12 Januari 2026

Menulis Konten Super Spesifik, Perlukah?

Topik ini terlintas di benak saya berdasarkan pengalaman yang saya alami sendiri beberapa waktu lalu. Pada September 2024, dokter menyebut bahwa saya punya tumor payudara jenis fibroadenoma. Berhubung diameter tumor itu masih di bawah 1 cm, dokter tidak menyarankan untuk segera dilakukan tindakan operasi. Alhasil, saya pun hanya masuk dalam daftar observasi.

Selama masa pemantauan ini, saya dianjurkan untuk mengubah gaya hidup, khususnya memperbaiki pola makan, dengan tujuan memperlambat pertumbuhan tumor. Sayangnya, dokter menyampaikannya secara umum saja. Saya diminta untuk “makan lebih sehat” dan mengonsumsi suplemen penyeimbang hormon.

Penyesalan terbesar saya pada waktu itu adalah tidak sempat meminta penjelasan lebih jauh terkait maksud dokter tentang anjuran “makan lebih sehat” itu. Waktunya tidak memungkinkan sebab pasien berikutnya sudah menunggu giliran.

Terpaksa, saya akhirnya mencari jawabannya sendiri lewat Google. Namun, hasilnya jauh dari harapan. Anda bisa mencoba sendiri mengetik “diet untuk tumor payudara” di kolom pencarian Google. Hampir tidak ada konten yang relevan. Yang muncul justru artikel-artikel tentang “diet untuk kanker payudara”.

Perlu dipahami bahwa tumor tidak sama dengan kanker. (Saya memang tidak punya latar belakang pendidikan kedokteran, tetapi pengetahuan ini saya peroleh langsung dari dokter yang menangani saya—yang mana beliau bisa dipastikan punya latar belakang pendidikan kedokteran. 😁)

Karena itu, muncul pertanyaan di kepala saya: bukankah seharusnya ada rekomendasi pola makan khusus bagi penderita tumor yang belum berkembang ke tahap ganas? Mengapa topik ini seolah diabaikan? Apakah karena belum ada riset yang mendukungnya, atau karena isu ini dianggap kurang menjual sehingga tak cukup kuat untuk membuat orang tertarik membahasnya?

Andaikan dulu saya menempuh pendidikan kedokteran, saya pasti sudah menuliskannya sendiri di blog saya—lengkap dengan catatan bahwa isinya tidak dimaksudkan untuk tujuan pengobatan, tentunya. Setidaknya, orang-orang dengan kondisi dan pertanyaan yang sama seperti saya akan punya bahan acuan.

Setelah berandai-andai seperti itu, kekecewaan saya pun akhirnya memunculkan sudut pandang baru. Ya, bukankah topik yang tidak dibicarakan oleh siapa pun itu justru bisa menjadi bahan tulisan yang paling potensial?! Eureka!

***

Saya melihat hal ini amat relevan bagi pemilik bisnis kecil yang ingin segera menjangkau calon pembeli. Dalam tulisan saya sebelumnya tentang cara riset keyword untuk marketing bisnis, saya sempat menyinggung bahwa adalah praktik umum dalam SEO untuk menargetkan keyword dengan tingkat kesulitan rendah. Hanya saja, banyak orang tampaknya terlalu bergantung pada indikator numerik dari alat-alat seperti Ahrefs atau Semrush dan tidak betul-betul memahami konteksnya. Selama angkanya kecil—dan warnanya hijau—keyword itu langsung dianggap bagus tanpa pertimbangan lebih lanjut…

Kalau itu saya, saya lebih memilih menggunakan sudut pandang pembeli, bukan seperti kerbau dicucuk hidung ketika menggunakan alat-alat SEO. Ya, sudut pandang pembeli yang sejatinya merupakan manusia. Dan kita semua tahu, manusia itu tak selalu bisa diprediksi, baik dalam pikiran maupun perbuatannya.

Contohnya saya sendiri, yang mencari informasi tentang diet bagi pasien tumor payudara demi mengendalikan pertumbuhan tumor secara mandiri. Di luar sana, bisa saja ada orang yang bertanya jenis cat apa yang paling bagus untuk mengecat galon air minum. Atau ada seorang perempuan yang penasaran, apa manfaat mengenakan celana dalam pria, mengingat yang sering dibahas justru sebaliknya.

Percayalah, pertanyaan-pertanyaan—tak terduga—ini betul-betul ditanyakan di Google. Masalahnya, tidak banyak pemilik bisnis kecil yang mau menyentuh topik semacam itu lantaran dianggap terlalu nyeleneh atau terlalu sempit untuk dijadikan bahan pembahasan.

