29 Mei 2026

Merutinkan Jalan Kaki

jalan kaki

Belakangan ini saya mulai rutin berjalan kaki lagi—walau baru memasuki hari kedua hahahaha...

Pada dasarnya saya bukan tipe orang yang konsisten melakukan sesuatu, jadi menurut saya ini termasuk perkembangan yang lumayan bagus.

Bisa melakukannya selama dua hari berturut-turut saja saya sudah amat bersyukur. Yah, paling tidak menurut standar saya sendiri begitu 😬

Saya memutuskan berjalan kaki lagi karena kondisi badan akhir-akhir ini sedang drop parah. Otot-otot terasa kaku, sendi-sendi terasa linu, kepala rasanya seperti berdenyut-denyut...

Dan yang paling fatal, selera makan saya berkurang. Padahal aslinya saya orang yang suka makan. Dan begitu lidah ini tidak berselera, saya pun menyadari ada yang tidak beres.

Maka dari itu, saya mulai lagi kebiasaan jalan-jalan.

Sebetulnya jalan kaki ini sudah menjadi kebiasaan yang saya tekuni sejak saya pertama kali menerima diagnosis tumor pada tahun 2024. Meski tidak dijalani secara rutin, saya selalu kembali melakoninya tiap kali butuh.

Terus terang agak memalukan untuk saya akui, tetapi sebelum menerima diagnosis itu saya bukanlah orang yang serius menjaga kesehatan. Baru saat itulah saya betul-betul merasakan sendiri betapa pentingnya menjaga tubuh dengan baik 🥲

Kala itu, wejangan dari Plato pun membekas bagi saya.

“Kurangnya aktivitas akan merusak kondisi terbaik manusia, sedangkan gerakan dan olahraga teratur mempertahankannya.”

Nah, filsuf dari ribuan tahun silam sudah membocorkan semua solusinya. Lantas mengapa saya baru tersadar setelah babak belur menerima konsekuensinya? Agaknya memang begini caranya manusia belajar 😂

* * *

Bisa dibilang dulu saya hidup dalam yang namanya power-saving mode.

Saya jarang bergerak kecuali memang sangat terpaksa, karena tidak suka jika ritme kerja saya terganggu.

Makan pun sering saya anggap terlalu merepotkan, hingga menjadi kebiasaan untuk melewatkannya.

Lebih parah lagi, jangankan jauh, untuk jarak 50 meter pun dulu saya tetap memakai sepeda motor lantaran tidak mau capek 🤡

Begitu parahnya pola hidup saya kala itu, hanya beberapa langkah saja sudah membuat napas tersendat, ditambah hampir setiap hari saya sakit kepala. Kalau sedang parah, perut saya mual hebat sampai seperti mau muntah.

Tetapi ketika itu saya tidak menganggapnya sebagai peringatan dari tubuh. “Ah, mungkin cuma kecapekan biasa,” begitu pikir saya.

Lalu, setelah dijangkiti tumor, saya baru sepenuhnya tersadar. Jika pola hidup seperti ini diteruskan jelas tidak akan baik.

Sejak momen itu, saya mulai memahami pentingnya merawat tubuh. Dan perubahan pertama yang saya lakukan adalah mengurangi perilaku sedentari yang amat saya gemari itu.

Meski begitu bukan berarti saya langsung mengambil langkah besar untuk berubah! 😬 Karena olahraga intens bagi saya sudah terasa berat, bahkan sebelum dicoba.

Stamina pun tidak prima, apalagi kalau harus memikirkan hal-hal seperti membeli perlengkapan ini-itu hingga menyusun jadwal latihan... Semuanya di luar kapasitas energi saya kala itu.

Nah, berbeda dengan jalan kaki. Cukup memakai sepatu dan langsung keluar rumah, beres. Yang terpenting, ini adalah aktivitas yang paling mudah—dan murah—untuk langsung dimulai.

Karena alasan-alasan inilah saya akhirnya memilih jalan kaki sebagai bentuk olahraga

* * *

Rute jalan kaki saya cuma di sekitar kampung saja. Tidak ada tujuan yang wah atau keinginan untuk pergi ke tempat yang jauh.

Tetapi di awal-awal, bahkan hal yang ringan sekali pun terasa tidak mudah. Jalan kaki 10-15 menit saja sudah terasa berat 🥺

Itu pun bukan dengan tempo cepat layaknya olahraga, melainkan sekadar jalan-jalan santai sambil mencari angin.

Namun perlahan-lahan tubuh saya mulai terbiasa. Menguat pula stamina saya. Sampai pada akhirnya saya bisa berjalan dengan cukup nyaman selama 20-40 menit.

Di hari-hari libur, saya sesekali berjalan hingga hampir satu jam lo 😁

Dan seiring berjalannya waktu, entah karena mulai muncul sedikit ambisi, saya pun sesekali mencoba yang namanya “jalan ala Jepang” yang saya pelajari dari video NHK WORLD-JAPAN ini.

Triknya adalah bergantian antara jalan cepat dan jalan lambat. Di luar dugaan, metode ini cukup menguji stamina.

Sewaktu pertama kali mencobanya, saya sempat mengeluh, “Katanya jalan santai, kok jadi tes kebugaran begini sih?!” 🤡

Tetapi jelas terasa bahwa daya tahan saya untuk berjalan jarak jauh dan dalam waktu lama mulai meningkat.

Pada awal mencobanya, hanya setelah beberapa menit berjalan saya langsung batuk-batuk. Tulang rusuk juga terasa nyeri seperti mau pecah. Otot kaki yang jarang digunakan pun sangat pegal, sampai-sampai saya harus memakai koyo berhari-hari.

