17 Mei 2026

Bacaan Berkesan: Berurusan

Saya terbiasa mendengarkan cerita Papa tentang bagaimana keluarganya harus hidup dalam kemelaratan dan situasi yang serba tidak menentu selama bertahun-tahun akibat kerusuhan mencekam tahun 1965 dulu.

Jika saya meminta Papa untuk menjelaskan betapa melaratnya kehidupan mereka saat itu, keadaannya sudah sampai pada titik di mana mbakyu sulungnya pun menangis tersedu-sedu setelah kehilangan 50 rupiah terakhir yang diberikan eyang putri saya—ibu dari Papa—yang rencananya akan dipakai membeli sedikit minyak gas untuk memasak.

Namun, penderitaan semacam itu tak hanya dialami keluarganya saja. Sebab kala itu memang merupakan masa yang amat berat bagi hampir semua orang, masa ketika hidup miskin adalah sesuatu yang lumrah...

Sewaktu kanak-kanak, saya mengira tidak akan pernah mengalami situasi serupa sampai perang yang baru-baru ini terjadi meletus.

Keluarga saya tentu masih diberkahi Allah SWT karena kami masih mampu membeli kebutuhan pokok seperti beras atau minyak goreng tanpa harus menangis tersedu-sedu kalau-kalau kehilangan uang 20.000 rupiah di jalan menuju pasar.

Tetapi semakin hari berlalu, semakin membesar pula rasanya kekhawatiran akan masa depan yang bercokol di dalam diri saya.

Walau negara ini tidak terlibat langsung dalam perang itu, saya sendiri sudah bisa melihat bagaimana pengaruhnya mulai merembet ke kehidupan rakyat kecil sehari-hari.

Sulit bagi saya membayangkan betapa jauh lebih beratnya kehidupan Papa pada masa itu.

Sepuluh kali lebih berat?

Tidak, rasanya pasti seratus kali lebih berat, apalagi eyang putri harus banting tulang seorang diri menghidupi ketujuh anaknya setelah PKI menjagal eyang kakung—yang konon adalah pejabat terpandang di Kediri kala itu.

Itulah sebabnya belakangan ini saya lebih tertarik membaca cerita-cerita lama mengenai perang.

Di antara semua cerita itu, cerita pendek berjudul Berurusan karya Gde Winnyana inilah yang terasa paling selaras dengan apa yang sedang saya saksikan sekarang ini.

Meski ceritanya disampaikan dari sudut pandang anak-anak dan diselingi berbagai tingkah lucu, cerita ini tetap berhasil membuat saya banyak berpikir dan merenung tentang perang.

Saya berharap cerita ini juga dapat meninggalkan pengaruh yang sama bagi teman-teman semua…

 

***

 

Cepat sekali aku bangun ketika Nenek menggugahku. Dengan air secedok mukaku dicuci Nenek hingga sesudahnya terasa ringan. Nenek juga mengenakan baju kapas dan celana kapas yang sangat kubanggakan dan baru kemarin dicuci Nenek seputih kapas yang sudah kotor. Aku merasa gagah benar berpakaian putih-putih, paling gagah di antara kawan-kawan yang punya celana goni atau kulit kayu. Apalagi celanaku punya potongan pakai kantong dua di belakang dan tali gantung ke bahu. Bajuku punya potongan seperti baju Seinendan. Hebat sekali.

Setelah menyalakan obor kami berangkat. Bintang timur masih kelihatan dan arah di bawahnya puncak-puncak bukit masih menghitam. Tapi kokok ayam sudah ramai di sana-sini.

Sudah hampir lima bulan tidak ada perhubungan dari kota ke desa. Hingga selama itu paman-pamanku yang tinggal di kota tak pernah pulang. Dan Nenek juga tak pernah ke kota. Datuk sudah hampir delapan bulan meninggalkan kami. Seperti pesannya terakhir kepadaku, datuk tidak akan pulang lagi kalau sekali ia pergi. Aku masih ingat sekali ketika suatu kali datuk berkata bahwa datuk akan mati sebab ada perang. Ucapan itu dikeluarkan tengah hari dan besok paginya datuk kami tangisi. Datuk sudah meramalkan kematiannya sendiri.

