekitar jam sembilan malam saya sudah
tumbang kelelahan.
Itulah sebabnya, pada hari sekolah, PC lebih sering dikuasai
oleh bapak saya. Sepulang kerja, Papa asyik bermain gim sementara saya berkutat
dengan PR. Rasanya campur aduk antara iri dan kesal. Ah, betapa saya ingin
mencampakkan soal-soal memusingkan tentang panjang diagonal ruang balok dan
kembali merawat keluarga kecil saya di The Sims! (Oh ya, sebagai catatan
kecil yang cukup menyebalkan, gim favorit bapak saya adalah Plants vs.
Zombies. Dan menyebalkannya lagi, dia berhasil menamatkannya lebih dulu
daripada saya!)
Selain gim, hiburan lain yang menemani saya pada masa itu
adalah musik. Setelah belajar dari teman sebangku cara mengunduh gambar dari
internet—dan tentu saja setelah cukup lama merengek lagi agar Mama membelikan
modem—saya mulai belajar sendiri cara mengunduh lagu-lagu bajakan. Lambat laun,
aktivitas itu berubah menjadi hobi. Saya gemar mengarsipkan lagu berdasarkan
siapa penyanyinya, apa judul albumnya, dan kapan tahun rilisnya.
Di rumah, saya bahkan dipercaya menjadi “tukang download
lagu”. Tiap kali Mama dan Papa ingin mencari lagu tertentu, yang kebanyakan
adalah lagu-lagu lawas, sayalah yang mengunduhkannya. Sambil belajar di meja
yang sama, saya sesekali melirik layar PC, terpukau oleh visualisasi Windows
Media Player yang keren itu—dan jujur saja, sampai sekarang pun masih terasa
begitu…
Sayangnya, komputer Compaq itu hanya menemani saya sekitar
empat tahun. Sebab ketika saya menginjak bangku SMA, saya ingat saya sudah
beralih menggunakan laptop turunan dari Paklik (adik laki-laki ibu saya).
Laptop itu bermerek HP. (Menariknya, HP kemudian mengakuisisi Compaq, sehingga
secara tidak langsung saya kembali memiliki “PC” yang terkenal tahan banting.)
Meski kebersamaan kami terbilang singkat, begitu banyak
hasil karya dan kenangan di antara kami yang tercipta. Bahkan hingga akhir masa
tinggalnya di rumah kami, komputer itu masih berjasa, karena Papa berhasil
menjualnya—tentu atas izin Mama—ke tukang rongsok dengan harga lumayan [.]
(Gambar diambil dari Freepik.)

Jadi inget dulu waktu pertama kali di beliin bokap laptop, sempat bingung kenapa tampilan laptop saya beda sama di beberapa warnet dan komputer yang sering dipake di sekolah, ternyata setelah ditelusuri OS laptop gue udah pake windows 7 sementara yang lain masih XP, akhirnya install ulang dan balik pake XP, bego bener dah.
BalasHapusUdah bener-bener malah di-downgrade 😭 Tapi begitulah jadinya kalau masih bocil, kalau beda dari yang lain serasa kita salah sendiri 🤣
Hapus