
Sudah dua bulan berlalu sejak terakhir kali saya memposting “Bacaan Berkesan” 🤦♀️
Bukan berarti saya mandek membaca, cuma belakangan ini saya lebih banyak
tenggelam dalam karya fiksi klasik seperti The Strange Case of Dr. Jekyll
and Mr. Hyde, The Great Gatsby, dan sejenisnya. Buku-buku ini jelas
termasuk “Bacaan Berkesan,” tetapi sulit membagikan kutipan dari buku-buku itu.
Bahaya kalau sampai spoiler... 😓
Alhasil, saya tengok kembali salah satu buku karya Arnold
Bennett yang pernah saya baca dulu. Untungnya, ada satu bab yang mengena untuk
diposting. Bahasan tentang menulis buku harian ini mengena sebab—seperti blogging—saya
pun belum mampu melakukannya secara konsisten 😭
Tulisan ini, sebagaimana tulisan Bennett yang lain, terasa
seperti tamparan keras yang membuat saya banyak merenung. Jika Anda juga sedang
berjuang untuk rajin menulis buku harian, silakan baca yang satu ini.
Sedikit wanti-wanti, ini bukan bacaan singkat—panjangnya lebih
dari 2.000 kata! Jadi siapkan posisi paling nyaman untuk menuntaskannya
sampai akhir 🤭
* * *
Kenyataannya, hampir semua orang—bila mau jujur pada diri
sendiri—menyimpan ketakutan terhadap kegiatan menulis. Bukan sembarang kegiatan
menulis, melainkan kegiatan menuliskan sesuatu yang sungguh-sungguh dan apa
adanya.
Ada pula yang sampai memusuhinya, seakan-akan menulis bagai
menanam bom berkekuatan besar yang bisa meledak sewaktu-waktu dan
meluluhlantakkan diri mereka. (Inilah juga salah satu sebab mengapa karya
sastra realistis—yang didasarkan pada kenyataan—jarang laku di pasaran.)
Ketakutan itu pada dasarnya seragam antara satu orang dengan
orang lainnya. Yang membedakan hanyalah seberapa besar tekanannya dirasakan
oleh masing-masing orang.
Dan bila ada yang bersikeras mengaku sebaliknya—bila Anda bersikeras
mengaku sebaliknya—silakan uji klaim itu lewat percobaan berikut.
Cobalah mengingat satu perbuatan atau pikiran yang selama
ini Anda pendam karena rasa malu. Bukan hal-hal ekstrem seperti menilep uang
apalagi sampai membunuh orang! Apa saja, hal-hal sekecil apa pun juga bisa,
asal membuat Anda merasa malu dan gelisah, serta tak pernah Anda ungkapkan
kepada orang lain. (Kita semua—saya maupun Anda—tentu menyimpan rahasia semacam
ini jauh di dalam diri kita.)
Sekarang, catatlah hal tersebut. Tulis dengan gamblang di
atas kertas.
Kemungkinan besar, Anda enggan melakukannya. Besar
kemungkinan pula Anda akan mencari-cari alasan untuk menunda atau menghindari
menuliskannya sama sekali.
Anda mungkin berkata, “Tapi bagaimana kalau ada orang yang
kebetulan membacanya?”
Jawaban saya sederhana, “Tuliskan saja, lalu kunci
rapat-rapat di dalam brankas.”
Kemudian Anda barangkali menyahut lagi, “Masalahnya, kunci
brankas itu bisa hilang, lalu seseorang menemukannya dan membuka isinya.
Lagipula, selalu ada kemungkinan saya mati mendadak!”
Saya akan membalas, “Jika Anda sudah mati, Anda tak perlu
lagi memusingkan hal itu.”
Dan Anda mungkin menjawab, “Dari mana Anda tahu bahwa ketika
saya mati, saya tak usah peduli bila rahasia itu terbongkar?”
Baiklah, saya terima keberatan Anda. Tetapi saya tetap akan
buktikan bahwa sumber ketakutan Anda terhadap menulis bukan karena rasa
takut akan ketahuan. Syaratnya, percobaan ini harus dilakukan di bawah
kondisi yang sangat ketat.
