
Selama hampir enam tahun terakhir, saya telah dipercaya menulis artikel untuk bisnis dari berbagai skala—mulai dari toko bangunan rumahan sampai institusi kesehatan berskala nasional. Dan selama rentang waktu itu pula, saya mendapati bahwa sebagian besar pemilik bisnis itu masih keliru dalam menentukan keyword (kata kunci) yang tepat—atau “berdampak”, sebagaimana kami para penulis SEO lebih suka menyebutnya.
Orang-orang
ini datang kepada saya dengan harapan bisa menduduki peringkat teratas di
Google dan sepenuhnya yakin bahwa hanya dengan cara itulah traffic akan
mengalir ke website mereka.
Harapan dan
keyakinan itu tidak keliru. Tetapi yang keliru adalah obsesi pada peringkat
semata. Padahal, semestinya tujuan utamanya adalah menarik pelanggan yang
bersedia mengeluarkan uang, bukan sekadar mengejar angka kunjungan…
Karena
harapan dan keyakinan itu, mereka terus mendesak saya untuk menargetkan keyword
dengan tingkat kesulitan rendah supaya website mereka bisa lebih cepat
naik peringkat. (Sebagai gambaran, keyword dengan tingkat kesulitan
rendah berarti persaingannya minim, maka peluang untuk menang lebih besar. Ibarat
memetik buah yang tergantung di ranting paling rendah alih-alih yang berada di
atas—kita tak perlu bersusah payah dulu memanjat pohon hanya demi menikmati
buahnya.)
Kalau yang
meminta adalah blogger atau pemilik website biasa, saya tentu
takkan keberatan menurutinya. Masalahnya, mereka adalah pelaku usaha!
Barangkali
Anda terheran-heran, “Pemilik bisnis juga punya blog dan website. Apa
bedanya?” Bukankah sudah jelas—bukankah sudah jelas bahwa cara mereka
menghasilkan uang tidak sama? π Dan jika skema monetisasinya tidak
sama, maka tak ada alasan untuk menerapkan strategi riset keyword yang
sama!
Pendapatan blogger
bersumber dari iklan, afiliasi, kerja sama sponsor, atau penjualan produk
digital seperti kursus dan software. Karena itu, mereka butuh traffic
sebesar mungkin—makin banyak pengunjung, makin besar pula potensi
pendapatan yang masuk.
Tetapi pola
itu tidak berlaku untuk bisnis konvensional—misalnya untuk toko bahan bangunan
atau rumah sakit yang pernah saya bantu itu. Bisnis-bisnis ini tidak perlu
memonetisasi perhatian visitor. Lantas, apa yang perlu dimonetisasi? Masalah.
Ya, masalah dari orang-orang di dunia nyata yang mencari solusinya di dunia
mata.
Dengan kata
lain, nilai 10 visitor yang saat ini membutuhkan semen atau vaksin flu
jauh lebih tinggi daripada 10.000 visitor yang sekadar ingin belajar
teori tentang semen atau virus-virus penyebab influenza.
Tetapi
bukan berarti saya menganggap penggunaan Ahrefs, Ubersuggest, atau tools riset
keyword sejenis untuk menyaring keyword berdaya saing rendah sama
sekali tak bermanfaat.
Masalahnya
bukan pada alatnya, tetapi pada ekspektasi kita sebagai pengguna. Silakan
gunakan alat-alat itu jika Anda ingin memastikan minat pasar terhadap keyword
tertentu. Dengan akurat Ahrefs dan Ubersuggest dapat menyajikan datanya.
Tetapi kalau tujuan Anda adalah untuk mengetahui apakah keyword tertentu
betul-betul berdampak pada bisnis Anda ke depannya, Ahrefs dan Ubersuggest tidak
bakal bisa menjawabnya.
Sebagai
gantinya, cobalah cara yang akan saya paparkan di bawah ini.
***
Kebetulan dua
minggu lalu saya baru saja menuntaskan sebuah proyek dengan toko bahan bangunan
di Kendal, Jawa Tengah. Maka saya akan menjadikan bisnis semacam ini sebagai contoh
di pembahasan ini.
