
Saya terbiasa mendengarkan cerita Papa tentang bagaimana keluarganya harus hidup dalam kemelaratan dan situasi yang serba tidak menentu selama bertahun-tahun akibat kerusuhan mencekam tahun 1965 dulu.
Jika saya meminta Papa untuk menjelaskan betapa melaratnya
kehidupan mereka saat itu, keadaannya sudah sampai pada titik di mana mbakyu
sulungnya pun menangis tersedu-sedu setelah kehilangan 50 rupiah terakhir yang
diberikan eyang putri saya—ibu dari Papa—yang rencananya akan dipakai
membeli sedikit minyak gas untuk memasak.
Namun, penderitaan semacam itu tak hanya dialami keluarganya
saja. Sebab kala itu memang merupakan masa yang amat berat bagi hampir semua
orang, masa ketika hidup miskin adalah sesuatu yang lumrah...
Sewaktu kanak-kanak, saya mengira tidak akan pernah
mengalami situasi serupa sampai perang yang baru-baru ini terjadi meletus.
Keluarga saya tentu masih diberkahi Allah SWT karena kami
masih mampu membeli kebutuhan pokok seperti beras atau minyak goreng tanpa
harus menangis tersedu-sedu kalau-kalau kehilangan uang 20.000 rupiah di jalan
menuju pasar.
Tetapi semakin hari berlalu, semakin membesar pula rasanya
kekhawatiran akan masa depan yang bercokol di dalam diri saya.
Walau negara ini tidak terlibat langsung dalam perang itu,
saya sendiri sudah bisa melihat bagaimana pengaruhnya mulai merembet ke
kehidupan rakyat kecil sehari-hari.
Sulit bagi saya membayangkan betapa jauh lebih beratnya
kehidupan Papa pada masa itu.
Sepuluh kali lebih berat?
Tidak, rasanya pasti seratus kali lebih berat, apalagi eyang
putri harus banting tulang seorang diri menghidupi ketujuh anaknya setelah
PKI menjagal eyang kakung—yang konon adalah pejabat terpandang di Kediri
kala itu.
Itulah sebabnya belakangan ini saya lebih tertarik membaca
cerita-cerita lama mengenai perang.
Di antara semua cerita itu, cerita pendek berjudul Berurusan
karya Gde Winnyana inilah yang terasa paling selaras dengan apa yang
sedang saya saksikan sekarang ini.
Meski ceritanya disampaikan dari sudut pandang anak-anak dan
diselingi berbagai tingkah lucu, cerita ini tetap berhasil membuat saya banyak
berpikir dan merenung tentang perang.
Saya berharap cerita ini juga dapat meninggalkan pengaruh
yang sama bagi teman-teman semua…
***
Cepat sekali aku bangun ketika Nenek menggugahku.
Dengan air secedok mukaku dicuci Nenek hingga sesudahnya terasa ringan. Nenek
juga mengenakan baju kapas dan celana kapas yang sangat kubanggakan dan baru
kemarin dicuci Nenek seputih kapas yang sudah kotor. Aku merasa gagah benar berpakaian
putih-putih, paling gagah di antara kawan-kawan yang punya celana goni atau
kulit kayu. Apalagi celanaku punya potongan pakai kantong dua di belakang dan
tali gantung ke bahu. Bajuku punya potongan seperti baju Seinendan. Hebat
sekali.
Setelah menyalakan obor kami berangkat. Bintang timur masih
kelihatan dan arah di bawahnya puncak-puncak bukit masih menghitam. Tapi kokok
ayam sudah ramai di sana-sini.
Sudah hampir lima bulan tidak ada perhubungan dari kota ke
desa. Hingga selama itu paman-pamanku yang tinggal di kota tak pernah pulang. Dan
Nenek juga tak pernah ke kota. Datuk sudah hampir delapan bulan meninggalkan
kami. Seperti pesannya terakhir kepadaku, datuk tidak akan pulang lagi kalau
sekali ia pergi. Aku masih ingat sekali ketika suatu kali datuk berkata bahwa
datuk akan mati sebab ada perang. Ucapan itu dikeluarkan tengah hari dan besok
paginya datuk kami tangisi. Datuk sudah meramalkan kematiannya sendiri.