Pertama, pastikan rumah benar-benar kosong. Anda harus
sendirian di rumah. Kunci rapat pintu depan dan pintu belakang. Pergilah ke
kamar Anda, kunci pintunya, lalu ganjal dengan perabot supaya tak ada seorang
pun yang bisa masuk tiba-tiba.
Kemudian, nyalakan perapian. Posisikan meja tulis dekat api.
Tata segalanya sehingga, jika muncul tanda bahaya sekecil apa pun, Anda bisa
segera melemparkan tulisan Anda ke dalam api dalam satu gerakan cepat.
Sekarang, mulailah menulis tentang hal yang membuat Anda
malu.
Secara teknis, Anda sudah sepenuhnya aman. Namun demikian,
bisa dipastikan Anda akan tetap ragu untuk menulis.
Bahkan sebelum menulis terlalu jauh, Anda mungkin akan
mengaburkan kenyataan atau menghapus detail penting. Menulis dengan apa adanya
akan terasa amat berat. Anda boleh jadi tidak sepenuhnya jujur, dan kemungkinan
besar memang begitu. (Nyatanya, hampir semua orang gagal melakukannya…)
Begitu tulisan selesai dan kertas itu berada di tangan, Anda
akan tersentak gugup jika perabot yang digeser menimbulkan bunyi di dekat
pintu. Anda akan membaca kembali tulisan itu dengan perasaan gelisah dan
tertekan. Akhirnya, Anda akan membuangnya ke dalam api dan menatapnya terbakar
sambil diliputi rasa lega yang mendalam.
Dari mana datangnya rasa gelisah itu? Anda toh tidak mungkin
tertangkap basah ketika menulis!
Selain itu, apa yang tertulis di kertas bukanlah hal baru.
Maksudnya, semuanya sudah Anda sadari dan pahami sebelumnya—sebab tak seorang
pun dapat menuliskan sesuatu yang belum disadari dan dipahami sebelumnya.
Bisa jadi masalah itu sudah lama menghuni pikiran Anda,
dipikirkan berulang kali selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai
bertahun-tahun, lengkap dengan setiap rinciannya, tetapi selama itu pula Anda
tidak sedikit pun terganggu karenanya!
Namun begitu masalah itu dituangkan ke dalam tulisan, ia
mendadak menjadi amat mengganggu dan tak tertahankan. Begitu mengusik
sampai-sampai Anda tak dapat beristirahat dengan tenang sebelum kertas itu
dimusnahkan!
Anda masih orang yang sama, sebelum dan sesudah menulis.
Tidak ada yang berubah, dan tidak ada kesalahan baru yang Anda perbuat. Meski
begitu, kini muncul rasa malu yang baru. Mengapa demikian?
Penjelasan paling sederhana adalah karena kejujuran dalam
tulisan berdaya magis sekaligus menggentarkan. Daya itu terkait dengan
penglihatan. Ya, Anda melihat tindakan atau pikiran Anda di masa lalu, tetapi
tidak seperti adegan dalam film yang diputar perlahan—untungnya tidak. Namun
tetap saja, Anda melihat sesuatu yang berhubungan dengannya…
Gagasan ini saya tujukan bagi orang-orang yang dari tahun ke
tahun selalu bertekad, “Saya akan menulis buku harian yang mencerminkan diri
saya sebagaimana adanya!”
Anda mungkin memang menulis buku harian, tetapi hampir pasti
isinya tidak sepenuhnya benar. Anda sudah tergolong beruntung—atau luar biasa
berbakat—jika buku harian itu tidak sarat dengan kebohongan.
Barangkali Anda akan menyanggah dan berkata bahwa Anda
dikenal sebagai pribadi yang jujur. Saya tidak meragukan itu.
Tetapi yang saya maksud dengan kebohongan bukanlah
kebohongan konyol seperti menulis “Hari ini hujan deras,” padahal kenyataannya
cuacanya cerah. Saya yakin Anda tidak akan melakukan kebohongan sekonyol itu.
Di sisi lain, saya juga yakin bahwa jika sepasang
suami-istri—yang sama-sama jujur seperti Anda—bertengkar lalu masing-masing
menuliskannya di buku harian, kisah mereka tidak akan saling cocok, dan
kebenaran yang utuh tidak terdapat pada salah satunya.
