
Ada banyak aspek dalam kegiatan menulis yang kurang saya sukai. Saya berani melontarkan pernyataan ini karena saya mencari nafkah lewat menulis.
(Kurang pantas rasanya menyatakan ketidaksukaan pada suatu hal apabila hal itu bukan merupakan sesuatu yang saya geluti, atau setidaknya saya pahami.)
Misalnya, saya tidak suka meriset bahan sebelum menuangkan tulisan, kendati saya mengakui pentingnya data untuk mendukung klaim-klaim saya.
Saya tidak suka mencari-cari kata yang paling tepat selama menulis, kendati saya memahami pentingnya diksi yang tepat untuk menyampaikan pesan saya secara akurat.
Saya juga tidak suka menyunting setelah menulis, kendati saya menyadari pentingnya penyuntingan untuk memastikan bahwa saya sudah memberikan yang terbaik untuk pembaca.
Dengan menyebutkan hal-hal tadi, kesannya seakan saya benci menulis.
Kalau begitu, kenapa saya masih terus menulis, bahkan sampai menjadikannya mata pencaharian?
Meskipun ada banyak hal dari menulis yang kurang saya sukai, bukan berarti saya membenci menulis itu sendiri.
Malahan karena ada begitu banyak hal dari menulis yang kurang saya sukai, itulah yang membuat saya tak bisa berhenti menulis.
Karena dengan menulis saya bisa mengenali betapa payahnya diri saya ini sebagai penulis.
Menulis menjadi cara saya untuk berlatih menjadi tidak payah—dengan menjadi payah berulang kali.
***
Satu hal dalam menulis yang masih belum saya kuasai adalah bagaimana merangkai kalimat dan paragraf yang efektif.
Saat membaca tulisan ini, Anda mungkin juga bisa merasakannya.
Mungkin karena saya gemar bercerita, dan dalam bercerita saya tak mau melewatkan satu detail pun—sekalipun bagi yang mendengar, bagian-bagian tertentu lebih sering tidaklah penting dalam menyusun cerita secara utuh.
Akibatnya, pembicaraan saya jadi gampang melantur ke mana-mana.
Kekurangan saya ini juga dibenarkan oleh koreksi-koreksi dari para editor saya, yang sampai sekarang masih sering mengomentari tentang betapa panjangnya tulisan saya.
Karena itulah, setiap kali selesai menulis, tugas saya belum selesai. Saya masih harus memangkas tulisan saya di sana-sini, sambil memastikan bahwa esensinya tidak berubah.
Meskipun hal ini bertentangan dengan keyakinan saya—bahwa semua bagian itu penting—saya harus melakukannya jika ingin menjadi penulis yang baik.
Melakukan hal-hal yang tidak kita sukai, baik dalam konteks menulis maupun kehidupan secara umum, adalah sama pentingnya demi proses pendewasaan manusia menuju perbaikan.
***
Masih lekat dalam ingatan saya ketika pertama kali mendapat catatan dari editor untuk “menuliskan hal-hal yang penting saja”.
Kala itu, kepala saya penuh tanda tanya.
Mana bagian yang tidak penting dari topik ini? Bukannya lebih komplet lebih bagus? Lagipula, baik saya menulis sesuai jumlah kata yang diminta atau malah lebih panjang, bayaran saya tetap sama. Seandainya ada yang dirugikan, ya saya sendirilah yang rugi, bukan klien.
Meski saya menuruti arahan tersebut, saya tetap saja bersungut-sungut.
Itulah penyakit khas pendatang baru, sesuai dengan yang dijelaskan dalam teori efek Dunning-Kruger.
Padahal, waktu itu saya masih sangat hijau di dunia kepenulisan profesional.
Namun dalam pikiran saya, saya merasa bahwa kemampuan saya sebanding dengan para penulis senior di kantor yang sesungguhnya sudah berkiprah selama bertahun-tahun.
Lantaran keyakinan itu—yang seratus persen lahir dari arogansi khas seorang pemula—cukup lama saya mempertahankan cara menulis itu...
