
Awalnya, saya berniat memberi judul postingan kali ini “Resep Sayur Lodeh Khas Sidoarjo”. Namun setelah saya pertimbangkan lagi, judul itu agaknya kurang pas.
Alasannya, saya sendiri tidak begitu yakin akan ciri khas yang membedakan sayur lodeh Sidoarjo dengan versi daerah lain.
Di samping itu, saya pun tidak cukup percaya diri kalau resep yang saya gunakan sama dengan resep yang umumnya dijadikan acuan warga Sidoarjo...
Karenanya, lebih pas menggunakan judul yang sekarang, yang juga lebih mencerminkan isi artikel sebagaimana mestinya. Sebab, sayur ini saya olah khusus untuk bapak saya, satu-satunya anggota keluarga kami yang boleh disebut maniak sayur lodeh π¬
Jika ditanya apa yang membuat Papa begitu tergila-gila pada sayur ini—sampai-sampai memintanya sekali seminggu—saya yakin jawabannya bukanlah seratus persen karena soal rasa. Mengingat tidak ada yang istimewa dari bahan maupun cara memasaknya...
Menurut penilaian pribadi saya ada satu alasan lain yang lebih cocok, yaitu karena kelembutan tekstur dari tewel atau nangka muda di dalamnya.
Papa sudah memasuki kepala enam. Giginya sudah tidak lengkap. Makanya, pilihan makanan yang bisa dinikmatinya pun terbatas π€
Nah, sayur lodeh ini adalah salah satu hidangan yang sesuai dengan kondisinya itu. Bonus: rasanya pun kebetulan cocok di lidah Papa.
Sebelum itu, akan saya jelaskan bahan-bahan yang dibutuhkan:
- Tewel yang sudah dipotong-potong, sekitar dua genggaman tangan
- Kacang panjang, tujuh atau delapan buah
- Tahu berukuran besar, satu buah
- Cabai hijau besar, tiga atau empat buah
- Cabai rawit, secukupnya
- Ale, sekitar setengah genggaman tangan
- Santan kental, satu bungkus santan SUN KARA 65ml
- Lengkuas, tiga ruas jari
- Daun salam, dua lembar
- Air, 2.500mL atau setara dua setengah botol Aqua 1L
- Minyak goreng, secukupnya
- MSG penyedap rasa, setengah sendok teh
- Gula dan garam, secukupnya
- Bumbu Lodeh BMM Sidoarjo, dua bungkus
Setelah tidak ada satu pun bahan yang kurang, waktunya memasak π©π»π³
Pertama-tama, bumbu lodeh instan saya masukkan ke dalam freezer.
Bumbu ini akan membeku selama saya mengerjakan langkah-langkah berikutnya. Dengan begitu, bumbu tidak akan berceceran ketika nantinya dituang ke panci.
Sepele, tetapi inilah trik andalan saya di dapur supaya minyak dari bumbu tidak menempel di jari π
Selanjutnya, tewel dicuci dengan air mengalir sebelum direbus.
Tidak ada patokan mutlak mengenai lamanya waktu merebus ini. Yang jelas, tewel sebaiknya ditiriskan apabila teksturnya sudah empuk.
Cara mengetesnya begini, tusukkan pisau pada bagian atas tewel yang tebal. Perlu dicatat, bagian atas inilah—bukan bagian tengah yang berserat—yang paling sulit dikunyah gigi lansia. Karena itu, jangan sampai salah sasaran π π»♀️
Kalau pisau bisa menancap ke dalam dengan mudah, berarti tewel sudah cukup empuk.
Di sela waktu menunggu tewel empuk, kacang panjang dipotong-potong pula untuk menghemat waktu.
Ujung-ujungnya dibuang sedikit, lalu kacang panjang diiris sepanjang satu setengah ruas jari. Kemudian, irisan ini disisihkan ke dalam wadah.
Kalau tewel sudah empuk dan ditiriskan dari air rebusan, lanjutkan dengan menumbuk semuanya sampai hampir lumat.
Sekali lagi, bagian yang harus dihaluskan bukan yang berserat, melainkan bagian atas yang tebal. Walau sudah gampang ditusuk, biasanya saya masih perlu menumbuknya beberapa kali supaya teksturnya benar-benar lembut.
Yang satu ini lumayan membikin saya pegal, tetapi worth it-lah asalkan Papa bisa mengunyahnya dengan mudah nanti π¬
Setelah semua tewel halus, pindahkan ke wadah bersama potongan kacang panjang.
Berikutnya, giliran menggoreng tahu.
Satu buah tahu besar (kira-kira sebesar tahu putih Jombang) biasanya saya iris menjadi 16 bagian kecil sebelum digoreng.