Ada orang yang mulai menulis buku harian dengan santai,
seperti sewaktu mencoba hobi baru seperti bermain golf, mengoleksi perangko,
atau mencoba suatu terapi kesehatan. Padahal, menulis buku harian patut
disikapi dengan serius dan dilakukan dengan kesadaran penuh akan tantangan
yang menyertainya.
Hakikat dari menulis buku harian adalah menuliskan
kebenaran, sebab apalah artinya menyimpan buku harian yang berisi kebohongan?
Masalahnya, menuliskan kebenaran adalah salah satu hal
tersulit untuk dilakukan. Menyentuh sebagian kecil darinya pun bukan
perkara mudah—mampu menahan diri untuk tidak berbohong saja sudah merupakan
pencapaian besar…
Setelah tadi saya membuat Anda berkecil hati, sekarang saya
ingin memberi Anda dorongan. Banyak orang yang berniat menulis buku harian—dan
hemat saya ini memang perlu dibiasakan—justru mengurungkan niat tersebut
lantaran merasa tidak yakin pada diri sendiri.
Katanya, “Kehidupan saya biasa saja, sama sekali tidak
menarik.” Pertanyaan saya sederhana, “Tidak menarik bagi siapa? Bagi
orang lain, atau bagi Anda?”
Hidup itu hanya perlu menarik bagi orang yang
menjalaninya. Keinginan Anda untuk menulis buku harian sendiri sudah
menjadi bukti bahwa hidup Anda menarik bagi Anda. Jika tidak, tentu Anda tidak
akan terdorong untuk mencatatnya, bukan?
Penulis buku harian paling terkenal justru tidak hidup dalam
rangkaian peristiwa yang menegangkan atau spektakuler. Sekitar 95% The Diary
of Samuel Pepys dipenuhi kejadian sederhana dan keseharian yang
biasa—hal-hal yang juga kita semua alami.
Anda bisa membayangkan, jika Pepys membaca ulang tulisannya
keesokan harinya, besar kemungkinan ia menganggap isinya hambar. Ia jelas tidak
tahu bahwa catatan-catatan itu kelak diakui sebagai salah satu karya terbesar
dalam sastra Inggris…
(Catatan: The Diary of
Samuel Pepys adalah buku harian yang terdiri dari sekitar 1,25 juta kata
yang ditulis oleh Samuel Pepys—pejabat angkatan laut abad ke-17—selama periode
1660–1669. Buku harian ini memberi gambaran mendalam tentang kehidupan London
pada era Restorasi, termasuk laporan langsung mengenai Wabah Besar 1665,
Kebakaran Besar London 1666, serta kehidupan sehari-hari penulisnya, mulai dari
kehidupan rumah tangga hingga kariernya.)
Buku harian adalah kebalikan dari novel, karena seiring
berjalannya waktu, nilainya justru semakin bertambah, bukannya berkurang.
Setelah waktu yang cukup lama berlalu, setiap baris dalam buku harian
memperoleh daya tariknya sendiri, sehingga penulisnya tidak mungkin dianggap
membosankan. Hal ini serupa dengan sosok jenaka seperti Sydney Smith yang tak
pernah gagal menghibur.
(Catatan: Sydney Smith
adalah pendeta Gereja Anglikan Inggris, penulis esai, dan sosok ternama pada
penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19. Ia masyhur di zamannya berkat
kecerdasan humor dan kepiawaian berbicara.)
Suatu ketika, saat Smith meminta seorang bernama Helen untuk
‘mengoperkan’ garam, tawa di meja makan langsung pecah, meskipun sulit
menjelaskan sebabnya. Begitu pula halnya dengan buku harian. Bila Smith
menulis, “Tadi saya meminta Helen ‘mengoperkan’ garam,” maka setelah tiga
tahun, kalimat itu akan tampak ganjil namun menarik bagi penulisnya.
Setelah 30 tahun berlalu, keluarganya akan membaca catatan
itu dengan rasa ingin tahu yang besar, tertarik pada kenyataan bahwa pada hari
tertentu Smith pernah meminta seorang bernama Helen ‘mengoperkan’ garam.
