
Sewaktu sekolah, hampir pasti ada guru yang ditakuti karena kegalakannya. Saya dulu juga sempat merasakan diajar oleh guru-guru dengan karakter seperti itu.
Sepengamatan saya, para guru sangar itu tidak begitu disukai
siswa dibandingkan guru-guru yang tidak galak.
Ya, apalagi kalau bukan karena sifat galak mereka.
Sering meledak-ledak.
Dahi selalu berkerut-kerut, alis pun bertaut.
Ketika berbicara, bibirnya monyong-monyong.
Sungguh pemandangan yang kurang sedap dipandang.
Apalagi suaranya yang bikin kuping gerah ketika sedang
memberi pelajaran.
Sewaktu masih bocah, saya pun merasa ciut terhadap guru
galak. Pasalnya, di rumah saya dibesarkan di bawah bimbingan bapak yang tidak
kalah galak.
Maka, jika berhadapan dengan orang segalak itu di luar
rumah, rasa takut saya luar biasa besarnya.
Tapi lucunya, saya malah menikmati belajar dalam situasi
keras ala Sparta bersama guru-guru galak yang saya jumpai selama masa sekolah—Bu
Siti di kelas 1 SD, Bu Ninik di kelas 2 SMP, Bu Evie di kelas 2 SMA, dan Bu
Retno di bangku perkuliahan.
Waktu itu saya tidak terlalu menyadari kesukaan itu, tetapi
jika direnungkan lagi, saya agak menanti-nanti kedatangan guru-guru killer
itu ke kelas.
Di umur segitu, barangkali secara kasar saya sudah mampu
menilai bahwa beliau-beliau itu bukanlah orang dewasa sinting yang seenaknya
marah-marah tanpa kenal waktu dan tempat.
Guru-guru itu mau tidak mau harus tampak galak untuk
menggembleng anak didiknya. Alasannya, mereka paham betul tidak semua siswa
akan mematuhi perkataan yang diucapkan dengan halus dan dibarengi senyum manis—sekalipun
pendekatannya tidak ideal dan konsekuensinya mereka jadi dibenci.
Namun hemat saya, tak apalah, yang penting ruang kelas
menjadi kondusif. Sebab biasanya guru-guru yang kelewat lembut tidak pernah
berani terang-terangan menegur siswa-siswa yang membuat kegaduhan selama
pelajaran berlangsung.
Perlu digarisbawahi, guru-guru galak yang saya sukai
bukanlah tipe yang suka menempeleng anak didiknya jika si anak bersalah. Juga
bukan guru yang kemudian membuat malu siswa di depan teman-temannya.
Karena saya sendiri pernah menemui guru-guru yang demikian.
Maka, lebih tepat jika mereka disebut guru galak yang buruk
daripada sekadar galak.
Buruk bagaimana?
Buruk karena secara kedewasaan jiwa mereka sudah selayaknya
lebih matang daripada murid-muridnya yang usianya bisa berselisih belasan
sampai puluhan tahun, namun bukannya memberi tuntunan, mereka malah bertingkah
semau-maunya untuk melepaskan kekesalan yang dikamuflase sebagai kegiatan
belajar.
Nah untuk guru-guru jenis ini, saya tidak bisa memberikan
rasa suka meski hanya seujung kuku.
Meski begitu, dewasa ini para orang tua siswa cenderung
mudah bereaksi berlebihan bila anak-anaknya diketahui diajar oleh guru-guru
galak—yang tidak termasuk galak buruk.
Mereka khawatir jika anaknya kerap kena omel, sehingga ogah
berangkat sekolah. Malu pada teman-temannya, ngeri pada gurunya.
Sebetulnya kekhawatiran itu masuk akal. Membentak anak juga
sejatinya merupakan bentuk ganjaran. Walau hanya secara lisan, ganjaran ini
tentu dapat melukai perasaan anak.
Dan akibatnya tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi
kalau kita melihat efek jangka panjangnya.
Jika anak tidak mau bersekolah lagi, bisa-bisa dia menjadi
individu yang minder dan serba takut saat bergaul di masyarakat.
Daripada zaman orang tua saya dulu, orang tua zaman sekarang
lebih terbuka pengetahuannya tentang hak anak dan urusan kejiwaan, yang mana
dua hal ini dulu cukup sering dikesampingkan.
Sekalipun sudah ada peningkatan kesadaran seperti ini, orang
tua tetap perlu menyadari mana guru galak yang baik dan mana guru galak yang
buruk sebagaimana yang sudah saya singgung tadi.
Karena nyatanya, tidak jarang wali murid yang bertindak
menurut emosi sesaat, lalu melukai perasaan serta reputasi pengajar gara-gara
sekadar salah paham.
Banyak kasus seperti ini sudah diberitakan.
Yang terakhir kali paling viral adalah tentang Bu
Budi, guru SD di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, yang
dilaporkan ke pihak berwajib—meski prosesnya sudah dihentikan—lantaran diduga
memarah-marahi salah satu anak didiknya.
Orang tua yang melapor menyampaikan bahwa sang anak kena
omel di depan kelas. Sedangkan Bu Budi meluruskan, bahwa beliau hanya
menasehati murid tersebut karena tidak mau membantu temannya yang jatuh.
Nah, sudah tampak jelas dari situ perbedaan pertama antara
guru galak yang baik dan guru galak yang buruk. Yaitu fokusnya tidak
sama.
Yang semestinya dikritik adalah tindakan anak, bukan pribadi si bocah itu
sendiri. Selain itu, teguran sang guru harus menyertakan solusi. Tidak hanya sekadar
mencaci.