Katakanlah
Anda menjalankan toko material berskala kecil. Selama ini orang-orang dari kampung
atau kecamatan Anda sudah menjadi pelanggan Anda, tetapi Anda tahu bahwa
potensi pasar Anda tidak berhenti di situ. Anda juga tahu bahwa Anda perlu
melakukan riset keyword sebelum menulis artikel di blog atau website Anda.
Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa tahu apakah keyword yang Anda pilih
nantinya adalah keyword yang berdampak bagi usaha Anda?
Dalam
konteks usaha kecil semacam ini, sebuah keyword baru bisa dikatakan
berdampak jika selaras dengan cara Anda menghasilkan uang, yakni dengan menjual
produk—atau jasa—semata. Jadi, keyword baru bisa dikatakan berdampak
apabila orang yang mengetikkannya di Google berkemungkinan besar untuk segera bertransaksi
dengan Anda.
Itulah
sebabnya Anda harus mulai dari mempertanyakan intent (niat pencarian)
pelanggan ideal Anda. Untuk setiap keyword yang sedang Anda
pertimbangkan, tanyakan satu hal ini saja pada diri Anda:
“Kalau ada yang mencari ini di Google, masalah apa yang sebetulnya ingin diselesaikan orang itu sekarang?”
Atau lebih gampangnya lagi, ingat-ingat kembali pelanggan-pelanggan Anda selama ini. Produk apa yang mereka cari, dan untuk kebutuhan apa? Masalah-masalah itulah sumber keyword Anda. Tambah lagi, sumbernya nyata dan selalu tersedia karena berasal dari orang-orang yang Anda layani sendiri.
Ingat, sebagai pemilik usaha Anda harus memonetisasi masalah orang, bukan sekadar traffic.
Maka,
memilih keyword “cara memilih semen cor” sudah pasti jauh lebih masuk
akal dibanding “cara ngecor lantai”. Pasalnya, keyword pertama jelas
mengisyaratkan masalah (yang disertai niat membeli dalam waktu dekat, yang berarti ada kebutuhan
mendesak terhadap semen yang Anda jual). Sebaliknya, keyword kedua
cenderung menunjukkan rasa ingin tahu semata—entah si pencari sedang belajar
atau iseng saja—dan belum jelas apa langkah mereka selanjutnya.
Setelah itu,
cek apakah keyword yang Anda incar mencerminkan inventaris toko Anda.
Keyword baru dikatakan berdampak jika solusi yang Anda jelaskan di
artikel menuntut penggunaan produk yang Anda jual. Dengan begitu, Anda bisa
memperkenalkan produk dengan ‘sopan’, sampai pembaca menyimpulkan sendiri, “Ternyata
semua yang saya butuhkan ada di toko ini, jadi lebih praktis kalau saya
sekalian beli di sini...”
Misalnya, apabila
Anda menjual pipa PVC dan bahan perekat, keyword seperti “ukuran pipa
PVC untuk wastaffel” atau “merk pipa PVC terbaik” jelas mencerminkan inventaris
toko Anda.
Sebaliknya,
jangan sampai Anda membuat konten yang memecahkan masalah pembaca sepenuhnya
tetapi pembaca tersebut tidak perlu membeli apa pun dari Anda. Sama saja memberi
edukasi gratis yang ujung-ujungnya menguntungkan penjual lain. π
Karena itu, kalau bisa jauhi keyword seperti di bawah ini sebagai langkah awal:
- “jenis lantai rumah”
- “cara menghitung luas lantai rumah”
- “tips renovasi rumah bertahap”
- “bangun rumah sendiri atau kontraktor”
- “penyebab cor retak”
Keyword semacam itu tidak mendorong kebutuhan
akan produk fisik sebagai langkah berikutnya. Tak ada salahnya membuat konten edukasi,
tetapi jika tujuan akhirnya adalah profit, sebaiknya edukasi yang Anda
berikan juga mendatangkan pelanggan sebagai imbalan dari niat tersebut. (Tetapi
jika Anda bersikeras mau menggunakan keyword semacam itu, sebentar lagi
akan saya tunjukkan bagaimana caranya supaya Anda tak rugi waktu dan tenaga
menulis artikelnya.)