Tetapi mari kita bersikap realistis dengan mengingat kembali era apa yang sedang kita hadapi sekarang. Ya, kita tengah menghadapi era kecerdasan buatan (AI). Berkat AI, siapa pun kini bisa menulis tentang topik apa pun. Karena itulah, konten di luar sana menjadi sangat melimpah. Dari sisi produksi, ini jelas menguntungkan karena waktu pembuatan konten bisa dipangkas. Tetapi dari sisi marketing, ini justru merugikan.

Anda barangkali mengaku sebagai “yang paling asyik dalam menjelaskan topik ini”, “yang paling ahli dalam topik ini”, atau “yang paling memahami Gen Z”. Tetapi di era AI, klaim-klaim semacam itu saja sudah tidak mempan untuk menggaet pembeli. Pasalnya dengan prompt yang tepat, siapa saja juga bisa menjadi yang paling asyik dalam menjelaskan suatu topik, yang paling ahli dalam suatu topik, dan yang—terlihat—paling memahami audiensnya.

Lalu apa jadinya jika setiap pengusaha di planet ini punya mindset yang sama? Bah, bisa dibayangkan, seperti kerumunan orang yang berbondong-bondong menyerbu satu danau lantaran kabarnya di sana ikan sangat mudah ditangkap!

Saya tidak mengatakan bahwa peluangnya sudah lenyap sama sekali. Peluangnya masih ada, tetapi kini menuntut investasi lebih besar—investasi waktu, uang, dan tenaga—sebelum ‘ikannya’ tertangkap. Bagi usaha skala kecil, kondisi ini jelas tidak ideal. Secara logis, bisnis kecil tidak mungkin beradu kekuatan dengan pemain besar yang jelas-jelas punya waktu, uang, dan tenaga berlimpah. Sama saja seperti ikut perang yang sejak awal mustahil dimenangkan…

Baiklah, agaknya sudah cukup saya merepet. Jadi, apa yang seharusnya dilakukan usaha kecil? Apa yang seharusnya dilakukan usaha kecil untuk bertahan dan unggul di pasar yang sesak persaingan seperti sekarang—karena AI dan lain-lain?

Jawabannya cukup jelas. Tak ada pilihan lain selain berani menyajikan konten yang super spesifik.

Nyatanya, kebanyakan orang tak tertarik membandingkan siapa yang lebih unggul dari siapa. Yang membuat mereka tertarik adalah siapa yang bisa memberikan solusi paling tepat untuk masalah yang sedang mereka alami. Itu saja. Itulah sebabnya, bisnis kecil mesti berani menyajikan konten super spesifik.

Kembali ke contoh orang yang penasaran cat apa yang paling bagus untuk mengecat galon air minum. Orang ini tak peduli sekalipun Anda tahu belasan atau puluhan merek cat yang bagus untuk plastik. Yang mereka cari hanyalah rekomendasi terbaik, entah itu yang daya tutupnya paling oke, yang paling awet, atau yang paling masuk akal dari sisi harga.

Begitu pula dengan orang-orang seperti saya yang mencari informasi tentang diet untuk tumor payudara. Fakta bahwa mayoritas website kesehatan dan rumah sakit fokus pada kanker payudara bukan alasan untuk mengabaikan penyakit tumor payudara. Plis deh, pasien tumor payudara juga ada dan perlu diperhatikan! (Izinkan saya merepet kembali di sini sebab kekesalan saya beralasan. )

Intinya, menjadi “si yang paling tahu” saja sudah tidak cukup lagi. Suka atau tidak, peran tersebut sudah diambil oleh AI. Maka dari itu, yang dibutuhkan justru adalah menjadi “pemancing” yang piawai di satu danau spesifik—pemancing yang betul-betul mengerti kondisi alam dan karakter ikan di danau tersebut. Jelas lebih mudah menangkap seratus ikan di tempat yang sepi pemancing dibandingkan harus berebut satu ikan di tengah ratusan pemancing. Mungkin pada akhirnya hanya keberuntungan yang akan mendorong ikan-ikan itu untuk menyambar umpan yang Anda lemparkan…

Di sisi lain, manfaat dari menulis konten super spesifik tak hanya dirasakan oleh Anda. Sejatinya, Anda juga membuat calon pembeli merasa dimengerti. Dan calon pembeli yang merasakan hal tersebut cenderung lebih siap untuk bertransaksi dengan Anda—tentu setelah membangun kedekatan melalui beberapa kali “kencan” terlebih dahulu, sebagaimana yang telah saya bahas dalam artikel pentingnya repetition dalam marketing bisnis.

Karena itu, jangan takut membahas topik yang super spesifik. Yang lebih patut ditakuti justru jika Anda gagal memanfaatkan peluang membahas topik itu selagi masih super spesifik—sebelum akhirnya ‘dicaplok’ juga oleh pemain-pemain besar [.]

 

(Gambar diambil dari Freepik.) 

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan 😊

© m o f u m e m o
Maira Gall