10 Januari 2026

Berkenalan dengan Komputer

Tanpa disadari, hampir dua dekade sudah saya menggunakan komputer—dan laptop, secara bergantian. Perkenalan pertama saya dengan komputer—lengkap dengan CPU, monitor, mouse, dan keyboard-nya itu—terjadi ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, kira-kira antara tahun 2007 sampai 2010.

Jika saya pikirkan kembali detik ini, betapa luar biasanya fakta bahwa sebuah SD kecil di kawasan pinggiran Sidoarjo, yang tiap tingkatnya cuma punya satu rombongan belajar—tidak seperti sekarang dengan pembagian kelas 1A, 1B, dan seterusnya—sudah dilengkapi lab komputer sendiri. Padahal kala itu, seluruh kegiatan belajar-mengajar di sekolah kami masih mengandalkan papan tulis dan kapur, serta kertas dan pensil. Bila guru ingin memperlihatkan gambar supaya bisa dilihat seluruh siswa, pilihan satu-satunya adalah menggunakan OHP (Overhead Projector), yang sebelum adanya komputer merupakan perangkat tercanggih di sekolah kami.

Maka betapa progresifnya pihak sekolah yang berani mengenalkan teknologi komputer kepada murid-murid usia dini! Saya pun merasa beruntung bisa menimba ilmu di sekolah progresif itu. Sebab tanpa pengalaman tersebut, boleh jadi saya baru mengenal komputer jauh lebih lambat, mungkin baru di jenjang SMP…

Dikarenakan keterbatasan lahan, lab komputer tersebut dibangun di sudut paling belakang sekolah, tepat di atas sebidang tanah sisa yang tak terpakai. Ruangan itu juga berfungsi ganda sebagai musala sekolah bila tiba musim ujian praktik—sebuah fakta yang cukup membuktikan betapa kecilnya SD kami. Letaknya yang diapit bangunan lebih tinggi di segala sisi membuat lab itu gelap dan pengap. Namun, kondisi tersebut sama sekali tidak mengurangi antusiasme saya. Setiap kali jadwal pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) tiba, saya justru tak sabar untuk cepat-cepat memasuki lab suram itu.

Di lab tersebut hanya tersedia beberapa komputer, barangkali tak sampai sepuluh unit. Padahal jumlah siswa di kelas saya mencapai 52 orang—betul, Anda tidak salah baca—jelas perangkat-perangkat itu jauh dari kata mencukupi. Akibatnya, satu komputer harus digunakan bersama oleh 8-9 anak. Semua berebut kesempatan, sama-sama ingin mengklik mouse dan menekan-nekan keyboard sesuka hati alih-alih mengikuti arahan yang sedang disampaikan guru.

Saya tidak lagi ingat apa merek komputer yang digunakan, tetapi warnanya masih jelas dalam ingatan saya. Semuanya berwarna putih gading, mulai dari monitor, keyboard, mouse, sampai CPU-nya—warna yang sepertinya amat khas komputer era 2000-an. Mouse yang digunakan pun masih bertipe bola, dan saya ingat betul saya sering memainkannya diam-diam sewaktu mendapat giliran, semata-mata karena rasa penasaran akan bentuknya yang menyerupai biji buah alpukat. Di bagian CPU, terdapat tempat untuk memasukkan CD, meski pada waktu itu hampir tak pernah dimanfaatkan.

Yang paling sering dipakai justru slot disket. Disket pertama saya adalah pemberian sekolah, berwarna abu-abu, dengan stiker kosong di depannya yang ditulisi nama saya oleh wali kelas. Jika Anda mencarinya di Google, kapasitas maksimal satu disket hanya sekitar 1 MB. Namun entah bagaimana, saya tak pernah kehabisan kapasitas penyimpanan. Dan disket pemberian guru itu juga yang menjadi satu-satunya disket yang pernah saya miliki di sepanjang hidup saya. Isinya hanya berbagai hasil praktik pelajaran TIK di sekolah, karena memang tak ada keperluan lain untuk menggunakannya.

Seperti dokumen Word dari latihan mengetik. (Walaupun sebenarnya, yang paling membuat saya antusias adalah ketika diajari mempercantik halaman menggunakan WordArt dan bingkai. Bicara soal bingkai, favorit saya adalah motif waluh Jack-o’-lantern.) Selain itu, ada pula file Paint—berisi percobaan saya menyalin gambar gunung dan laut dari buku gambar, yang tentu saja berakhir dengan hasil yang memprihatinkan…

Barangkali karena melihat kegembiraan putri sulungnya tiap kali menceritakan apa saja yang dipelajarinya selama pelajaran TIK di sekolah, Mama tampaknya tergerak juga. Sebab tak lama setelah itu, satu set PC tiba di rumah—tepatnya ketika saya naik kelas enam SD.