...sampai pada akhirnya saya menyadari betapa pentingnya menulis secara efektif.
Memang benar bahwa menulis sesuai dengan batas kata yang ditentukan lebih menguntungkan secara finansial bagi saya.
Saya tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk satu tulisan yang sebenarnya bisa saya alokasikan untuk menghasilkan tulisan baru.
Tetapi jika ditilik dari kacamata moral, itu berarti saya sudah merampas waktu pembaca yang amat berharga.
Dengan menulis secara bertele-tele alih-alih menuliskan apa yang paling pembaca butuhkan berarti saya telah mencuri aset paling berharga milik mereka. Parahnya, saya melakukannya secara sadar.
Padahal, jika saya berada di posisi sebaliknya, saya sering gemas membaca artikel di media massa yang sengaja mengisi kuota kata dengan berbagai pengantar sebelum akhirnya masuk ke inti pembahasan.
Saat menjumpai artikel-artikel yang bertele-tele seperti itu, saya rasakan seolah-olah Tuhan sedang membalas perbuatan saya kepada pembaca.
Saya pun tersentak. Dari sanalah saya belajar dan berkomitmen untuk menulis dengan efektif.
(Paling tidak dalam lingkup pekerjaan. Untuk esai pribadi seperti tulisan ini, kebiasaan itu masih belum bisa saya hilangkan sepenuhnya.)
***
Genap tujuh tahun saya bekerja sebagai penulis lepas di agensi ini, akhirnya saya diangkat menjadi penanggung jawab tim penulis.
Saat ini saya me-manage 13 penulis dengan kompetensi yang berbeda-beda.
Pekerjaan ini tidaklah serumit posisi editor, karena tanggung jawab saya lebih mirip tukang tagih naskah menjelang deadline alih-alih mengoreksi tulisan para penulis.
Meski begitu, dari peran baru inilah saya tersadarkan betapa angkuh dan payahnya diri saya tujuh tahun lalu.
Seolah-olah saya dapat bercermin dari masing-masing penulis di bawah koordinasi saya setiap kali berinteraksi dengan mereka.
Ambil contoh Penulis A, yang kebiasaannya menyerahkan naskah telat satu-dua hari ketimbang on time—di sana saya melihat bayangan diri saya sendiri yang dulu juga payah dalam memanajemen waktu.
Sementara itu, dari Penulis B yang cenderung menulis sekadar mengikuti apa yang tertulis di lembar panduan, saya melihat cerminan diri saya yang dulu juga kurang peka dalam menangkap kebutuhan spesifik masing-masing klien.
Dari Penulis C, saya mendapati bayangan diri saya yang enggan memberikan nilai tambah bagi pembaca. Dari Penulis D, tampak diri saya yang lamban merespons tren penulisan terbaru, dan demikianlah seterusnya.
(Saya jadi ingin tahu, apakah para editor saya pun sempat mengalami kilas balik yang sama ketika sedang mengoreksi tulisan-tulisan saya…)
Tujuh tahun lamanya saya butuhkan untuk menyadari betapa jauh saya telah berkembang, dan perkembangan itu terjadi semata-mata karena saya tak henti menulis.
Memang benar bahwa saya tak bisa berhenti menulis sebab inilah pekerjaan saya.
Tetapi andai setelah satu-dua tahun bekerja saya mengambil keputusan untuk banting setir, saya ragu akan meneruskan kebiasaan menulis jika tidak dibutuhkan dalam karier baru saya.
Sedangkan sekarang, meskipun berprofesi sebagai penulis, waktu senggang saya pun masih terisi dengan hal-hal yang berbau tulisan—entah itu meresapi goresan orang lain atau mempertajam goresan sendiri.
Saya masih menyimpan draf tulisan untuk klien-klien awal saya. Tatkala saya membandingkannya dengan tulisan saya yang paling baru, saya tidak bisa berhenti tertawa.
Jika saya menilainya dengan standar kemampuan saya sekarang, saya tanpa ragu akan memberikan skor 4 dari 10 untuk tulisan-tulisan itu.