Tiga ratus tahun kemudian, kalimat itu akan dibaca oleh
suatu bangsa dengan penuh rasa penasaran, sementara para kritikus akan sibuk
merangkai teori tentang si Helen ini dan garam itu, sampai-sampai mencari
nafkah dengan menerbitkan edisi-edisi beranotasi.
Dan jika buku harian tersebut baru ditemukan setelah 3.000
tahun, seluruh dunia akan dibuat heboh oleh fakta sederhana itu! Kabar akan
menyebar luas, disusul perdebatan para ahli tentang apakah Helen benar-benar ‘mengoperkan’
garam itu atau tidak.
Siapa pun yang berniat menulis buku harian namun merasa
bimbang patut mengingat gagasan penting ini.
Barangkali Anda akan berkata, “Mengapa pula saya harus
memikirkan generasi mendatang? Saya tidak menulis buku harian untuk mereka!”
Itu boleh jadi benar bagi Anda, tetapi tidak berlaku bagi semua orang.
Faktanya, ada orang-orang yang sangat peduli dengan generasi mendatang.
Andai mereka percaya bahwa buku hariannya akan dibaca 300
tahun kelak—atau hanya 100 tahun kemudian—mereka akan mulai menulis besok dan
tidak berhenti hingga hari terakhir hidup mereka.
Memang, ada orang-orang seperti ini yang tergolong istimewa.
(Dan harus saya akui, dalam hal ini saya sependapat dengan Anda. Memikirkan
tentang generasi mendatang tidak membuat saya bersemangat...)
Oleh sebab itu, satu-satunya alasan yang benar untuk
mulai menulis buku harian adalah karena Anda senang melakukannya. Dan
satu-satunya alasan yang benar untuk terus menulis buku harian adalah karena
Anda senang melanjutkannya.
Ada kemungkinan Anda memperoleh manfaat tertentu dari
kegiatan ini, tetapi bukan itu inti persoalannya—walaupun sama berartinya.
Anda juga hampir pasti akan menikmati membacanya kembali di
kemudian hari, tetapi itu pun bukan alasan utamanya—walaupun tak kalah penting.
Keberadaan buku harian seharusnya cukup dibenarkan oleh
kenikmatan menulisnya. Jika menulis itu sendiri tidak memberi kepuasan
batin, maka tak perlulah buku harian itu ditulis…
Tetapi waspadalah dengan kata “menulis.” Sebagaimana ada
orang yang merasa tegang ketika memasuki ruang tamu atau sebuah restoran, ada
pula yang tegang begitu memegang pena.
Seperti yang tadi saya jelaskan, banyak orang yang merasa
gelisah oleh pengaruh psikologis dari kata-kata tertulis. Namun selain itu,
banyak yang juga takut pada kegiatan menulis itu sendiri.
Orang-orang ini memandang dengan rasa ngeri sekaligus kagum
sesuatu yang disebut “gaya penulisan yang benar.” Secara keliru, mereka mengira
“menulis ≠ berbicara,” seakan-akan menulis adalah keterampilan misterius.
Padahal, orang yang mampu mengatakan atau memikirkan hal-hal menarik sejatinya
juga mampu menuliskannya dengan menarik.
Siapa pun yang sanggup dipahami ketika berbicara, pada
dasarnya sanggup pula menyampaikan maksudnya lewat tulisan, asalkan menggunakan
pendekatan yang tepat.
Saya mengenal beberapa orang—khususnya anak muda—yang mampu
berbicara tentang diri mereka sendiri dengan sangat memikat selama berjam-jam,
namun tak sanggup mengumpulkan ide untuk menulis bahkan sepucuk surat singkat!
Keluhan mereka sama, bahwa mereka tidak tahu harus menulis apa.
Dan keluhan itu benar adanya. Mereka buntu karena mencoba
memikirkan sesuatu yang layak ditulis, berangkat dari anggapan keliru bahwa “menulis
≠ berbicara.” Secara wujud, menulis memang berbeda dari berbicara, tetapi tidak
harus selalu demikian.