Untuk yang satu ini, saya masih ingat betul mereknya: Compaq. Sepintas lalu saja terlihat perbedaan levelnya dengan komputer-komputer di sekolah. Alih-alih plastik tebal, casing CPU saya terbuat dari logam tebal! (Gara-gara itu, lutut saya kerap tersengat listrik tiap kali tak sengaja menyenggolnya.) Perbedaan lainnya ada pada sistem operasinya. Jika komputer sekolah masih menjalankan Windows 98, PC saya sudah dibekali dengan Windows XP. (Anda tentu familiar dengan wallpaper bergambar hamparan bukit hijau di bawah langit biru cerah itu. Gambar bernama “Bliss” itu merupakan salah satu wallpaper komputer paling legendaris sepanjang masa.)

Punya komputer sendiri sungguh membuat hati saya bahagia, padahal saya tak pernah sekalipun mengatakan kepada Mama bahwa sebetulnya saya kepingin punya juga. Kebahagiaan itu pun berubah menjadi kebanggaan begitu saya mendengar—secara tidak sengaja—bahwa Compaq konon adalah salah satu merek komputer paling tahan banting di dunia. Sejak itu, saya merasa terhormat dapat menampung benda yang sedemikian bagusnya di kamar kos jelek kami.

Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kehadiran PC itu. Semua yang saya pelajari di sekolah saya ulangi lagi di rumah, dan kini saya bisa langsung menunjukkan hasilnya kepada Mama dan Papa lewat layar monitor—tak perlu lagi menjelaskan dengan kata-kata yang belum tentu bisa dibayangkan. Adik saya yang masih duduk di kelas satu pun ikut saya libatkan. Bersama-sama kami belajar menggambar, membuat wallpaper, kartu ulang tahun, sampai kartu Lebaran. Pemandangan itu rupanya membuat Mama sangat senang, sebab komputer yang dibelinya dengan meminjam dana dari koperasi kantor ternyata digunakan dengan sungguh-sungguh.

Memasuki bangku SMP, pemanfaatan komputer di rumah pun bertambah luas. Salah satu tonggak awalnya adalah tugas membuat makalah tentang sel tumbuhan dan sel hewan. Pada masa itu, saya belum menguasai cara mengunduh gambar—lebih tepatnya, saya belum paham bagaimana cara berselancar di internet. Beruntung, teman sebangku saya berkenan mengajari langkah-langkahnya. Di rumah sendiri, akses internet belum tersedia—tak ada modem, apalagi WiFi—sehingga satu-satunya cara adalah mengunduh semua gambar yang saya butuhkan di lab komputer sekolah. (Lab ini ukurannya sekitar tiga kali lebih besar dibanding lab di SD!) Setelah itu, semua gambar tadi saya simpan di disket untuk dibawa pulang.

Jika membuat makalah tergolong gampang, lain ceritanya dengan membuat presentasi slide. Meski begitu, saya semangat mempelajarinya. Rasanya seperti membuat film, hanya saja tanpa video.

Saking asyiknya, di kelas 8 saya pernah membuat presentasi ASEAN dengan 40 slide lebih! Dan sudah pasti, jumlah slide perkenalan anggota kelompok jauh lebih banyak daripada isi materinya. Saya tambahkan berbagai GIF dan gambar—mulai dari bebek berjoget, Danbo menangis, Doraemon menyapa, sampai anak-anak mengucapkan “Assalamu’alaikum”—lengkap dengan efek suara, yang semuanya itu saya pilih setelah berjam-jam menimbang. Sampai sekarang, karya itu masih memegang rekor sebagai presentasi slide terbaik yang pernah saya buat. Buktinya, kelompok kami mendapat nilai tertinggi berkatnya.

Oh ya, pada mulanya saya tidak merasa terganggu harus terus memakai disket. Tetapi namanya juga anak-anak, rasa iri pun timbul di hati saya ketika melihat teman-teman menggantungkan flash disk di leher dengan tali warna-warni bergambar karakter lucu. Flash disk mereka pun tak kalah berwarna-warni. Ada yang kuning, merah, dan biru.

Karenanya, saya pun merengek supaya dibelikan flash disk juga. Butuh waktu berminggu-minggu untuk meyakinkan Mama bahwa disket saya tak lagi sanggup menampung presentasi-presentasi slide super kreatif buatan saya itu sebelum akhirnya Mama luluh.

Namun begitu flash disk itu sampai di tangan saya, ketertarikan saya sirna... sebab warnanya abu-abu! Dari sekian banyak pilihan, kenapa sih harus abu-abu, omel saya dalam hati. Saya sempat mengeluh, tentu saja, tetapi Mama tak bergeming. Mau tak mau, saya terima nasib menjadi anak yang membawa flash disk tanpa warna di kelas...