Semua pusaka datuk diurusi Nenek. Seharusnya pusaka itu
dibagi empat, sebab datuk punya anak laki-laki tiga orang. Para pamanku mendapat
bagian yang sama dengan bagian Nenek, tapi bibi-bibi, juga ibuku, tak dapat
bagian sepeser pun. Mereka tak berhak sama sekali turut mewarisi pusaka datuk. Tapi
aku tahu sekali bahwa ibuku dan bibi-bibi yang masih perawan padahal telah
diajak datuk menggarap semua tanahnya. Sedangkan paman-pamanku sejak kecil
sudah sekolah di kota. Paman-paman sama sekali tidak pernah turut pegang caluk,
apalagi memeras keringat turut membantu datuk. Oleh sesuatu keadaan paman-paman
dan Nenek belum melaksanakan pembagian itu, sehingga semua masih di bawah
tangan Nenek.
Dengan terputusnya hubungan antara desa dan kota, maka
segala urusan menjadi tugas Nenek, sebab kalau ada apa-apa dari pemerinah
mengenai tanah datuk, segalanya disalurkan ke kantor distrik atau kantor sedahan,
dan ke sanalah Nenek berurusan mengenai pajak atau upeti. Kali itu pun Nenek
menghadapi urusan seperti itu dan aku diajaknya.
Aku tak berani berjalan di belakang Nenek, sebab seringkali
aku dengar dalam cerita-cerita bahwa banyak anak yang hilang kalau berjalan di
belakang orang tuanya. Lagi pula Nenek menyuruh aku berjalan di mukanya. Nenek
memegang obor dan menjunjung sebuah penarak yang berisi ketupat, telur
rebus dan kacang goreng. Kadang-kadang aku ngeri kalau menoleh ke samping
kelihatan bayangan Nenek melonjak-lonjak. Tapi aku lupa pada takut kalau sedang
mengamat-amati bajuku.
Berulang kali kuusap-usap sakunya yang dua buah itu dan uang
setali yang ada di dalamnya kukeluar-masukkan tiap sebentar.
“Nek, kita akan jumpa Jepang, Nek?”
“Tidak. Kita menghadap Ratu Punggawa.”
“Ratu Punggawa seperti siapa, Nek?”
“Ratu Punggawa bagus, seperti pamanmu.”
“Kita akan diapakan, Nek?”
“Kita hanya disuruh menghadap.”
“Masih jauh Nek?”
“Tidak. Jalan sajalah, nanti kan sampai.”
Ketika sampai di ujung desa belum juga begitu terang. Semua
masih serba hitam. Kami mengikuti jalan yang mendaki yang di atasnya tertutup
daunan yang rimbun. Kemudian sampai pada bagian yang kurang tertutup, tanah itu
adalah perkebunan kopi. Kalau kebetulan terdapat suara burung hantu aku tak
berani renggang dari Nenek. Sampai sering kaki Nenek menyundul tumitku, hingga
junjungannya goyang.
Nenek sedapatnya bercerita padaku tentang tempat yang akan
kami tuju itu. Tentang Ratu Punggawa, tentang cara menghormat dan menghadap,
tentang cara berbicara dan tentang segala yang diketahuinya, hingga aku lupa
pada takut.
“Ketupat itu dimakan di mana Nek?”
“Kita makan kalau sudah siang.”
“Nanti disisakan beberapa buah untuk dimakan waktu pulang ya
Nek?”
“Ya, tentu.”
“Ratu Punggawa sudah jadi Jepang, Nek?”
“Ratu Punggawa tidak jadi Jepang. Masih tetap jadi Punggawa.
Tapi beliau mendapat nama lain dari Jepang. Entah apa itu, Nenek lupa.”
“Ratu Punggawa punya celana dan baju bagus, Nek?”