Ketiga, evaluasi
relevansi lokal, atau yang juga disebut sebagai “local SEO”. Untuk toko
bahan bangunan berskala kecil, keyword dengan unsur lokasi justru
memberikan dampak paling signifikan. Contohnya, “beli semen murah di Surabaya”
atau “toko hebel terdekat”.
Dengan menyertakan
lokasi secara eksplisit, konten Anda akan menjangkau orang-orang yang memang
berada di sekitar toko Anda. Malahan sangat ideal kalau-kalau penjualan Anda
masih mengandalkan pembelian langsung di toko, bukan lewat e-commerce atau
layanan pesan-antar. Jadi, jangan berkecil hati meski menambahkan nama kota di
akhir keyword terlihat kurang rapi dan ber-volume terbatas. Justru keyword
yang terlihat kurang rapi dan ber-volume terbatas itulah yang terhubung
langsung dengan pelanggan potensial di sekitar Anda!
Berikutnya, perhatikan di tahap mana kira-kira calon pembeli ketika mencari sebuah keyword. Berdasarkan tahapannya, keyword terbagi ke dalam tiga kelompok:
- Awareness keyword (berfungsi membangun otoritas, tetapi jarang mendorong pembaca untuk langsung berbelanja)
- Consideration keyword (digunakan untuk membandingkan pilihan atau memahami plus-minus suatu keputusan)
- Action keyword (menandakan kesiapan untuk membeli atau menyelesaikan masalah saat itu juga)
Contoh awareness keyword:
- “cor lantai rumah pakai semen apa”
- “lantai rumah cepat retak setelah dicor”
- “perbandingan campuran semen pasir untuk lantai rumah”
- “cor lantai rumah tipis kuat tidak”
- “kesalahan cor lantai rumah”
Contoh consideration keyword:
- “semen untuk cor lantai rumah yang awet”
- “beda semen biasa dan semen khusus cor lantai”
- “kapan pakai semen Merah Putih untuk bangun rumah”
- “Semen Merah Putih vs Semen Gresik untuk bangun rumah”
- “semen terbaik untuk lantai rumah sederhana”
Contoh action keyword:
- “harga semen Merah Putih di Surabaya
- “toko semen murah di Surabaya”
- “Semen Merah Putih untuk cor lantai rumah”
- “berapa sak Semen Merah Putih untuk cor lantai 6×6”
- “jual Semen Merah Putih dekat sini”
(Sebagai
catatan, saya tidak di-endorse oleh Semen Merah Putih. Penggunaan merek
tersebut dalam tulisan ini murni untuk contoh saja. π)
Bagi toko
kecil, sebisa mungkin gunakan hanya consideration dan action keyword.
Meski begitu, Anda masih boleh membuat konten yang mengandung awareness
keyword, asalkan fungsinya jelas untuk mengarahkan pembaca ke langkah
berikutnya.
Dengan kata
lain, jangan biarkan awareness keyword berhenti di tahap awareness semata.
Struktur artikel yang menggunakan keyword ini perlu Anda susun
sedemikian rupa supaya pembaca secara alami melangkah ke tahap berikutnya!
Ambil
contoh judul “Penyebab Lantai Rumah Cepat Retak setelah Dicor”. Sekilas, judul
ini cenderung edukatif saja, bukan? Lalu bagaimana cara menggesernya ke ranah consideration
sampai action?
Sesuai janji saya di poin sebelumnya, akan saya beritahu caranya sekarang. Rahasianya ada pada transisi. Jadi, setelah menjelaskan penyebab retak, Anda harus bertransisi dengan memperkenalkan kriteria pengambilan keputusan. Misalnya dengan menulis, “Agar lantai awet, ada tiga hal yang perlu diperhatikan.” Nah, tiga hal tersebut bisa berupa:
- Jenis semen
- Komposisi campuran
- Metode pengerjaan
Transisi
ini amat penting. Saya ulangi sekali lagi, amat penting. Sebab di sinilah
kesempatan Anda—barangkali satu-satunya kesempatan Anda—untuk membawa pembaca
melangkah dari tahap “tahu kenapa suatu masalah terjadi” ke fase “tahu bahwa
ada opsi untuk menghindarinya”.
