
Kalau dipikir-pikir, sudah cukup lama saya meninggalkan bangku sekolah. (Coba saya hitung dulu. Satu, dua… Yah, kira-kira sudah 11 tahun—dan baru sekarang saya tersadar, alamak, ternyata saya memang sudah tua! π€¦π»♀️) Akibatnya, kepekaan saya terhadap berlalunya waktu kini sudah tidak setajam dulu. Hari demi hari pun mengalir begitu saja…
Untungnya,
ada momen-momen tertentu yang membantu saya menebak ini hari apa, atau sejauh
mana bulan ini sudah berjalan. Salah satunya adalah periode masuk sekolah.
Tadi pagi,
ketika saya keluar rumah sekitar pukul 6.45 untuk berbelanja, saya berpapasan
dengan segerombolan anak berseragam putih-merah dan putih-biru yang terburu-buru
menggenjot sepeda masing-masing. Pemandangan itu langsung memberi sinyal ke
otak saya bahwa semester baru telah dimulai. (Tetapi mereka tidak menunjukkan
ciri khas murid baru—seragamnya tidak kedodoran, kemejanya pun tidak putih kinclong—jadi
saya simpulkan bahwa hari ini menandai dimulainya semester genap, bukan
dimulainya tahun ajaran baru.)
Persiapan
memasuki paruh kedua tahun ajaran jelas tidak sesibuk masa masuk sekolah baru
atau momen naik kelas. Meski begitu, tetap ada sejumlah ‘ritual’ yang tak bisa
begitu saja dilewatkan oleh para siswa—sekalipun sisa-sisa euforia libur dua
minggu lalu masih membekas.
Salah satu
ritual itu adalah menyiapkan stok buku tulis baru. Di semester kedua sebetulnya
tak perlu sampai membeli dua-tiga pak buku tulis baru. Tetapi ada pengecualian
untuk beberapa mata pelajaran yang dikenal ‘rakus’ halaman. Pelajaran-pelajaran
itu umumnya menuntut perhitungan panjang seperti matematika, fisika, kimia,
ekonomi, dan akuntansi, di mana satu soal saja bisa memakan dua halaman atau
bahkan lebih. Karena itu, orang tua tetap harus menyiapkan dan menyimpan satu
pak buku tulis baru untuk semester genap.
Namun
demikian, buku lama pun tidak serta-merta ‘dipensiunkan’. Saya menandai
peralihan semester itu dengan satu halaman kosong, entah dengan melipatnya
menjadi segitiga kecil atau menuliskan “SEMESTER 2” menggunakan stabilo
warna-warni.
Pasalnya,
membuang buku-buku itu justru tergolong berisiko. Sebab mereka masih diperlukan
untuk mengulang seluruh materi menjelang Ujian Kenaikan Kelas (UKK)—atau
setidaknya untuk dipinjamkan kepada teman yang ceroboh lantaran sudah terlanjur
membuang bukunya sendiri dan tak lagi punya ingatan akan pelajaran di awal
tahun.
Jika buku
lama itu sudah ‘diperas habis’ sampai benar-benar tak bersisa, solusinya adalah
menstaples buku baru di sampul belakangnya. Memang jadi lebih tebal dan kurang
nyaman—sehingga lebih bijak untuk memakai buku tulis Big Boss 100 lembar sejak
awal—tetapi cara ini ampuh karena kecil kemungkinan buku-buku itu tercecer atau
hilang sebelum masa UKK tiba.
Adapun
siswa yang cenderung rapi biasanya tak melewatkan pula urusan mengganti sampul
buku. Bapak sayalah yang bertugas memakaikan plastik transparan tebal—yang
dijual dalam bentuk gulungan di Togamas—untuk semua buku catatan saya. Saya
senang melihat buku-buku saya tampak mengilap setelah diberi ‘baju’.