“Tentu, sebab diberi Jepang.”
“Mudah-mudahan saya akan diberi juga, ya Nek?!”
“Mudah-mudahan.”
“Bintang timur sudah tenggelam Nek.”
“Sebentar lagi akan pagi.”
“Kita sudah sampai di mana ini Nek?”
“Ujung desa Pedawa, desa Bali asli, Baliage.”
“Desanya orang jual gula itu Nek?”
“Betul. Datukmu punya kenalan baik, di sini.”
“Nanti kita mampir, minta gula, yo.”
“Kalau kita kembali, nanti kita singgah. Biar tidak
terlambat kita terus dulu.”
“Yang di barat itu bintang apa, Nek?”
“Itu bintang siang.”
“Oya, ya, saya lupa dulu sudah Nenek bilangi.”
“Bintang luku sudah tenggelam Nek?”
“Tapi itu bintang layang-layang masih tampak.”
“Oh, sudah hampir siang kalau begitu. Matikan saja obornya.”
“Sebentar lagi.”
Aku benar-benar merasa bangga dan gagah lewat di muka
anak-anak di desa Pedawa, yang kebanyakan tak bercelana dan kalau ada yang
bercelana pun maka celananya kulit kayu. Makin putih kelihatannya baju dan
celanaku ketika hari makin terang. Aku masukkan kedua tanganku ke kedua saku
celana sambil berjalan dengan langkah-langkah Seinendan berbaris.
Ketika matahari kelihatan sinarnya kami sudah mengikuti
jalan yang menurun. Sudah pula melewati desa Pedawa. Sepanjang jalan jarang ada
dedaunan menutupi jalan, malah penaung saja kurang. Nenek juga mendongengkan
mengapa di desa Pedawa banyak enau. Pada jaman dahulu ada seorang pedagang yang
tertipu.
Menurut Nenek, adalah seorang yang berjanji mau membeli buah
enaunya sekepeng sebuah. Maka dengan girang hati pedagang itu menyanggupi. Setelah
beberapa lama datanglah ia membawa sepondong buah enau dengan harapan
akan mendapat untung banyak, sebab di desanya buah enau dapat dicari, tak usah
membeli. Dicarinya orang yang mau beli itu. Yang mau membeli itu mengambil satu
buah enaunya dengan membayar sekepeng, sebab dia berjanji mau membeli sekepeng
sebuah dan dia tidak butuh lebih dari sebuah saja. Betapa marah pedagang itu. Buah
enaunya dilemparkannya berhamburan. Itulah yang sekarang menjadi pohon enau
yang banyak itu yang menghasilkan banyak tuak untuk gula. Nenek juga
menceritakan adat kebiasaan orang Pedawa.
“Bahasa mereka lain dari bahasa kita. Juga adat mereka
banyak tak sama dengan adat kita.”
“Dulu Nenek bilang, orang Pedawa tak boleh dimintai tuak di
tengah jalan, sehabis menurunkan dari pohonnya. Kenapa, Nek?”
“Kalau dimintai di tengah jalan nanti, sisanya tak mau jadi
gula atau pohonnya berhenti mengalirkan tuak.”
“Kita coba yo, Nek.”
“Jangan! Nanti dimarahi orang.”
“Gitu saja Nenek tak mau.”
“Tidak boleh!”
“Saya ingin minum tuak yang manis.”
“Kalau ada yang dagang, nanti kita beli.”
“Sungguh ya Nek.”
“Sungguh! Masa’ tak sungguh. Di sini tidak boleh bohong-bohongan.
Orang sini tak ada yang bohong. Kalau berbohong mungkin orang tidak tahu, tetapi
dewa-dewa tahu saja. Orang yang bohong pasti dihukum dewa.”
“Nek, katanya gula itu kotor ya. Bagaimana gula bersih
begitu dikatakan kotor?”
“Kotor waktu membuatnya. Sebab juruh yang tak habis diminum
dituang lagi ke kuali pemasaknya. Jadi, bekas mulut orang.”
