20 Mei 2026

6 Komik Jadul yang sampai Sekarang Masih Diingat

komik jadul

Minat saya terhadap komik sejatinya berawal dari membaca Bona Gajah Kecil di majalah Bobo. Dari situlah, ketertarikan tersebut berkembang dan menghantarkan saya pada komik dari Jepang, yakni manga. Sepanjang masa sekolah, dari jenjang SD hingga SMA, saya telah melahap begitu banyak judul komik.

Dari sekian komik yang pernah saya baca, enam komik berikut adalah yang paling berkesan dan hingga kini tetap melekat di ingatan saya.

1. Kaichou wa Maid-sama!


komik Kaichou wa Maid-sama!

Di waktu saya masih duduk di bangku kelas 3 SMP, begitu bel tanda pulang sekolah berbunyi, saya dan teman-teman langsung berhamburan menuju ke rental komik terdekat. Di situlah kami menyewa komik ini sedikit demi sedikit dan membacanya beramai-ramai sampai tamat.

Kaichou wa Maid-sama! mengisahkan tentang Ayuzawa Misaki, ketua OSIS perempuan pertama di SMA Seika. Karakternya yang tegas dan tidak kenal kompromi membuat ia disegani, lebih-lebih lagi dalam usahanya melindungi siswi di sekolah yang didominasi oleh murid laki-laki itu.

Namun, siapa yang menduga, Misaki menyembunyikan rahasia besar. Sebetulnya, ia bekerja paruh waktu sebagai pelayan di maid café—dengan seragam super feminin, kontras dengan image-nya di sekolah—untuk meringankan beban ekonomi keluarganya.

Secara tidak sengaja, Usui Takumi—siswa paling populer dan pintar di sekolah—mengetahui rahasia tersebut. Bukannya menyebarkannya, Usui justru memilih untuk melindungi rahasia Misaki. Maka berawallah hubungan mereka yang menggelitik sekaligus manis.

Yang membuat saya terpikat pada komik ini, pertama-tama, karakter Misaki yang menginspirasi. Di usianya yang masih remaja, ia sudah menjalani hidup mandiri dan bekerja keras mencari nafkah sendiri.

Sebagai anak dari keluarga kurang berada, Misaki membuat saya yakin bahwa kelak saya juga bisa melakukan pekerjaan sampingan—kendati pada akhirnya keyakinan itu hanya angan-angan belaka. (Sebab, di Indonesia, tidak mudah bagi seorang pelajar untuk mendapatkan pekerjaan...)

Kedua, tidak lepas dari wajah Usui Takumi. Wajah yang digambar dengan rupawan itu sulit diabaikan. Rasa suka pun muncul dengan sendirinya, meskipun wataknya, yah, cenderung kurang ideal 😬

Lebih lanjut, meskipun latar belakang Misaki dapat dibilang berat, jalan cerita tidak sepenuhnya muram. Cukup banyak adegan lucu yang mengocok perut, serta takaran percintaannya proporsional. Jadi, tidak mengurangi eksplorasi mendalam terhadap masing-masing tokoh di dalam cerita.

2. Death Note


komik Death Note

Semasa SMA, komik ini pernah menjadi salah satu bacaan yang saya ikuti. Awalnya saya hanya meminjam beberapa jilid dari rekan sekelas, lalu sempat lupa akan keberadaannya selama setahun.

Rasa penasaran kembali muncul setelah seorang teman membujuk saya untuk menonton adaptasi anime-nya.

Karena merasa tidak puas dan ingin menyelami detail ceritanya, saya lantas menyewa manganya di rental komik yang paling dekat, tepatnya di Tropodo, sampai ceritanya habis.

Cerita Death Note bermula ketika Light Yagami—siswa SMA jenius yang mulai jenuh dengan realitas kehidupannya—menemukan buku aneh bernama Death Note (Buku Kematian).

Buku itu dijatuhkan oleh Ryuk, dewa kematian. Buku ini memiliki aturan yang tak kalah aneh, yakni bahwa siapa pun yang namanya tertulis di dalamnya akan mati.

Light memutuskan untuk menggunakannya demi memberantas kejahatan dan mengangkat dirinya sebagai “Dewa Dunia Baru” bergelar Kira.

Tindakan ekstrem ini menginisiasi penyelidikan dari pihak kepolisian yang dibantu L, detektif eksentrik dan penuh misteri. Pertarungan otak antara Light dan L pun dimulai.

Terus terang saya akui, alasan terbesar saya tidak bisa mengesampingkan komik ini adalah karena sosok Light. Tampan, cerdas, atletis, tetapi juga ambisius. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin saya tidak jatuh hati? 😳

(Tetapi sekarang tipe cowok yang saya sukai sudah bukan seperti Light lagi, karena moralnya yang tidak bisa dibenarkan itu 😅)

Selain itu, ilustrasi yang disajikan sukses membangun atmosfer yang mencekam. Adapun intrik serta perang pikiran antara Light dan L membuat saya tidak sabar untuk terus membalik halaman, lantaran penasaran bagaimana mereka berusaha mengalahkan satu sama lain.

