.png)
Dalam tulisan sebelumnya, telah saya jelaskan cara riset keyword untuk marketing bisnis skala kecil. Inti pelajarannya adalah menarget keyword consideration, atau lebih ideal lagi action, alih-alih awareness. Tujuannya supaya pemilik usaha tersebut dapat langsung menjangkau pembaca yang sudah berada di fase siap bertransaksi. (Alasan lainnya adalah karena membangun awareness secara online membutuhkan investasi yang tidak sedikit, baik dari sisi waktu maupun anggaran. Jadi, lebih masuk akal dilakukan bila bisnis sudah berada di tahap yang lebih matang.)
Tetapi kemudian di benak saya muncul pertanyaan baru: Apa
kelanjutannya?
Sewaktu membaca kembali tulisan tersebut—sambil menempatkan
diri sebagai pemilik usaha skala kecil—pertanyaan itu muncul dengan sendirinya.
(Barangkali Anda yang kebetulan membaca tulisan saya itu pun punya pertanyaan serupa.)
Karena sebenarnya, riset dan penggunaan keyword yang tepat baru langkah
pertama dari memasarkan bisnis di dunia maya. Langkah berikutnya adalah
mengoptimalkan yang namanya repetition atau pengulangan.
Mari menengok perusahaan air minum dalam kemasan seperti
Aqua dan Le Minerale. Kalau dipikir-pikir, terlepas dari semua yang mereka
gembar-gemborkan di televisi—tentang airnya yang berasal dari sumber paling
murni-lah, atau tentang rasanya yang konon “ada manis-manisnya gitu”-lah—pada
akhirnya toh mereka tak lebih dari sekadar pedagang air minum.
Dan pada dasarnya, air minum juga tetaplah air minum, apa
pun mereknya. Secara logis, satu-satunya fakta yang perlu diketahui konsumen
adalah bahwa air tersebut terbukti aman untuk diminum. Titik. (Atau setidaknya,
itu satu-satunya fakta yang perlu saya ketahui.) Lalu pertanyaannya, mengapa
mereka begitu giat merilis iklan untuk menjual—lagi dan lagi—sesuatu yang
sejatinya hanyalah air?
Akan lebih mudah dipahami bila strategi ini dijalankan oleh
perusahaan otomotif. Kita tahu teknologi di balik pembuatan mobil dan motor
terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tetapi ketika strategi itu
dijalankan oleh perusahaan air minum, muncul tanda tanya besar. Tak ada
ceritanya Aqua atau Le Minerale diam-diam sedang bereksperimen menciptakan air
yang, katakanlah, mampu menahan rasa haus lebih lama. Kalau begitu, mengapa
mereka tetap giat beriklan?
Tak ada alasan lain—semua itu dilakukan demi mengoptimalkan repetition.
Dalam marketing, repetition inilah yang dapat
mengubah status seseorang yang sekadar lewat menjadi pembeli. Anggap saja
prosesnya seperti berkencan. Nyaris tak ada orang yang langsung melangkah ke
pernikahan setelah kencan pertama. Pasalnya, tiap pihak perlu waktu untuk
menimbang “bibit, bebet, bobot” pasangan lewat pertemuan demi pertemuan.
Cara kerja repetition pun sama. Konsumen perlu
mengalami satu, dua, tiga, empat, atau bahkan ratusan kali ‘kencan’ dengan Anda
sampai mereka benar-benar meyakini bahwa ‘menikah’—bertransaksi—dengan Anda
lebih aman atau lebih menguntungkan dibandingkan dengan pihak lain. (Atau yang
dalam pepatah Jawa disebut “witing trisna jalaran saka kulina”—cinta karena
terbiasa.)
Meski begitu, tidak sedikit orang yang masih salah kaprah
memahami apa itu repetition. Di benak mereka, repetition sama
saja dengan memutar lagu yang sama berulang-ulang sampai pita kasetnya aus.
Kenyataannya, anggapan tersebut amat keliru.
Repetition bukan berarti mengatakan hal yang persis
sama ratusan atau ribuan kali—itu tak ada bedanya dengan perilaku orang yang
sudah tidak waras. Dalam konteks marketing, repetition seharusnya
dipahami sebagai upaya menanamkan pesan utama Anda ke pikiran konsumen, tetapi
dengan pendekatan dan bentuk yang beragam.