“Tapi kenapa Nenek suka beli juga?”
“Tidak semua orang yang membuat gula, kotor. Ada juga yang
bersih.”
“Tapi kalau kebetulan dapat yang kotor?”
“Kita kan tidak tahu. Kita tidak melihat.”
“Nek, sudah panas.”
Ketika aku mengatakan panas, Nenek segera mengajakku
mengaso. Kami mengaso di bawah sebatang pohon santan. Nenek membelahkan buatku
ketupat dan telur. Aku makan lahap sekali, tapi Nenek cuma memandang aku dan
sekali-kali menghapus keringat di dahiku.
“Kenapa Nenek tak makan?”
“Nenek belum lapar.”
Dua buah ketupat kuhabiskan dan sebutir telur. Setelah makan
kerongkonganku terasa tersumbat dan Nenek bingung melihat aku. Untung dekat
sana ada sawah. Maka aku minum air sawah yang masih kemerah-merahan berlumpur. Rasanya
pekat amis.
Tapi air itu masih lebih enak daripada kencing, yang suatu
kali pernah kucoba kucicipi karena ditipu kawan-kawan. Waktu itu kami main-main
ke bukit. Setelah jauh berjalan kami payah dan haus, tapi tak ada air sama
sekali. Tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan mentah juga tak ada. Tapi kemauan
keras sekali untuk meneruskan perjalanan. Tiba-tiba seorang kawan mendapat
akal. Diambilnya sehelai daun yang agak lebar, lantas dia jongkok menampung
kencingnya. Kami mengerinyutkan bibir melihat dia meneguk kencing itu. Tapi dia
kelihatan terlepas dahaganya, dan segar, serta menggerak-gerakkan tangannya ke
atas. Enak, asin-asin, katanya. Lantas kami berlomba mengambil daun dan
menampung kencing. Baru saja setetes menyentuh mulutku sudah begitu hebat
desakan dari dalam perutku. Aku muntah seketika. Alangkah ramai teman-teman
menertawakan aku. Mereka berlompat-lompat. Aku terus makin tak enak, kepalaku
pusing, mata nanar karena marah dan lama aku jongkok menekan-nekan ulu hati. Akhirnya
aku betul-betul skait dan tak bisa berjalan. Terpaksa mereka berganti-ganti
menggendong pulang aku dan bertengkar mulut selama perjalanan itu.
“Kenapa kau tipu dia? Mestinya kau sendiri yang menggendong
dia.”
“Kau juga turut.”
“Tapi aku kan belum mengapa-apa.”
“Tapi kau berdua tadi turut merencanakan.”
“Hanya merencanakan. Tapi kau yang mengerjakan.”
Sambil berjalan terus pertengkaran kecil itu berlangsng. Aku
merasa makin baik dan sekiranya aku tak mengakali mereka tentu sudah dapat
berjalan. Aku pura-pura masih lemas dan tidak kuat berdiri. Tahu rasa mereka
menggendong aku sampai di rumah! Dan aku tersenyum puas dalam hati.
“Nanti ibunya marah,” kata teman yang sedang menggendongku.
“Biar kau yang dimarahi, sebab kaulah yang menipunya.”
Tiba-tiba aku ingat pada Ibu yang tak kumintai ijin waktu
pergi. Kalau aku pulang sakit tentu makin dimarahi, tidak kawan-kawan saja. Dan
setelah agak dekat dengan rumah aku bilang pada yang kugendongi:
“Aku sudah bisa jalan.”
Lantas diturunkannya aku, mereka kelihatan lebih senang
daripada tadinya.
Setelah beberapa lama barulah kuketahui akal kawan itu,
bagaimana caranya menipu aku. Waktu dia jongkok memegang daun yang sudah
dipincukkan, sebenarnya tidak betul kencingnya ditampung. Itu tak kulihat sebab
dia memunggungi aku. Dan karena daun itu agak tebal tak kulihat dari luarnya
apakah berisi kencing atau tidak. Tapi dia menampakkan muka yang
sungguh-sungguh seolah minum minuman yang sedap. Karena itu, aku kena tipunya
dan tanpa kurencanakan sebelumnya aku enak digendong pulang . . . .