Ditambah lagi dengan tokoh Ryuk, yang secara konsep seharusnya mengerikan, tetapi malah menjadi karakter yang mengundang tawa karena kerap rewel kalau tidak diberi apel.

(Oh ya, konsep Buku Kematian juga menurut saya super brilian. Karena itulah, saya sampai menabung demi membeli tiruannya, dan tidak terhitung lagi berapa banyak nama yang sudah saya catat di sana ketika saya masih bau kencur...)

3. BECK: Mongolian Chop Squad


komik BECK: Mongolian Chop Squad

Perkenalan saya dengan BECK terjadi secara tidak sengaja ketika saya menginjak kelas 1 SMA. Kala itu, saya iseng membeli majalah Shonen Magz.

Majalah yang saya beli hanya sekali itu memuat satu bab dari pertengahan cerita ini. Akan tetapi, satu bab tersebut segera menggerogoti rasa penasaran saya, hingga pada akhirnya saya pergi ke rental komik untuk mencari dan melahap semua volumenya.

Cerita komik ini mengikuti perjalanan Yukio “Koyuki” Tanaka, siswa SMP berusia 14 tahun yang kikuk dan menganggap hidupnya monoton.

Nasibnya berubah drastis setelah ia menyelamatkan seekor anjing tak biasa bernama Beck dari ulah sekelompok anak nakal.

Ternyata, pemilik anjing itu ialah Ryuusuke “Ray” Minami, gitaris genius berumur 16 tahun. Ryuusuke mengenalkan musik rock dari Barat kepada Koyuki dan meminjamkan gitarnya.

Mulai dari peristiwa itu, Koyuki mulai belajar bermain gitar sekaligus menemukan potensi vokalnya yang luar biasa.

Bersama beberapa anggota lainnya, mereka kemudian membentuk band yang dinamakan BECK dan mengawali perjuangan mereka dari panggung-panggung indie underground.

Di awal, komik ini begitu lekat di ingatan saya lantaran gaya gambarnya yang tidak umum dijumpai pada komik “cewek” yang biasa saya baca.

Beraliran shounen, gaya gambarnya membuat saya mengalami yang namanya “visual shock”. Bukan gaya yang saya gemari, tetapi anehnya justru hal itulah yang membuatnya tidak mudah terlupakan. (Kurang lebih seperti kesan pertama saya terhadap minuman matcha 😅)

Selanjutnya, penggambaran Koyuki sebagai siswa SMP yang pemalu dan kurang percaya diri terasa begitu realistis. Pasalnya, tokoh utama dengan karakter serupa jarang sekali ada di komik “cowok” yang biasanya dikemas terlalu digdaya alias overpowered (OP).

Jalinan pertemanan antaranggota band juga digambarkan dengan gamblang. Tak jarang terjadi cekcok, namun akhirnya mereka tetap bersatu.

Unsur asmara yang diselipkan pun terasa pas, tidak sampai mengurangi fokus cerita tentang bermusik.

Dan satu lagi, Ryuusuke menjadi karakter pria berambut gondrong dalam komik pertama yang mendapat pengakuan “keren” dari saya 😆 

4. Detective Conan


komik Detective Conan

Kali pertama saya membaca Detective Conan adalah ketika saya masih di bangku kelas 5 SD, di rumah pakdhe yang diam-diam mengoleksi komik ini.

Mengingat trik-trik kasusnya terlalu rumit untuk anak seusia saya pada waktu itu, saya sempat vakum membacanya.

Setelah masuk ke jenjang SMA, saya baru kembali menyewanya secara bertahap.

Sampai sekarang saya masih setia menanti rilis volume terbarunya, walau saya sebetulnya termasuk pembaca yang lebih suka menimbun beberapa jilid dulu sebelum membacanya sekaligus.

Anda mungkin sudah tidak asing lagi dengan ceritanya. Shinichi Kudo, detektif SMA yang cerdas luar biasa, berubah wujud menjadi anak SD akibat dipaksa meminum racun APTX 4869 oleh Organisasi Hitam.

Supaya identitas aslinya tidak terendus, ia menggunakan nama samaran Conan Edogawa dan menumpang di rumah Ran Mouri—teman masa kecilnya—bersama ayahnya, Kogoro Mouri, yang merupakan detektif swasta.

Mengandalkan alat-alat canggih buatan Profesor Agasa, Conan diam-diam menyelesaikan berbagai kasus sembari terus mengusut keberadaan Organisasi Hitam.

Dikarenakan perkenalan dengan komik ini yang terjadi di usia saya yang terbilang belia, maka lumrah kiranya jika Shinichi menjadi cinta pertama saya dalam kategori tokoh fiksi 🤭

Tetapi, bukan semata karena ketampanan atau kepandaiannya yang membuat saya terus menanti-nanti komik ini.