Upgrade dari disket ke flash disk itu menjadi tonggak berikutnya yang kian memperluas pemanfaatan komputer di rumah saya lantaran kapasitas penyimpanannya yang jauh lebih besar. Alhasil, komputer tak lagi saya gunakan semata untuk belajar, tetapi juga sebagai sumber hiburan.

Bermain gim hanyalah salah satunya. Saya rajin menyalin berbagai gim bajakan dari Aditya dan Audi, dua “anak IT” di kelas saya. Kalau Anda bertanya apakah saya punya gim-gim dari Gamelab, ah, jangan ditanya. Diner Dash, Wedding Dash, Crazy Taxi 2—tinggal sebut saja. Koleksi saya juga mencakup gim non-Gamelab seperti Plants vs. Zombies, Pepsi Man, Pizza Frenzy, Feeding Frenzy, Insaniquarium, Miss Management, The Sims, Varmintz, Sally Salon, Sally Spa, Alice Greenfingers, Alice Greenfingers 2, Cooking Academy, Cooking Academy 2, serta sederet judul lain yang tak terhitung jumlahnya.

Walau koleksi gim saya terbilang banyak, nyatanya saya jarang sempat memainkannya, kecuali di akhir pekan. Penyebabnya karena semasa SMP saya tergabung dalam yang namanya kelas unggulan, yang membuat jam pulang saya selalu molor sampai sekitar setengah lima sore. Sesampainya di rumah, masih ada kewajiban belajar, dan biasanya sekitar jam sembilan malam saya sudah tumbang kelelahan.

Itulah sebabnya, pada hari sekolah, PC lebih sering dikuasai oleh bapak saya. Sepulang kerja, Papa asyik bermain gim sementara saya berkutat dengan PR. Rasanya campur aduk antara iri dan kesal. Ah, betapa saya ingin mencampakkan soal-soal memusingkan tentang panjang diagonal ruang balok dan kembali merawat keluarga kecil saya di The Sims! (Oh ya, sebagai catatan kecil yang cukup menyebalkan, gim favorit bapak saya adalah Plants vs. Zombies. Dan menyebalkannya lagi, dia berhasil menamatkannya lebih dulu daripada saya!)

Selain gim, hiburan lain yang menemani saya pada masa itu adalah musik. Setelah belajar dari teman sebangku cara mengunduh gambar dari internet—dan tentu saja setelah cukup lama merengek lagi agar Mama membelikan modem—saya mulai belajar sendiri cara mengunduh lagu-lagu bajakan. Lambat laun, aktivitas itu berubah menjadi hobi. Saya gemar mengarsipkan lagu berdasarkan siapa penyanyinya, apa judul albumnya, dan kapan tahun rilisnya.

Di rumah, saya bahkan dipercaya menjadi “tukang download lagu”. Tiap kali Mama dan Papa ingin mencari lagu tertentu, yang kebanyakan adalah lagu-lagu lawas, sayalah yang mengunduhkannya. Sambil belajar di meja yang sama, saya sesekali melirik layar PC, terpukau oleh visualisasi Windows Media Player yang keren itu—dan jujur saja, sampai sekarang pun masih terasa begitu…

Sayangnya, komputer Compaq itu hanya menemani saya sekitar empat tahun. Sebab ketika saya menginjak bangku SMA, saya ingat saya sudah beralih menggunakan laptop turunan dari Paklik (adik laki-laki ibu saya). Laptop itu bermerek HP. (Menariknya, HP kemudian mengakuisisi Compaq, sehingga secara tidak langsung saya kembali memiliki “PC” yang terkenal tahan banting.)

Meski kebersamaan kami terbilang singkat, begitu banyak hasil karya dan kenangan di antara kami yang tercipta. Bahkan hingga akhir masa tinggalnya di rumah kami, komputer itu masih berjasa, karena Papa berhasil menjualnya—tentu atas izin Mama—ke tukang rongsok dengan harga lumayan [.]

 

(Gambar diambil dari Freepik.) 

2 komentar

  1. Jadi inget dulu waktu pertama kali di beliin bokap laptop, sempat bingung kenapa tampilan laptop saya beda sama di beberapa warnet dan komputer yang sering dipake di sekolah, ternyata setelah ditelusuri OS laptop gue udah pake windows 7 sementara yang lain masih XP, akhirnya install ulang dan balik pake XP, bego bener dah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah bener-bener malah di-downgrade 😭 Tapi begitulah jadinya kalau masih bocil, kalau beda dari yang lain serasa kita salah sendiri 🤣

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan 😊

© m o f u m e m o
Maira Gall