Nilai itu saya sematkan bukan cuma karena pembahasannya yang melenceng ke berbagai hal, tetapi juga karena konstruksi kalimat panjang yang membuat siapa pun yang membaca kehabisan napas, gaya bahasa yang tidak sesuai dengan brand identity klien, serta kekurangan-kekurangan lain yang agak memalukan untuk saya sebutkan.
Barangkali pada masa itu saya berpikir bahwa hanya dengan modal kemampuan menulis mengikuti kaidah KBBI saja sudah memadai untuk menghasilkan uang dari bidang ini.
Karena itu, ketika sesekali saya diminta bantuan untuk meninjau draf awal para penulis binaan saya, saya selalu mengingatkan diri untuk tidak merasa lebih hebat, khususnya saat mengecek pekerjaan penulis-penulis pemula.
Sebab pada satu titik di masa lalu, saya pun berada di posisi yang sama seperti mereka.
Lalu bagaimana dengan tulisan saya sekarang?
Saya nilai masih di kisaran 7 dari 10.
“Tujuh tahun berlalu, kenaikannya cuma segitu?”
Barangkali Anda akan heran.
Akan tetapi saya justru senang dengan angka itu.
Karena 7 itu lebih baik daripada 4, tetapi masih cukup jauh dari 10—dan itu berarti perjalanan saya masih terus berlanjut.
***
Dengan demikian, bahwa saya bisa menulis seperti sekarang ini, itu bukan berarti saya seorang penulis berbakat. Itu adalah buah dari ketekunan saya.
Ya, ketekunan saya sepanjang tujuh tahun terakhir, yang pada mulanya tidak saya rasakan hingga saya mengukur diri saya sendiri.
Kemajuan ini sama halnya dengan berbagai aspek kehidupan saya yang lainnya, yang mustahil meningkat dengan sendirinya—misalnya memasak, menjahit, berinteraksi dengan orang-orang dari lintas usia, tawar-menawar barang di pasar, dan lain-lain.
Karenanya, bagi Anda yang sedang resah karena tulisan Anda tak kunjung menunjukkan kemajuan, satu-satunya wejangan yang mampu saya titipkan adalah: teruslah maju.
Teruslah melangkah, dan dari waktu ke waktu, tengoklah ke belakang—ke garis awal keberangkatan Anda.
Bila Anda hanya maju ke depan tanpa menyusuri kembali jejak perjalanan Anda, Anda akan gagal mengukur seberapa jauh sesungguhnya Anda telah berjalan, dan akhirnya putus asa karena mengira tidak pernah mengalami kemajuan.
Sebaliknya, apabila Anda merasakan adanya sedikit peningkatan, jangan lantas besar kepala. Jauhi efek Dunning-Kruger sebagaimana Anda menjauhi anjing gila.
Baik perasaan bahwa diri tidak kunjung berkembang maupun perasaan bahwa diri sudah melesat jauh—keduanya sama-sama mampu membuat penulis mati kutu dan mandek di tengah jalan.
Kisah Ernest Hemingway mungkin merupakan yang paling terkenal mengenai betapa sulitnya menulis, sekalipun bagi seorang pemenang Nobel.
Pada 1958, Hemingway diwawancarai oleh The Paris Review. Dalam wawancara itu ia mengungkapkan bahwa ia merevisi bagian akhir A Farewell to Arms sebanyak 39 kali.
Satu-satunya alasan adalah karena ia mengalami kesulitan merangkai kata yang paling pas, kendati bagian akhir yang lain menurut penilaiannya sendiri sudah cukup baik.
Puluhan tahun sesudahnya, sang cucu, Sean Hemingway, sewaktu menelusuri manuskrip-manuskrip kakeknya yang disimpan di Perpustakaan Kepresidenan John F. Kennedy di Boston, menemukan bukan hanya 39, tetapi 47 versi akhir yang berbeda.