Setelah
itu, barulah Anda membuka pintu ke konten lanjutan. Artikel awareness tadi
bisa ditutup dengan kalimat semacam, “Terkait jenis semen, tidak sedikit pilihannya
di pasaran, tetapi perlu Anda ketahui bahwa tidak semuanya bagus untuk cor
lantai.” Nah, kalimat inilah yang menjadi jembatan menuju artikel consideration
dengan keyword “semen untuk cor lantai yang awet”, yang kemudian
diarahkan lagi ke artikel action dengan keyword “Semen Merah
Putih untuk cor lantai rumah”. Beginilah seharusnya Anda menyusun konten-konten
Anda.
Sampai di
titik ini, saya anggap Anda sudah mengantongi kumpulan keyword hasil
penyaringan dari semua langkah tadi. Kini masuk ke langkah terakhir, yakni mengecek
siapa saja yang sekarang mendominasi hasil pencarian Google. Bila halaman
pertama diisi website milik produsen, toko ritel besar, atau portal
berita, bersiaplah menghadapi persaingan berat—baik untuk meraih peringkat tinggi
maupun mengonversi traffic.
Namun jika
yang mengisi halaman pertama adalah sesama bisnis lokal atau blog pribadi, itu sinyal
yang jauh lebih sehat. Jadi, Anda sudah bisa mulai menulis dan menargetkan keyword
tersebut untuk memenangkan pasar di wilayah Anda.
***
Untuk merangkum seluruh poin di atas, berikut checklist yang bisa Anda gunakan sebagai pegangan:
- Definisikan dengan jelas masalah yang ingin diselesaikan oleh calon pembeli Anda.
- Apakah Anda bisa memperkenalkan solusi berupa produk atau layanan yang Anda jual dalam konten Anda? Jika ya, simpan dulu keyword itu.
- Pastikan keyword terkait dengan aksi dalam waktu dekat, seperti membeli, mengganti, membangun, atau memperbaiki sesuatu.
- Kaitkan juga keyword dengan lokasi bisnis Anda untuk memperkuat local SEO.
- Klasifikasikan keyword ke dalam tahap awareness, consideration, atau action. Untuk awareness keyword, Anda harus bisa mengarahkan pembaca ke tahap berikutnya melalui artikel lanjutan. Bila tidak, jangan dijadikan prioritas.
- Cek hasil pencarian di Google. Gunakan keyword hanya jika peringkat teratasnya tidak dikuasai oleh website perusahaan, ritel besar, atau portal berita.
Kalau ada
pertanyaan, jangan sungkan untuk bertanya baik lewat komentar maupun email
supaya saya bisa memberikan jawaban secepatnya. Selamat mencoba! π
(Gambar diambil dari Canva oleh afloimages.)
Memang banyak sih sekarang para pebisnis yang mempunyai Website tapi nggak mau pusing hal hasil masalah Keyword masih mengandalkan jasa orang.
BalasHapusYaa mungkin mereka berpikir Website aja bisa kok terima jadi dengan jasa orang.ππ
Padahal kalau mereka mau dipelajari secara mendalam banyak keuntungan yang bisa didapat dengan Website itu sendiri. Terlebih teknologi sekarang sudah lebih canggih.
Bisa jadi karena kekurangan waktu, atau ya karena memang keinginan 'yang penting jadi' itu, Mas π Saya bersyukur sih karena berarti ada pemasukan untuk saya, hehehehe...
HapusBetul sekali, Mas, di zaman now kayak sekarang nggak ada yang mustahil buat dipelajari sendiri. Kalau malas baca di Google, bisa nonton dari YouTube. Nggak kurang-kurang jumlah orang yang bahas dari A sampai Z tentang memanfaatkan website untuk bisnis ππ»
dunia tanpa sempadan hari ni...senang juga nak jual barang kalau guna platform yang sesuai, apatah lagi kalau ada website e-commerce utk marketing bisnesnya
BalasHapusYes, tak apa pun kalau blog masih guna platform free! Yang penting boleh mula tampil di internet dan bangunkan awareness secara perlahan-lahan π
Hapus