Ketika
beranjak ke SMA, saya mulai meniru teman-teman yang memanfaatkan rubrik
“DetEksi”-nya Jawa Pos sebagai sampul, sebab halaman-halamannya penuh gambar
model yang modis. Papa yang kebetulan melihat itu tidak tahan untuk tidak
berkomentar—katanya, kertas koran tak mungkin awet. Alhasil, Papa pun
bersikeras membungkus ulang buku-buku saya dengan plastik tebal. Dan jadilah
buku-buku itu mengenakan dua lapis ‘baju’. π
Ritual
berikutnya masih seputar buku, hanya saja melibatkan buku lembar kerja siswa
(LKS). Entah apakah praktik seperti ini lazim di sekolah lain, tetapi di SMA
saya, ritme penuntasannya agak nyeleneh (tidak biasa).
Jadi
begini, katakanlah baru saja kami memulai bab pertama, namun di akhir pelajaran
itu guru sudah meminta kami menyelesaikan seluruh latihan hingga bab terakhir
sebelum Ujian Tengah Semester (UTS). Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya,
mengapa kami harus mengerjakan soal-soal dari bab yang bahkan belum diajarkan. (Ini
murni dugaan saya, tetapi bisa jadi para guru dikejar target pengumpulan nilai
rapor dan menyadari waktu akan habis oleh ujian, liburan, serta agenda lain, sehingga
lahirlah solusi ‘brilian’ itu.)
Itulah
sebabnya, tak lama sejak semester baru berjalan saya sudah disibukkan dengan tugas menuntaskan seabrek soal dari
berbagai LKS. Saya cukup beruntung masih menggunakan Kurikulum 2013, yang
artinya selama saya membaca ringkasan materi—yang versi ringkasnya tertera di
awal LKS—saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan relatif
mudah. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan bertipe HOTS yang harus saya
khawatirkan.
Tetapi
bukan berarti jawaban saya selalu benar. Ketika LKS dikembalikan oleh guru
beberapa bulan kemudian, saya dapati nilai sempurna jarang sekali dibubuhkan di
sana. Saya sendiri tak tahu apa sebenarnya yang salah…
Tak kalah
penting adalah ritual potong rambut. Meski berat rasanya harus mengucapkan
selamat tinggal pada gaya rambut kece yang menemani hampir dua minggu masa
libur, mempertahankannya malah hanya akan mengundang masalah. Di SMA saya dulu,
ada guru matematika yang terkenal sangat patuh aturan. Dan beliau kebetulan
juga menjabat sebagai anggota Komisi Kedisiplinan sekolah. Pak Khafid
bertanggung jawab memeriksa kerapian siswa, mulai dari potongan rambut hingga
cara berpakaian. Khususnya di hari pertama masuk sekolah, beliau makin tegas menindak
para siswa.
Demi
menghindari razia rambut gondrong, para murid—terutama laki-laki—rela datang
lebih awal pada hari itu, berharap bisa lolos sebelum Pak Khafid tiba. Mirisnya,
siasat ini hanya efektif selama kurang lebih setengah jam. Begitu upacara
bendera hendak dimulai dan semua siswa harus beranjak ke lapangan, mau tak mau
mereka akan berpapasan dengan Pak Khafid—yang kala itu sudah berpindah dari
gerbang luar ke gerbang dalam untuk putaran kedua patroli paginya.
Dan
begitulah, gaya rambut andalan pun mesti direlakan, berganti dengan potongan
super pendek ala anggota Paskibraka. Pada akhirnya, adalah bijak memotong
rambut sebelum semester dimulai. Lebih baik kehilangan sedikit rambut daripada
harus merelakan jauh lebih banyak, hahahaha…
Ada lagi
satu ritual yang ironisnya paling sering luput dari ingatan: menandatangani
rapor. Saya hampir selalu mengernyitkan dahi setiap kali mendengar ada teman
sekelas yang lupa membawa rapornya di hari pertama sekolah. Alasan yang
dikemukakan bermacam-macam.
