19 Mei 2026

Punahnya Seni Menghadapi Kebosanan

Izinkan saya memulai tulisan ini dengan pengakuan memalukan. Yaitu, bahwa saya tidak lebih dari seorang budak bagi benda persegi di saku saya. Belakangan, saya hampir tidak bisa hidup tanpanya.

Ralat: Tuan yang sesungguhnya dari budak ini adalah aplikasi YouTube. Dan belakangan, saya hampir tidak bisa hidup tanpa YouTube.

Coba intip histori tontonan saya hari ini. Anda tidak akan menemukan apa-apa selain ‘onggokan sampah’ berupa video demi video yang tidak menghibur saya, tidak pula memberi saya pengetahuan baru. Namun seperti kesurupan setan, saya masih saja setia melompat dari satu video ke video lainnya.

Saya melakukannya di sela-sela bekerja bila konsentrasi sedikit goyah.

Saya melakukannya menjelang tidur.

Saya melakukannya bahkan sewaktu berdiri di depan kompor sembari menatap air rebusan mi instan yang belum juga meletup-letup.

Dan yang paling menyedihkan, saya melakukannya di hari libur—hari yang seharusnya bisa saya pakai untuk membaca, menulis, berjalan-jalan, atau sekadar duduk manis dan melamun.

Lalu saya menyadari, saya tidak tahan membiarkan waktu lewat begitu saja. Persis seperti tangan yang ingin menggaruk, tetapi tidak ada yang perlu digaruk.

Setelah itu saya pun berpikir sendiri. Mengapa saya bisa begini? Apa teman-teman juga sama seperti saya?

Tak disangka, pertanyaan yang sama sudah lama meresahkan banyak orang, bahkan sejak lebih dari seabad yang lalu. Salah satu yang dibikin gelisah karenanya adalah Arthur Schopenhauer.

Lain cerita dengan saya yang masih terus bertanya-tanya, sang filsuf dengan pemikiran tajam namun dingin itu berhasil menemukan jawabannya. Menurutnya, hidup manusia itu berayun-ayun layaknya sebuah pendulum. Ketika berayun ke satu sisi kita merasakan sakit, ketika berayun ke sisi lain kita merasakan bosan.

Maka, bila hidup terasa berat, penuh perjuangan, dilanda kemiskinan, atau penyakit, kita menderita karena rasa sakit yang ditimbulkan. Namun, begitu kita sudah mencapai kenyamanan, kemapanan, dan keamanan, kita tidak otomatis menemukan kebahagiaan. Sebaliknya, kita malah terjerumus ke dalam kebosanan.

Saya setuju dengan pemikiran Schopenhauer tersebut. Dan saya sendiri mengalaminya. Saya bekerja keras setengah mati demi mengusir kesulitan-kesulitan yang menjadi kendala bagi saya untuk menjalani urip ayem tentrem. Namun setelah semua cobaan itu sirna? Bersyukur, tentu saja. Tetapi cuma sebatas itu perasaan saya. (Bukan berarti saya berharap hidup ini serba sulit…)

Kalau lapar, saya tahu persis apa yang harus dilakukan. Makan. Karena jelas, saya harus makan untuk tetap hidup. Namun sesudah kenyang, tuntutan untuk bertahan hidup itu lenyap.

Kalau masih ada pekerjaan yang belum beres, tuntutan baru pun muncul. Lantas, bagaimana jika tidak ada satu pun kegiatan yang harus dilakukan, masalah yang harus diselesaikan, atau hasrat yang harus dipenuhi? Begitulah kebosanan mulai terasa.

Kita semua tentu menyadari, bahwa di fase peradaban manusia sekarang, kita tidak kekurangan cara untuk mengakses hiburan dan informasi cukup dari genggaman tangan. Semuanya berkat kemajuan teknologi modern.

Jadi, bisa kita katakan bahwa teknologi modern berhasil memecahkan masalah kita, bahwa kita tak perlu lagi merasakan kebosanan setelah berayun dari arah lain yang menyakitkan.

Apa iya begitu?

Yang ada malah sebaliknya. Bukan kebosanan yang kita sembuhkan, melainkan distraksi yang kita gemburkan.

Ketika kita berlama-lama di YouTube, apa itu semata-mata karena dorongan dari rasa penasaran?

Kita bisa berkilah bahwa tidak setiap tindakan harus didasari tujuan mulia, misalnya hasrat untuk menambah wawasan. Untuk terhibur juga sah-sah saja, bukan?

Nah, kalau begitu, kita perlu melontarkan pertanyaan baru. Pertanyaan seperti, mengapa kita butuh hiburan terus-menerus? Atau, mengapa rasa bosan itu datangnya begitu cepat?