Hubungan yang “dekat namun terasa jauh” antara Shinichi dan Ran juga selalu berhasil mengundang rasa gemas kala membacanya.

Sekalipun metode pembunuhan yang disajikan cukup memusingkan—sampai-sampai saya harus membaca ulang satu bab tiga kali supaya mengerti—perburuan Conan terhadap Organisasi Hitam tetaplah menjadi misteri yang paling menggelitik rasa penasaran saya sampai sekarang.

Mudah-mudahan saya bisa menyaksikan akhir ceritanya sebelum terlampau tua...

5. Mamacolle


komik Mamacolle

Pertama kali saya membaca Mamacolle di majalah Nakayoshi ketika masih duduk di kelas 3 SMP. Walau hanya sempat membaca satu bab, makhluk-makhluk imut di dalamnya cukup membuat saya terusik untuk menyewa komik kelanjutannya.

Berlatar di sebuah dunia yang tengah demam memelihara “Baby”— makhluk mungil sebesar ibu jari yang pandai menari dan memanggil pemiliknya “Mama” atau “Papa” — kisah ini mengikuti Asahina Tamae, gadis yang merasa terasing karena ia adalah satu-satunya anak di kelas yang belum mempunyai Baby.

Ibunya melarangnya memiliki Baby disebabkan nilai sekolah Tamae yang pas-pasan.

Suatu ketika, Tamae secara tidak sengaja menolong tiga Baby yang hampir terbawa arus sungai.

Ternyata, ketiga Baby ini memiliki kekuatan istimewa. Peristiwa inilah yang menjadi awal dari petualangan seru Tamae bersama ketiga Baby-nya.

Secara kuantitas, komik ini hanya memiliki empat jilid. Secara kualitas cerita, tergolong biasa. Mengisahkan perjuangan seorang gadis untuk membela nilai-nilai penting dalam hidupnya, diiringi pencarian cinta dan sahabat sejati.

Namun, karena adanya berbagai Baby dengan karakter dan kelakuan yang berbeda, Mamacolle cukup sukses membuat saya terkesan.

6. Kitchen Princess


komik Kithen Princess

Seperti Mamacolle, komik Kitchen Princess saya temukan dari beberapa bab yang terbit di majalah Nakayoshi pada masa SMP.

Penasaran dengan kelanjutan dan akhir ceritanya, saya pun menyewa komik tersebut sedikit demi sedikit sampai selesai.

Tokoh utama cerita ini, Najika Kazami, adalah remaja yatim piatu yang ahli dalam memasak dan memiliki indra perasa yang peka. Ketika masih kecil, ia hampir tenggelam, tetapi diselamatkan bocah lelaki misterius.

Bocah itu memberinya puding flan dan sendok perak bermotif khusus. Najika lalu menjulukinya sebagai “Pangeran Flan” serta berjanji akan menyajikan dessert terenak untuknya kelak.

Berbekal petunjuk pada sendok itu, ia melanjutkan sekolah ke Tokyo.

Di tempat itu, ia tidak hanya berhadapan dengan intimidasi dari siswa-siswa kaya, tetapi juga harus menyelidiki siapakah sejatinya Pangeran Flan di antara dua bersaudara populer, Sora dan Daichi Kitazawa.

Resep kue pada penutup setiap bab tidak pernah gagal mengundang rasa lapar saya, walaupun pada saat itu saya tidak bisa mempraktikkannya gara-gara bahan-bahannya sulit diperoleh di toko dekat rumah...

Sosok Najika juga digambarkan cukup realistis. Ia tidaklah sempurna dan cukup sering terombang-ambing selayaknya gadis SMP pada umumnya, namun ia terus berusaha untuk bangkit.

Lalu, tak ketinggalan drama menebak siapa sosok asli Pangeran Flan. Harus saya akui, kematian Sora Kitazawa dalam komik ini membuat saya jengkel bukan kepalang 🤷‍♀️

Waktu itu saya benar-benar tidak habis pikir—dan sampai detik ini saya tetap di kubu Sora. Setiap kali melihat puding flan, saya pasti kembali mengingat nasib malangnya... 

***

Itulah komik-komik lawas yang masih melekat di ingatan saya. Sebetulnya masih ada beberapa yang lain, hanya saja karena faktor umur, saya sudah lupa akan judul-judulnya 😳

Saya masih suka mengulang bacaan beberapa komik ini untuk bernostalgia, walau akses membacanya sudah berpindah ke HP.

Bagaimana dengan teman-teman? Apakah ada komik jadul yang dulu menjadi favorit dan masih membekas kuat di ingatan sampai sekarang?


(Gambar diambil dari MyAnimeList: Kaichou wa Maid-Sama!, Death Note, BECK, Detective Conan, Mamacolle, Kitchen Princess.)

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan 😊

© m o f u m e m o
Maira Gall