Saya sadar betapa abstraknya konsep ini untuk dipahami dalam
sekali baca, maka dari itu saya sudah menyiapkan contoh lain untuk mempermudah
pemahamannya. Tetapi untuk contoh kali ini, saya masih akan menggunakan toko
bangunan sebab saya baru saja mengerjakan proyek lain dengan toko bangunan yang
pernah saya ceritakan dalam artikel
ini, hehehehe...
Misalnya, Anda berencana untuk menggarap keyword
“harga Semen Merah Putih”. Anda telah belajar cara menargetkan keyword
yang tepat—atau yang paling berdampak—dan pilihan ini tepat karena keyword
tersebut sifatnya mendorong aksi. Itu sudah benar.
Tetapi ketika saya menyinggung soal repetition, saya
tidak sedang menyarankan Anda untuk membuat belasan artikel yang isinya hanya
laporan naik-turun harga semen itu sepanjang tahun. Yang saya sarankan adalah
mendaur ulang keyword tersebut ke dalam beberapa konten lewat bingkai angle
atau sudut pandang yang beragam.
Sebagai konten inti, buat satu artikel yang secara
khusus menargetkan keyword tersebut. Judulnya bisa dibuat seperti ini:
“Harga Semen Merah Putih Terbaru 2026 Beserta Jenisnya”. Artikel ini menjadi
rujukan utama untuk menjawab pertanyaan pembeli yang sudah siap bertransaksi,
misalnya, “Berapa harga satu sak Semen Merah Putih ukuran 40 kg sekarang?”
Selain daftar harga, isi artikel bisa diperkaya dengan informasi stok yang
tersedia serta cara membeli di toko Anda—apakah melalui WhatsApp, marketplace
seperti Shopee dan Tokopedia, atau dengan datang langsung.
Selanjutnya, pikirkan lebih dalam. Informasi apa lagi yang
ingin diketahui pembeli yang masih berkaitan dengan harga semen tersebut? Nah,
hal-hal itu bisa diolah menjadi konten pendukung, yang semuanya nanti
bertujuan untuk mengarahkan pembaca kembali ke konten inti tadi. Inilah yang
disebut membangun konten pilar.
Konten pendukung pertama bisa mengangkat topik perbandingan
harga dengan judul “Perbandingan Harga Semen Merah Putih 2026 vs Merek Lain”.
Di sini terlihat jelas pergeseran angle yang digunakan. Artikel ini
membandingkan Semen Merah Putih dengan dua atau tiga merek lain—Semen Padang,
Tiga Roda, Dynamix, dan sejenisnya—sekaligus mengulas selisih harga serta kapan
Semen Merah Putih lebih direkomendasikan.
Variasi kedua adalah framing berdasarkan kebutuhan
penggunaan. Anda bisa menulis artikel dengan judul “Harga Semen Merah Putih
2026 untuk Bangunan Rumah Tipe 36”. Informasi harga yang disampaikan tetap
sama, tetapi kini sudut pandangnya berbeda sebab dikaitkan langsung dengan
proyek spesifik, yakni membangun rumah—atau bisa juga merenovasi ruangan
tertentu dalam rumah dan lain-lain. Dengan pendekatan ini, pembaca pun lebih
mudah membayangkan, “Oh, ternyata harga segitu bisa bertambah menjadi sekian
jika saya membeli dalam jumlah tertentu,” yang kemudian lebih mudah pula bagi
mereka untuk menghitung dan merencanakan budget.
Sudut pandang lain yang layak dicoba adalah objection
handling, contohnya lewat artikel “Semen Merah Putih vs Semen Padang: Lebih
Hemat Pilih yang Mana?”. Alih-alih sekadar membandingkan harga kedua merek,
artikel semacam ini langsung menjelaskan efisiensi penggunaan, mulai dari
berapa luas cakupan per sak, seberapa minim sisa material, hingga dampaknya
pada biaya total. Dan seperti artikel-artikel sebelumnya, artikel ini juga terhubung
dengan konten inti.