Bayangkanlah, 47 kali menulis ulang babak kematian tokoh utama, tetapi setiap kali Hemingway membuangnya lantaran belum merasa yakin.
Virginia Woolf, penulis Mrs Dalloway dan A Room of One’s Own, juga secara terbuka mengakui kesulitannya dalam menulis, terutama dalam menyunting.
Dalam catatan diarinya pada 6 Januari 1925, ia menulis:
“Revisi adalah bagian paling membosankan dari seluruh urusan menulis; yang paling menyedihkan dan melelahkan.”
Woolf tak pernah berhenti memperbaiki naskahnya. Mulai dari draf asli, ke draf tik, hingga halaman proof, ia terus-menerus mengubah tulisannya.
Di tahap proof—yang semestinya tinggal selangkah lagi menuju final—ia masih melakukan ratusan koreksi: pada tanda baca, diksi, susunan kalimat, sampai dengan penyelipan adegan-adegan baru.
Hingga di satu titik, ia terserang flu dan nyaris dua minggu lamanya tidak bisa mengutak-atik proof-nya.
Dalam suratnya kepada seorang teman, ia mengungkapkan rasa malunya karena proof-nya masih “kacau” dan belum rampung ia benahi.
Bayangkanlah, tanpa henti mengutak-atik naskah yang sudah hampir siap cetak, tetapi setiap kali Woolf masih merasa perlu melakukan perbaikan.
Hemingway maupun Woolf, dengan caranya yang berbeda, memperlihatkan bahwa “menulis” dan “mudah” adalah dua kata yang tidak bisa ditempatkan bersama dalam satu kalimat.
Woolf menderita karenanya, sedangkan Hemingway menjadi gila bekerja seperti tukang batu yang memahat batu yang sama puluhan kali.
Namun, kedua penulis yang karya-karyanya kini dianggap sebagai warisan klasik itu tidak kunjung menyerah.
Dan jika mereka tidak menyerah, maka kita—yang tulisan-tulisannya belum tentu setara dengan karya mereka—juga tidak perlu berhenti.
Karena itu, hari ini saya kembali menyalakan laptop, kembali mencurahkan segala yang ada di benak saya, dan dengan terhuyung-huyung merangkainya menjadi sebuah karangan yang padu.
Saya juga mengajak Anda untuk melakukan hal yang sama.
Apapun yang ingin Anda ungkapkan, tulislah.
Teruslah menulis, sampai Anda merasa tersiksa olehnya.
Karena siksaan itu adalah cara untuk berlatih menjadi penulis yang tidak payah—walau harus dengan menjadi payah berulang kali [.]

I have missed you and am very happy 😊 to see your post. I am not sure what to say here, because I don't have a talent for writing. I think writing can be therapeutic in the sense that it gives us a chance to express our feelings.
BalasHapusThank you so much for sharing this.
menulis itu adalah terapi bagi sesetengah orang...menulis juga hobi, selain dari sumber pendapatan juga (kalau jawatan editor, penulis buku etc)..apa2 pun, yg penting kita gembira dgn hasil kerja kita dan mudah2an dapat berkongsi manfaat juga dengan org lain
BalasHapusMenulis itu tidaklah mudah, makanya di Indonesia sedikit orang menulis, lebih asek jadi pembicara atau lebih mudah ngomong ngalor ngidul.
BalasHapusSaya saja, sampai saat ini masih minim kosan kata. Sehingga setiap artikel kata kata atau kalimatnya masih sering serupa. Apalagi soal ngedit, sering kelewat, salah huruf atau salah kata gegara tombol otomatis.
Tapi ya itu, semua menjadi ajang belajar dan ajang mencari nafkah.
Hi again, I really appreciate your kind comment on my blog. I actually live in Montreal. I was born in Montreal in 1956 and have lived here all my life. It's a beautiful big city.
BalasHapusGetting back to the topic of writing. I do think it can be very helpful even for people who don't really have the talent, because it gives one the opportunity to share feelings, thoughts and experiences.
As well, it may also help others to learn how to deal with any situation in life.