Sebetulnya lebih praktis jika membeli tahu pong yang sudah matang. Namun sayangnya, tahu pong ini masih tergolong terlalu keras bagi Papa. Maka mau tak mau saya harus menggoreng sendiri tahu-tahu itu π
Oh ya, tahu cukup digoreng setengah matang, atau dengan kata lain tidak sampai kulit luarnya mengering.
Karena semua isian sudah siap, sekarang waktunya mengolah bumbu.
Dimulai dengan mengulek cabai rawit. Kemudian, merajang cabai hijau besar. Lengkuas pun dipotong menjadi tiga bagian lalu dikeprek.
Setelah itu, bumbu lodeh instan yang sudah mulai beku dikeluarkan dari freezer, lalu dimasukkan ke dalam panci yang sudah diberi minyak goreng. Masukkan juga cabai rawit halus, irisan cabai hijau besar, lengkuas, daun salam, dan ale.
Tumis campuran bumbu ini dengan api kecil.
Nah, bagian inilah yang sebetulnya paling menguji ketahanan saya, di samping menumbuk tewel tadi. Sebab dapur kami terletak di belakang tanpa ada bukaan keluar. Makanya, setiap kali menumis bumbu seperti ini saya selalu menjadi korban π€£
Aromanya yang menusuk hampir bisa dipastikan membuat saya batuk-batuk, bersin-bersih, bahkan tak jarang membuat mata saya berlinang.
Meski begitu, siksaan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa bumbu sudah matang sempurna π₯²ππ»
Selanjutnya, santan dituang ke dalam panci.
Supaya tidak ada yang terbuang, saya selalu menuangkan sedikit air ke dalam kemasan bekas santan, lalu aduk dengan sendok sampai sisa-sisa santan larut bersama air π Lalu, larutan itu dituang juga ke dalam panci.
Santan dan bumbu diaduk sampai tercampur rata, kemudian barulah air dituangkan.
Mungkin Anda merasa heran dengan takaran air yang begitu melimpah π Nah, alasan saya menggunakan air sebanyak itu adalah karena sayur ini rencananya akan disajikan sebagai teman nasi hingga hari berikutnya π
Jadi, ketimbang sedikit-sedikit menambah air setiap kali sayur dihangatkan—yang bisa mengubah rasanya menjadi kurang sedap—lebih baik sejak awal menggunakan air yang cukup banyak.
Hasilnya, sayur lodeh perlahan akan menjelma menjadi oblok-oblok, dengan tewel dan tahu yang benar-benar menyerap kuah.
Jelas rasa sayur oblok-oblok ini jauh lebih mantap daripada sayur lodeh yang baru dimasak. Mengutip istilah anak zaman now, ini dia “the real pencuri nasi” π€€
Selanjutnya, silakan sesuaikan rasa kuah dengan menambahkan MSG, garam, dan gula sesuai selera.
Yang penting, jangan sampai rasa kuah terlalu asin, sebab semakin lama kuah disusutkan, rasanya akan semakin terkonsentrasi πΆ
Kalau rasanya dianggap sudah pas, masukkan semua isian.
Aduk sebentar supaya tersebar merata di dalam panci. Lalu, masak dengan api sedang selama 30 menit.
Atau, dapat pula dengan menunggu hingga air di dalam panci berkurang setinggi satu ruas jari setelah seluruh isian dimasukkan.
Yang mana pun caranya, jangan lupa untuk sesekali memantau panci. Khawatirnya, kuah dapat meluber dan tumpah ke mana-mana π
***
Nah, itulah resep dan cara memasak sayur lodeh yang menjadi favorit bapak saya π
Papa akan semakin lahap kalau menyantap sayur lodeh ini bersama “nasi perak”—nasi yang baru saja matang—tempe goreng, dan kerupuk udang.
Jika ada kelonggaran rezeki, bandeng presto berlumur telur pun turut saya gorengkan.
Walau sudah memakai bumbu instan, tidak bisa dimungkiri kalau proses memasak sayur ini masih tergolong cukup menguras energi bagi saya...
Namun, dengan pertimbangan sepanci sayur ini bisa awet sampai dua hari—atau setara dengan sekitar enam kali porsi makan—maka saya tidak terlampau berkeberatan kalau harus sering-sering memasaknya.
Lagi pula, saya tidak perlu pusing memikirkan menu baru untuk Papa keesokan harinya. Dan yang paling penting, Papa suka π
(Plus, pengeluaran dapur lebih hemat. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui juga!)
Oke teman-teman, selamat mencoba!
(Gambar diambil dari Canva.)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan π