
Topik ini terlintas di benak saya berdasarkan pengalaman yang saya alami sendiri beberapa waktu lalu. Pada September 2024, dokter menyebut bahwa saya punya tumor payudara jenis fibroadenoma. Berhubung diameter tumor itu masih di bawah 1 cm, dokter tidak menyarankan untuk segera dilakukan tindakan operasi. Alhasil, saya pun hanya masuk dalam daftar observasi.
Selama masa
pemantauan ini, saya dianjurkan untuk mengubah gaya hidup, khususnya memperbaiki
pola makan, dengan tujuan memperlambat pertumbuhan tumor. Sayangnya, dokter menyampaikannya
secara umum saja. Saya diminta untuk “makan lebih sehat” dan mengonsumsi
suplemen penyeimbang hormon.
Penyesalan
terbesar saya pada waktu itu adalah tidak sempat meminta penjelasan lebih jauh terkait
maksud dokter tentang anjuran “makan lebih sehat” itu. Waktunya tidak
memungkinkan sebab pasien berikutnya sudah menunggu giliran.
Terpaksa,
saya akhirnya mencari jawabannya sendiri lewat Google. Namun, hasilnya jauh
dari harapan. Anda bisa mencoba sendiri mengetik “diet untuk tumor payudara” di
kolom pencarian Google. Hampir tidak ada konten yang relevan. Yang muncul
justru artikel-artikel tentang “diet untuk kanker payudara”.
Perlu dipahami bahwa tumor tidak sama dengan kanker. (Saya memang tidak punya latar belakang pendidikan kedokteran, tetapi pengetahuan ini saya peroleh langsung dari dokter yang menangani saya—yang mana beliau bisa dipastikan punya latar belakang pendidikan kedokteran. 😁)
Karena itu, muncul pertanyaan di kepala saya: bukankah seharusnya
ada rekomendasi pola makan khusus bagi penderita tumor yang belum berkembang ke
tahap ganas? Mengapa topik ini seolah diabaikan? Apakah karena belum ada riset
yang mendukungnya, atau karena isu ini dianggap kurang menjual sehingga tak
cukup kuat untuk membuat orang tertarik membahasnya?
Andaikan
dulu saya menempuh pendidikan kedokteran, saya pasti sudah menuliskannya
sendiri di blog saya—lengkap dengan catatan bahwa isinya tidak dimaksudkan untuk
tujuan pengobatan, tentunya. Setidaknya, orang-orang dengan kondisi dan
pertanyaan yang sama seperti saya akan punya bahan acuan.
Setelah
berandai-andai seperti itu, kekecewaan saya pun akhirnya memunculkan sudut
pandang baru. Ya, bukankah topik yang tidak dibicarakan oleh siapa pun itu
justru bisa menjadi bahan tulisan yang paling potensial?! Eureka!
***
Saya melihat
hal ini amat relevan bagi pemilik bisnis kecil yang ingin segera menjangkau calon
pembeli. Dalam tulisan saya sebelumnya tentang cara
riset keyword untuk marketing bisnis, saya sempat menyinggung
bahwa adalah praktik umum dalam SEO untuk menargetkan keyword dengan tingkat
kesulitan rendah. Hanya saja, banyak orang tampaknya terlalu bergantung pada indikator
numerik dari alat-alat seperti Ahrefs atau Semrush dan tidak betul-betul
memahami konteksnya. Selama angkanya kecil—dan warnanya hijau—keyword itu
langsung dianggap bagus tanpa pertimbangan lebih lanjut…
Kalau itu
saya, saya lebih memilih menggunakan sudut pandang pembeli, bukan seperti
kerbau dicucuk hidung ketika menggunakan alat-alat SEO. Ya, sudut pandang
pembeli yang sejatinya merupakan manusia. Dan kita semua tahu, manusia itu tak
selalu bisa diprediksi, baik dalam pikiran maupun perbuatannya.
Contohnya
saya sendiri, yang mencari informasi tentang diet bagi pasien tumor payudara
demi mengendalikan pertumbuhan tumor secara mandiri. Di luar sana, bisa saja
ada orang yang bertanya jenis cat apa yang paling bagus untuk mengecat galon air
minum. Atau ada seorang perempuan yang penasaran, apa manfaat mengenakan celana
dalam pria, mengingat yang sering dibahas justru sebaliknya.
Percayalah,
pertanyaan-pertanyaan—tak terduga—ini betul-betul ditanyakan di Google. Masalahnya,
tidak banyak pemilik bisnis kecil yang mau menyentuh topik semacam itu lantaran
dianggap terlalu nyeleneh atau terlalu sempit untuk dijadikan bahan
pembahasan.