Ada yang
berdalih tak sempat bertemu orang tuanya selama liburan. Saya teringat, yang menggunakan
alasan itu adalah siswa pindahan yang kabarnya merupakan anak seorang anggota
DPRD dari sebuah kota di Jawa Barat. Kalau begitu, lumayan masuk akal jika dia
sulit menemui ayahnya demi meminta tanda tangan rapor. Lantas, bagaimana dengan
ibunya? Keluarga yang rumit, pikir saya.
Sedangkan alasan
lainnya adalah kalimat klasik “Saya lupa, Bu/Pak.” π€ Mendengarnya, wali kelas sontak akan memandang
heran dan berkata, “Kalian ‘kan dikasih libur dua minggu, kok bisa lupa?!”
Bagi saya, kelupaan
itu justru lahir karena waktu libur yang panjang tersebut. Sama halnya dengan
kebiasaan murid yang sering telat walau rumahnya berdekatan dengan sekolah. Karena
merasa punya banyak kelonggaran, mereka jadi menyepelekan, sampai akhirnya baru
tersadar bahwa waktu mereka sudah nyaris habis…
Maka,
sebaiknya tanda tangan diminta segera setelah orang tua mengecek rapor. Tentu saja
dengan catatan suasana hati mereka sedang mendukung. Bila tidak—apalagi jika penyebabnya
lantaran melihat nilai yang terpampang kurang memuaskan—tak ada salahnya
menunda satu atau dua hari. Dengan sedikit jeda, besar harapan tanda tangan
bisa didapatkan tanpa bonus omelan, sehingga tidak perlu di kemudian hari
bersembunyi di balik alasan klasik nan konyol seperti “tidak sempat bertemu
orang tua” atau “lupa”. Nah, dengan begitu setidaknya para siswa bisa
menyelamatkan guru-guru mereka dari kejenuhan mendengar alasan daur ulang
setiap awal semester [.]
(Gambar diambil dari Wikimedia Commons.)
Ritual sekolah Sd.. Tentunya beda dengan sekolah Sd zaman gue, yang serba jadul.π€£π€£
BalasHapusMalah saya terkadang kalau ngantar anak saya yang masih Sd suka berkhayal ngebayangin seandainya saya berkumpul lagi, atau sekolah Sd lagi kaya apa jadinya.π€£π€£
Karena anak saya belajar sudah jarang pakai buku tetapi Laptop, meski terkadang masih ada buku cuma jelas beda dengan jaman saya yang semuanya serba buku.ππ
Kalau masalah rambut sih Sd paling sering saya kena tegur karena paling takut dicukur pada saat itu.
Berbanding terbalik sama zaman Smp atau Stm yang lebih suka rambut pendek atau cepak, karena rambut ikal seandainya panjang juga percuma bagi cowok terlebih kalau jelek orangnya.π€£π€£
Meski setiap orang dari mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi berbeda-beda dari situ mungkin awal dari menuju kedewasaan & kesuksesan.ππ
Sambil membaca artikel ini, kok saya jadi ingat artikel " ritual naik angkot " yang kemarin, ya,hehehe.......
BalasHapusWuuiih kang nata baru kelihatan batang hidungnya..Sehat kang.π€£π€£
HapusMbak sudah lama meninggalkan bangku sekolah tetapi masih ingat detail²nya saat dibangku sekolah, lah saya udah hampir lupa kenangan-kenangan itu kecuali razia rambut sih (ciut hati mengingatnya)
BalasHapusDulu kalau saya, satu pelajaran bukunya bosa tiga buah. Itu pun tebal tebal se jempol orang dewasa. Belum lagi buku bacaanya. Pokoknya tas nya berat sekali.
BalasHapusMasuk sekolah setelah liburan, potong rambut sudah pasti kalu saya mah.
Elementary school for me was in the 1960s. I am 69. Yes, it was very old fashioned and strict.
BalasHapusThank you so much for sharing, and Happy New Year to you from Montreal, Canada ❤️ π π¨π¦