Juga membuka peluang bagi murid untuk membenarkan
kesalahannya, yang mana hal itu sangat penting untuk menumbuhkan budi pekerti
luhur.
Jadi, bisa dibedakan antara:
1. “Andi, seharusnya kamu menolong temanmu yang jatuh, bukannya melihat saja! Itu tindakan yang tidak bertanggung jawab! Ayo, sekarang bantu Siska berdiri!”
dengan…
2. “Andi, seharusnya kamu menolong temanmu yang jatuh, bukannya melihat saja! Memangnya kamu ini tidak pernah diajari berperilaku baik di rumah? Dasar anak egois!”
Perbedaan nomor dua menyangkut tujuannya.
Meski tidak semua guru mengakui maksud sebenarnya—mungkin
saja mereka berdusta dengan membungkus “tindakan galak” sebagai “proses belajar”—akan
tetapi wali murid tetap perlu mempertanyakan terlebih dahulu maksud dari
teguran yang disampaikan sang guru.
Apakah itu dimaksudkan untuk menanamkan kedisiplinan, rasa
bertanggung jawab, dan akhlak mulia lainnya yang dibutuhkan siswa untuk
bertumbuh, berkembang, dan menjadi warga masyarakat yang baik?
Kalau iya, maka teguran semacam itu sudah pada tempatnya,
kendati nada suara saat menasihati mungkin sedikit tinggi.
Namun jika itu hanya untuk memuntahkan amarah,
terlebih-lebih untuk menunjukkan kekuasaan, maka semakin parahlah akibatnya
jika disampaikan dengan bentakan.
Yang juga tidak kalah penting ialah konsistensinya.
Maksudnya, apakah guru itu memperlakukan semua murid di
kelas secara adil dan sama galaknya, atau cuma kepada segelintir anak saja?
Lalu, dalam situasi bagaimana kegalakannya itu
diperlihatkan? Apakah setiap waktu, atau hanya pada momen-momen tertentu yang
memang mengharuskan guru untuk menjadi tegas?
Saya berpendapat, jika ada guru yang bersedia repot-repot
mengoreksi semua muridnya tanpa pandang bulu, maka sebagai orang tua rasa
hormat dan sayang saya kepada beliau akan melebihi guru-guru yang lain.
Mengapa begitu?
Karena marah-marah itu sama sekali tidak enak!
Selain membuat kerongkongan sakit, juga bisa membikin pusing
akibat lonjakan tensi, dan juga beban jiwa seperti penyesalan kepada
siswa-siswinya.
Belum lagi ancaman “kedapatan” oleh wali murid bersumbu
pendek.
Lihatlah, betapa besarnya kepedulian guru galak yang baik
semacam itu!
Lain cerita dengan guru galak yang buruk, yang tak cuma
berat sebelah, tetapi juga zalim. Setiap waktu, anak itu-itu lagi yang diomeli,
menjadikannya seperti pesakitan di depan kawan-kawannya.
Dan lagi, yang menjadi pemicu kemarahannya adalah perkara
kecil. Itu sudah melampaui batas, bahkan sudah mengarah pada penganiayaan
verbal.
Sekiranya wali murid sudi meluangkan sedikit waktu untuk
mengamati tiga aspek ini, sebelum buru-buru mengadu ke polisi, maka tak perlu
sampai muncul keributan di publik.
Lagipula guru itu hanya menjalankan perannya sebagai
pengganti orang tua di sekolah.
Sebab kalau sudah sampai menggegerkan masyarakat, tetapi
setelah perkara diselami tak ditemukan kesalahan dari pihak mana pun, bukankah
semua orang bakal terkena imbasnya?
Kalau yang hilang nama baik, energi, dan uang, itu masih
bisa dicari gantinya.
Namun bagaimana dengan kehilangan semacam sirnanya
keberanian guru untuk terus mengajar?
Juga hilangnya kesempatan orang tua menanamkan pelajaran
hidup pada anak?
Bisa jadi, guru-guru galak model begini hanya hadir satu-dua
kali dalam seumur hidup para wali murid dan sang anak.
Sayang sekali, bukan, bila menyia-nyiakan sosok seperti
beliau?
Bila patokan-patokan di atas sudah dijadikan pegangan para
orang tua untuk mengevaluasi guru-guru galak—dan bila patokan-patokan itu juga
sudah dijadikan batasan oleh guru-guru galak supaya tidak keluar jalur—maka hubungan
antara wali murid dan pendidik yang sekarang renggang itu bisa kiranya
dipulihkan lagi.
Karena akibat hubungan yang tidak harmonis antara orang tua
dan guru, yang merugi tidak lain adalah peserta didik itu sendiri.
Sang anak harus terombang-ambing di antara dua arahan yang
berlainan. Dia akan menjadi serba salah. Tuntunan mana yang harus ditaatinya?
Di usianya yang masih belia itu, tidak mungkin dia bisa
menjajaki sendiri wejangan mana yang patut diikutinya.
Melihat kemudian meneladani, begitulah caranya mereka
belajar.
Jika yang dilihat dan diteladani itu keliru, maka dengan
sendirinya yang keliru itulah yang akan menjadi pedomannya hingga dia beranjak
dewasa.
Dan sangat mungkin dia akan menularkan kekeliruan itu kepada
putra-putrinya sendiri di kemudian hari.
Maka, tidak berlebihan bila saya menyimpulkan bahwa retaknya hubungan antara orang tua dan guru bisa menciptakan sebuah lingkaran setan yang sulit diputus di dunia pendidikan [.]
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan 😊