Karena payah aku tak banyak bertanya-tanya kepada Nenek.
Hanya sekali-sekali kutanyakan segala sesuatu yang belum pernah kulihat. Terutama
tanam-tanaman yang tumbuh di tanah yang gundul itu. Yang banyak terdapat ialah
pohon lentana yang di mana-mana sudah kulihat. Tapi kaktus yang panjang-panjang
durinya dan tinggi pohonnya belum pernah kulihat. Di tanah gundul itu seolah
menjadi pagar sepanjang pinggir jalan.
Jauh sebelum masuk ke kantor distrik Nenek sudah membebatkan
handuk di punggungnya.
“Untuk apa Nek,” tanyaku.
“Kalau menghadap harus begini.”
“Untuk saya mana?”
“Ged tak usah pakai, sebab masih kecil. Asal ingat jalannya,
harus merendahkan badan.”
“Kalau tak begitu Nek?”
“Dimurkai Ratu Punggawa atau tuan Jepang.”
Ketika memasuki pintu gerbang, Nenek berjalan setengah
jongkok dan aku meniru-niru. Tangan Nenek dikatupkan di depan dada sejajar
dengan ujung dagu. Aku payah berjalan begitu, tapi takut menggantinya. Setelah sampai
di hadapan Ratu Punggawa (yang waktu itu hanya duduk di pelataran kediamannya,
tidak dalam kantor) Nenek duduk di bawah agak jauh. Aku kasihan mendudukkan
celanaku di tanah karena itu aku hanya jongkok. Nenek diterima dengan ramah,
tapi tak disuruh pindah duduk dari tanah. Agak lama juga Nenek berurusan dan
selama itu aku hanya sekali-sekali berani melihat muka Ratu Punggawa. Suaranya agak
besar, cukup memperkecil hatiku. Tapi akhirnya Nenek diminta dengan sangat
supaya suka bermalam di sana. Walau dengan rasa berat Nenek menginap juga di
sana.
Sorenya aku merasa senang sekali makan. Nasinya putih dan
lemas, berlauk ikan laut dengan kacang hitam dan lain-lain yang lama sekali
sudah tak pernah kurasakan. Di rumah sudah sejak datuk meninggal kami cuma menyuap
nasi campur yang hampir tiap hari berganti: suatu hari nangka muda, hari lain
pisang muda dan tak jarang pula berganti-ganti antara daun ubi kayu, keladi
atau daun-daun yang lain. Nasi putih yang berlauk nyaman itu memberi aku
kenikmatan.
“Di sini kok ada banyak nasi, Nek.”
“Ratu Punggawa punya banyak beras.”
“Kita tak boleh minta, Nek?”
“Itu beras Jepang. Ratu Punggawa tak boleh memberikan kepada
orang lain.”
“Jepang itu paling buruk, Nek,” kataku berbisik.
Kami tidur di lantai semen beralaskan tikar rotan. Punggungku
sakit sekali, sebab igaku menjalur seperti tikar rotan itu. Nenek membantali
kepalaku dengan lengannya. Besok paginya kami pamit pulang. Tapi sebelum
berjalan kepada Nenek diserahkan sebuah bungkusan oleh isteri Ratu Punggawa. Aku
tak berani tanya, apa isinya. Tapi setelah agak jauh kuminta Nenek membukanya.
Setelah dibuka sedikit ternyata nasi. Ah, senang sekali aku.
Saat matahari condong ke barat baru kami sampai di rumah [.]
(Oleh Gde Winnyana, dikutip dari Cerita Pendek Indonesia 2. Gambar diambil dari Nationaal Archief.)
terasa sekali suasana penjajahanya waktu itu, hidup susah bahkan untuk makan nasi putih sekalipun sudah bersyukur, seharusnya di jaman ini kita lebih bersyukur dengan apa yang kita punya :)
BalasHapus