Penulis pemula mengira ucapan harus dirombak atau diolah
ulang ketika hendak dituliskan. Mereka memikirkan sesuatu dalam bentuk lisan,
lalu berhenti dan bertanya, “Kalau saya mengatakannya, saya akan bilang
begini—tetapi bagaimana cara menuliskannya?”
Akibatnya, mereka mulai mengutak-atik kalimat, cemas soal
tata bahasa, susunan kalimat, sampai ejaan. Padahal, pada masa keemasan sastra
Inggris, pemahaman tentang tata bahasa dan ejaan masih lemah, dan para
penulisnya sendiri sering kali tidak tepat dalam keduanya.
Sekarang pun, banyak penulis besar yang tidak sepenuhnya
konsisten dalam tata bahasa atau ejaan. Adapun soal struktur, kalimat yang
mengalir secara alami di lidah Anda hampir selalu lebih baik daripada kalimat
yang Anda paksa muncul di atas kertas.
Bila tata bahasa yang Anda miliki sudah memadai untuk
berbicara dengan jelas, itu berarti tata bahasa Anda sudah memadai pula untuk
menulis dengan jelas. Tidak ada hal lain yang perlu Anda cemaskan. Justru,
kecemasan semacam itu sebaiknya Anda hindari sama sekali.
Toh buku harian bukan bentuk karya tulis formal. Maka,
tulislah mengikuti alur pikiran dan gaya bicara Anda sendiri, dan mungkin tanpa
disadari Anda akan menghasilkan karya sastra! Tetapi jika selama menulis Anda
sibuk memikirkan soal “sastra,” maka sastra itu sendiri hampir pasti tidak akan
pernah lahir…
Ini bukan berarti Anda boleh asal-asalan menulis! Tidak
demikian. Buku harian yang baik tidak lahir dengan cara seperti itu!
Walaupun Anda boleh—dan sebaiknya harus—menyingkirkan
kecemasan tentang “komposisi sastra,” Anda tetap harus memegang satu tujuan
utama, yaitu menuangkan pikiran Anda ke atas kertas dengan sejelas-jelasnya.
Dalam percakapan, Anda dengan mudah mampu menemukan
kata-kata yang tepat. Tetapi dalam tulisan, dibutuhkan usaha untuk membayangkan
seperti apa kata-kata yang tepat itu.
Ingatan Anda pun harus digunakan dengan hati-hati dan jujur
untuk mengingat adegan atau peristiwa yang sedang ditulis.
Jika Anda ceroboh, bagian yang paling menarik bisa saja
terlewat. Sebaliknya, bila Anda teliti dan tulus, tulisan itu akan menjadi sehidup
dan semenarik mungkin.
Terakhir, ada satu hal lagi yang harus Anda taklukkan, yaitu
keengganan untuk mengerjakan pekerjaan berat. Tidaklah aneh jika manusia tidak
menyukai pekerjaan yang sesungguhnya digemari. (Saya sendiri—setiap hari—selalu
merasa berat untuk memulai suatu pekerjaan.)
Di penghujung hari, Anda menyadari ada hal-hal yang pantas
dicatat, dan pengalaman itu masih terbayang jelas di kepala. Namun tetap saja
Anda enggan membuka buku harian, dan setelah membukanya pun, Anda masih saja
keberatan untuk menulisnya secara sungguh-sungguh. Godaan untuk menulis
asal-asalan pun muncul.
Melawan dorongan untuk menulis serampangan dan
setengah-setengah memerlukan usaha yang terus-menerus. Menulis dan melanjutkan
buku harian seharusnya menyenangkan, tetapi jika harus dilakukan dengan benar,
maka kegiatan ini pun mau tidak mau berubah menjadi sebuah pekerjaan, seperti
hobi-hobi lain.
Lebih dari 21 tahun sudah saya menulis buku harian, jadi
saya tahu sedikit banyak soal ini. Saya juga sangat mengenal penyesalan—yang
sayangnya tak berguna—yang muncul akibat kelalaian. Dalam menulis buku harian,
kelalaian tidak dapat ditebus. Sekali saja suatu peristiwa terlewat, maka ia
akan hilang selamanya [.]
(Oleh Arnold Bennett, alih bahasa oleh Ristra Russilahiba. Gambar diambil dari Freepik.)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan 😊