Schopenhauer menyebut kebosanan semacam ini sebagai indikasi dari “inner vacuity”, alias kekosongan batin. Sebenarnya kebosanan tidak muncul karena dunia ini kurang menarik. Buktinya, hiburan yang ada sekarang jauh lebih banyak ketimbang hiburan di zaman kakek-nenek kita. Yang jadi masalah adalah karena batin kita terlalu miskin, sehingga susah menikmati dunia secara utuh tanpa terus dibombardir stimulasi dari luar.

Seorang yang memiliki “inward wealth” atau kekayaan batin mampu duduk sendiri di sebuah ruangan tak berbenda. Ia bisa aktif secara mental hanya dengan mengamati bayangan yang jatuh di dinding, memikirkan kembali film yang ia tonton kemarin, merajut ide, atau sekadar mempelajari aliran napasnya sendiri.

Sebaliknya, manusia yang batinnya kosong selalu haus akan keramaian, gosip, drama, barang mewah, dan hiburan cepat saji. Namun itu semua bukan karena hal-hal itu berarti untuknya, melainkan karena ia tak sanggup menghadapi kekosongan batinnya seorang diri.

Artinya, saya yang mengaku diperbudak YouTube ini sesungguhnya tak layak berkata begitu. Seharusnya saya mengakui bahwa saya ingin diperbudak YouTube untuk menutup-nutupi kekosongan batin yang entah kapan akan terisi...

Meski begitu, Schopenhauer tidak memungkiri bahwa ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kekayaan batin itu. Ia berpendapat, kepekaan pikiran bekerja secara terbalik.

Maka, orang yang kurang peka pikirannya—atau yang Schopenhauer sebut sebagai “orang berpikiran dangkal”—jarang merasakan penderitaan eksistensial (sebab ia jarang mempertanyakan makna dan tujuan hidupnya), tetapi mudah sekali digerogoti kebosanan.

Sebaliknya, orang-orang yang peka biasanya merasakan penderitaan hidup yang lebih berat (sebab ia tak henti mempertanyakan makna dan tujuan hidupnya), namun lebih mudah menikmati keindahan dan seni, serta kedalaman berpikir.

Tingkat kepekaan—atau kesadaran—yang tinggi memang cenderung membuat kita mudah dilanda kecemasan. Namun, kesadaran itu pula yang memberi kita kemampuan untuk memaknai dunia dengan segala warnanya.

Jadi, jangan sampai kesadaran kita tumpul gara-gara terus menerus mendapat stimulasi digital instan sebagai pelarian dari kebosanan. Jalan pintas ini justru merugikan kita.

Memang kita bisa terbebas dari rasa tidak nyaman untuk sementara, tapi konsekuensinya kita juga kehilangan kemampuan untuk memaknai dunia dengan segala warnanya itu.

Makanya, kita harus bisa membedakan mana kegiatan yang fungsinya rekreasi dan mana yang merupakan distraksi. Rekreasi memulihkan tenaga kita untuk berpikir, sedangkan distraksi justru menghalangi kita untuk berpikir sama sekali.

Setiap kali kita meraih HP di sela-sela waktu kosong—saat berjalan kaki, saat menunggu air rebusan mi mendidih, saat mengantre, saat duduk di toilet—tanpa sadar kita sebetulnya sedang mematikan proses berpikir alami yang seharusnya bisa terjadi.

Tak disangka, gagasan-gagasan cemerlang kita justru lahir di momen-momen itu—momen ketika pikiran bebas berkelana tanpa arah, ketika ingatan masa lalu saling berkait secara tak terencana, dan lain sebagainya.

Maka, tak perlu menganggap kebosanan sebagai lawan yang harus segera dihabisi dengan gawai layar sentuh kita.

Sebagaimana kata Schopenhauer, kebosanan itu hanyalah satu sisi dari pendulum kehidupan yang bisa kita hadapi dengan kekayaan batin. (Ingat, hadapi, bukan atasi.) Oleh karena itu, yang perlu dilakukan bukan “mengimpor”, tetapi memperkaya diri kita dari dalam. Supaya pada akhirnya kita tidak bergantung pada apa pun dari luar sewaktu berhadapan dengannya.

Namun punya teori saja tidak serta-merta mengubah saya dalam semalam. Terlebih kecanduan ini sudah lumayan merusak saya.

Tetapi jika saya menyambut kebosanan itu dengan kegiatan yang sedikit merepotkan otak—misalnya membaca buku, mengamati sekitar, menyusun rencana konten blog, atau mengurai benang kusut di kepala—sedikit demi sedikit saya mungkin bisa memupuk kekayaan batin.

Saya pun akan menguasai seni menghadapi kebosanan.

Kalau Anda sendiri bagaimana?

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan 😊

© m o f u m e m o
Maira Gall