Tetapi mari
kita bersikap realistis dengan mengingat kembali era apa yang sedang kita
hadapi sekarang. Ya, kita tengah menghadapi era kecerdasan buatan (AI). Berkat
AI, siapa pun kini bisa menulis tentang topik apa pun. Karena itulah, konten di
luar sana menjadi sangat melimpah. Dari sisi produksi, ini jelas menguntungkan
karena waktu pembuatan konten bisa dipangkas. Tetapi dari sisi marketing,
ini justru merugikan.
Anda
barangkali mengaku sebagai “yang paling asyik dalam menjelaskan topik ini”, “yang
paling ahli dalam topik ini”, atau “yang paling memahami Gen Z”. Tetapi di era
AI, klaim-klaim semacam itu saja sudah tidak mempan untuk menggaet pembeli. Pasalnya
dengan prompt yang tepat, siapa saja juga bisa menjadi yang paling asyik
dalam menjelaskan suatu topik, yang paling ahli dalam suatu topik, dan yang—terlihat—paling
memahami audiensnya.
Lalu apa
jadinya jika setiap pengusaha di planet ini punya mindset yang sama? Bah,
bisa dibayangkan, seperti kerumunan orang yang berbondong-bondong menyerbu satu
danau lantaran kabarnya di sana ikan sangat mudah ditangkap!
Saya tidak
mengatakan bahwa peluangnya sudah lenyap sama sekali. Peluangnya masih ada,
tetapi kini menuntut investasi lebih besar—investasi waktu, uang, dan tenaga—sebelum
‘ikannya’ tertangkap. Bagi usaha skala kecil, kondisi ini jelas tidak ideal. Secara
logis, bisnis kecil tidak mungkin beradu kekuatan dengan pemain besar yang
jelas-jelas punya waktu, uang, dan tenaga berlimpah. Sama saja seperti ikut
perang yang sejak awal mustahil dimenangkan…
Baiklah, agaknya
sudah cukup saya merepet. Jadi, apa yang seharusnya dilakukan usaha kecil? Apa
yang seharusnya dilakukan usaha kecil untuk bertahan dan unggul di pasar yang
sesak persaingan seperti sekarang—karena AI dan lain-lain?
Jawabannya
cukup jelas. Tak ada pilihan lain selain berani menyajikan konten yang super
spesifik.
Nyatanya,
kebanyakan orang tak tertarik membandingkan siapa yang lebih unggul dari siapa.
Yang membuat mereka tertarik adalah siapa yang bisa memberikan solusi paling
tepat untuk masalah yang sedang mereka alami. Itu saja. Itulah sebabnya, bisnis
kecil mesti berani menyajikan konten super spesifik.
Kembali ke
contoh orang yang penasaran cat apa yang paling bagus untuk mengecat galon air
minum. Orang ini tak peduli sekalipun Anda tahu belasan atau puluhan merek cat
yang bagus untuk plastik. Yang mereka cari hanyalah rekomendasi terbaik, entah
itu yang daya tutupnya paling oke, yang paling awet, atau yang paling masuk
akal dari sisi harga.
Begitu pula
dengan orang-orang seperti saya yang mencari informasi tentang diet untuk tumor
payudara. Fakta bahwa mayoritas website kesehatan dan rumah sakit fokus
pada kanker payudara bukan alasan untuk mengabaikan penyakit tumor payudara. Plis
deh, pasien tumor payudara juga ada dan perlu diperhatikan! (Izinkan saya merepet
kembali di sini sebab kekesalan saya beralasan. ☺)
Intinya, menjadi
“si yang paling tahu” saja sudah tidak cukup lagi. Suka atau tidak, peran
tersebut sudah diambil oleh AI. Maka dari itu, yang dibutuhkan justru adalah
menjadi “pemancing” yang piawai di satu danau spesifik—pemancing yang betul-betul
mengerti kondisi alam dan karakter ikan di danau tersebut. Jelas lebih mudah
menangkap seratus ikan di tempat yang sepi pemancing dibandingkan harus berebut
satu ikan di tengah ratusan pemancing. Mungkin pada akhirnya hanya
keberuntungan yang akan mendorong ikan-ikan itu untuk menyambar umpan yang Anda
lemparkan…
Di sisi
lain, manfaat dari menulis konten super spesifik tak hanya dirasakan oleh Anda.
Sejatinya, Anda juga membuat calon pembeli merasa dimengerti. Dan calon pembeli
yang merasakan hal tersebut cenderung lebih siap untuk bertransaksi dengan Anda—tentu
setelah membangun kedekatan melalui beberapa kali “kencan” terlebih dahulu, sebagaimana
yang telah saya bahas dalam artikel pentingnya
repetition dalam marketing bisnis.
Karena itu,
jangan takut membahas topik yang super spesifik. Yang lebih patut ditakuti
justru jika Anda gagal memanfaatkan peluang membahas topik itu selagi masih super
spesifik—sebelum akhirnya ‘dicaplok’ juga oleh pemain-pemain besar [.]
(Gambar diambil dari Freepik.)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan 😊