Namun kini keluhan-keluhan tadi sudah banyak berkurang. Jika dibandingkan dengan sebelumnya perbedaannya cukup besar. Saya sendiri cukup takjub dibuatnya 😳

Tetapi yang lebih mengejutkan adalah bahwa bukan cuma daya tahan tubuh yang meningkat. Saya juga menilai pikiran pun menjadi lebih jernih.

Berhubung saya harus work-from-home dengan durasi yang lumayan panjang—dari pukul 9-an hingga larut malam—sering timbul di diri saya perasaan seperti terpenjara di rumah sendiri.

Terlalu lama duduk dan memutar otak membuat saya merasa tidak nyaman secara mental, hingga hal-hal kecil pun membuat saya lebih mudah tersinggung. Entahlah.

Misalnya, saya mudah merasa gelisah jika respons klien dari klien sedikit terlambat. Kalau pekerjaan tidak berjalan mulus, saya refleks over-thinking. Tanpa sadar, saya juga mulai hobi menggerundel tentang keluarga dan kondisi rumah.

Dipikir-pikir lagi, bukan hanya tubuh yang kaku, tetapi pikiran saya juga ikut mengalami kondisi serupa 😣

Anehnya, begitu keluar rumah untuk jalan-jalan, perasaan-perasaan negatif itu perlahan-lahan memudar.

Namun tentu saja bukan berarti hidup saya mendadak lebih optimis atau saya langsung mendapatkan pencerahan batin layaknya sang Buddha. Tidak sampai sehebat itu kok 😂

Stres karena tenggat waktu masih ada. Begitu pula dengan pekerjaan yang kurang saya sukai, yang masih saja tidak menyenangkan untuk dikerjakan.

Setidaknya pikiran yang selalu mengarah ke hal-hal negatif sudah tidak sekuat dulu.

Siapa sangka, terlalu lama berada di satu tempat yang sama bisa membuat cara pandang menyempit…

* * *

Oh ya, saya punya waktu khusus untuk menjalankan ritual ini.

Saya sebenarnya tipe orang yang paling produktif di pagi hari. Karena itu, saya biasanya langsung mulai bekerja begitu bangun tidur. Tetapi sekarang saya justru memilih untuk jalan-jalan lebih dulu.

Kalau saya rencanakan setelah selesai bekerja, kemungkinan besar justru tidak akan saya lakukan. Saya belum sepenuhnya percaya pada komitmen diri sendiri. Bisa dibayangkan, saya akan terus menunda entah sampai kapan.

Makanya, saya putuskan untuk melakukannya di pagi hari sebelum aktivitas lain dimulai.

Saya bangun sekitar pukul 04.30. Setelah salat subuh, menyikat gigi, dan minum segelas air, saya keluar rumah sekitar pukul 05.00.

Nah, soal waktu ini sebenarnya sempat mengalami beberapa kali penyesuaian. Dari pukul 04.30 hingga 05.30, dan akhirnya sekarang saya putuskan untuk mulai sekitar pukul lima.

Kalau terlalu pagi tidak cocok. Sebab jalanan masih terlalu sepi dan menimbulkan waspada berlebihan tiap terdengar suara-suara kecil sekali pun.

Sebaliknya jika terlalu siang, jumlah orang yang beraktivitas di luar rumah bertambah dan kendaraan bermotor lebih ramai, sehingga menjadi kurang nyaman secara pribadi.

Nah, pukul lima ini pas di antara keduanya. Langit masih belum terang, tetapi jalanan-jalanan juga belum disesaki oleh lautan manusia. Atmosfernya pun istimewa, karena udaranya yang cenderung basah dan dingin.

Di samping itu, mengamati orang-orang yang jalan-jalan di waktu yang sama juga cukup menyenangkan.

Khususnya di pagi hari Minggu, jalanan kampung jauh lebih hidup daripada hari-hari sebelumnya.

Banyak orang mengenakan jersey, baik berjalan kaki maupun berlari, dan rentang usianya pun ternyata lumayan beragam.

Dulu saya tidak terlalu memperhatikan hal ini, tetapi setelah mulai rutin keluar di pagi hari, saya menyadari bahwa cukup banyak orang yang aktif bergerak tiap pagi.

Tampaknya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan kian meningkat, dan melihat pemandangan seperti itu diam-diam membuat suasana hati saya ikut menjadi lebih positif

***

Sungguh, saya masih belum bisa disebut sebagai individu yang rajin apalagi disiplin dalam menjaga diri.

Sesekali saya masih ingin mematikan alarm dan kembali tidur, sambil terlintas pikiran seperti, “Hari ini bolos ah...”

Namun jika ditanya apa bedanya saya yang sekarang dan dulu... Mungkin fakta bahwa sekarang saya tidak lagi ingin abai akan sinyal-sinyal yang diberikan tubuh?

Walau hanya sebentar di pagi hari, agenda jalan kaki itu sudah membuat saya menjadi sedikit lebih enteng—baik jasmaniah maupun batiniah.

Dan mengingat saya baru sebatas memulai ulang, saya belum tahu apakah nanti konsisten atau tidak. Maklum, tekad saya lebih seringnya hangat-hangat tahi ayam 🤣

Meski begitu, untuk beberapa waktu ke depan saya ingin merutinkan berjalan kaki ini.

Karena bagi saya yang sekarang, inilah cara menjadi sehat yang paling tidak membebani untuk dijalankan dalam jangka panjang [.]

 

(Gambar diambil dari Canva.) 

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan 😊

© m o f u m e m o
Maira Gall