Jika dilihat dari posisi Anda, menulis artikel-artikel tadi
tak ada ubahnya dengan mengulang topik yang sama terus-menerus. Memang betul,
benang merahnya masih harga Semen Merah Putih. Namun ingat satu prinsip penting
dalam berjualan: jangan melihat dari kacamata sendiri, lihatlah dari
kacamata calon pembeli. Percayalah, bagi mereka, rangkaian artikel itu
sama sekali tak seperti memutar kaset lama yang itu-itu saja. Justru
sebaliknya, artikel-artikel itu adalah panduan lengkap yang menuntun mereka
setahap demi setahap hingga akhirnya yakin untuk membeli produk yang mereka
butuhkan dari Anda.
Selain menerapkan repetition lewat berbagai
pendekatan, Anda juga bisa menerapkannya dalam beragam bentuk. (Anda masih
ingat? Sebagaimana yang sudah saya sebutkan di awal, repetition adalah
upaya menanamkan pesan utama Anda ke pikiran konsumen dengan pendekatan
dan bentuk yang beragam.) Malahan, repetition lintas format
justru lebih disarankan, apalagi bagi usaha skala kecil.
Repetition lintas format lebih disarankan sebab mengikuti
pola perilaku pembeli yang tidak lagi terpaku pada satu platform.
Maksudnya, tak ada jaminan bahwa calon pembeli akan selalu datang dari website
Anda. Bisa saja mereka tahu soal Anda setelah mencari toko bangunan terdekat di
Google Maps, atau tanpa sengaja menemukan akun media sosial Anda. Apabila
konten inti dan pendukung Anda sajikan pula di berbagai platform—dan dengan
format berbeda—pesan utama Anda akan tersampaikan secara konsisten, terlepas
dari jalur mana pembeli menemukan Anda. (Keuntungan lainnya, Anda tak perlu selalu
memeras otak demi ide baru untuk diunggah di masing-masing platform yang
berbeda itu. Daripada memulai dari nol, cukup daur ulang artikel yang sudah
ada. Jauh lebih hemat waktu dan tenaga!)
***
Repetition ini memperjelas arah langkah Anda setelah menemukan satu keyword yang tepat. Dari titik itu, Anda tidak lagi memilih sembarang keyword consideration atau action, melainkan memilih keyword consideration atau action yang saling terhubung.
Karena itulah, repetition juga bagus untuk yang namanya link-building
atau membangun internal link, tetapi biarlah topik itu saya bahas di
kesempatan lain…
Untuk sekarang, Anda sudah tahu pentingnya repetition dalam marketing bisnis. Maka, tak perlu lagi berharap satu artikel viral bisa langsung mendatangkan pembeli yang Anda cari-cari.
Ingat kembali analogi
kencan tadi, dan terus lakukan repetition itu sampai marketing Anda
benar-benar membuahkan hasil—sampai seseorang yang sekadar lewat itu berubah menjadi seseorang
yang yakin ‘menikah’ dengan Anda karena lebih aman atau lebih menguntungkan
dibandingkan dengan pihak lain [.]
(Gambar diambil dari Freepik.)
brand consciousness dan dekat di hati penguna memang sangat penting!
BalasHapusExactly! That's why brands and companies really need to do what they can to stay visible and show up for their customers.
HapusTerima kasih atas perkongsian ini. Ia satu peringatan buat diri saya juga. Sememangnya pengulangan sangat penting dalam memupuk keyakinan pelanggan.
BalasHapusYaa intinya pengulangan dalam iklan bukanlah sekadar tebakan tanpa arah atau taktik sembarangan. Sebaliknya, hal itu berakar pada prinsip-prinsip ilmiah yang mengatur kognisi dan persepsi manusia terhadap pasar bisnis.
BalasHapusDengan kata lain, semakin sering kita terpapar suatu stimulus, semakin familiar dan nyaman stimulus tersebut, sehingga menimbulkan bias positif terhadapnya. Para pengiklan memanfaatkan fenomena psikologis ini untuk keuntungan mereka dengan secara strategis mengulang pesan merek, visual, dan elemen bagi pemasaran lainnya.😊😊
Betul sekali, Mas. Wah, penjelasannya lebih pro nih ☺ Mirip marketer betulan, atau jangan-jangan memang marketer?
Hapus