Semua pusaka datuk diurusi Nenek. Seharusnya pusaka itu dibagi empat, sebab datuk punya anak laki-laki tiga orang. Para pamanku mendapat bagian yang sama dengan bagian Nenek, tapi bibi-bibi, juga ibuku, tak dapat bagian sepeser pun. Mereka tak berhak sama sekali turut mewarisi pusaka datuk. Tapi aku tahu sekali bahwa ibuku dan bibi-bibi yang masih perawan padahal telah diajak datuk menggarap semua tanahnya. Sedangkan paman-pamanku sejak kecil sudah sekolah di kota. Paman-paman sama sekali tidak pernah turut pegang caluk, apalagi memeras keringat turut membantu datuk. Oleh sesuatu keadaan paman-paman dan Nenek belum melaksanakan pembagian itu, sehingga semua masih di bawah tangan Nenek.

Dengan terputusnya hubungan antara desa dan kota, maka segala urusan menjadi tugas Nenek, sebab kalau ada apa-apa dari pemerinah mengenai tanah datuk, segalanya disalurkan ke kantor distrik atau kantor sedahan, dan ke sanalah Nenek berurusan mengenai pajak atau upeti. Kali itu pun Nenek menghadapi urusan seperti itu dan aku diajaknya.

Aku tak berani berjalan di belakang Nenek, sebab seringkali aku dengar dalam cerita-cerita bahwa banyak anak yang hilang kalau berjalan di belakang orang tuanya. Lagi pula Nenek menyuruh aku berjalan di mukanya. Nenek memegang obor dan menjunjung sebuah penarak yang berisi ketupat, telur rebus dan kacang goreng. Kadang-kadang aku ngeri kalau menoleh ke samping kelihatan bayangan Nenek melonjak-lonjak. Tapi aku lupa pada takut kalau sedang mengamat-amati bajuku.

Berulang kali kuusap-usap sakunya yang dua buah itu dan uang setali yang ada di dalamnya kukeluar-masukkan tiap sebentar.

“Nek, kita akan jumpa Jepang, Nek?”

“Tidak. Kita menghadap Ratu Punggawa.”

“Ratu Punggawa seperti siapa, Nek?”

“Ratu Punggawa bagus, seperti pamanmu.”

“Kita akan diapakan, Nek?”

“Kita hanya disuruh menghadap.”

“Masih jauh Nek?”

“Tidak. Jalan sajalah, nanti kan sampai.”

Ketika sampai di ujung desa belum juga begitu terang. Semua masih serba hitam. Kami mengikuti jalan yang mendaki yang di atasnya tertutup daunan yang rimbun. Kemudian sampai pada bagian yang kurang tertutup, tanah itu adalah perkebunan kopi. Kalau kebetulan terdapat suara burung hantu aku tak berani renggang dari Nenek. Sampai sering kaki Nenek menyundul tumitku, hingga junjungannya goyang.

Nenek sedapatnya bercerita padaku tentang tempat yang akan kami tuju itu. Tentang Ratu Punggawa, tentang cara menghormat dan menghadap, tentang cara berbicara dan tentang segala yang diketahuinya, hingga aku lupa pada takut.

“Ketupat itu dimakan di mana Nek?”

“Kita makan kalau sudah siang.”

“Nanti disisakan beberapa buah untuk dimakan waktu pulang ya Nek?”

“Ya, tentu.”

“Ratu Punggawa sudah jadi Jepang, Nek?”

“Ratu Punggawa tidak jadi Jepang. Masih tetap jadi Punggawa. Tapi beliau mendapat nama lain dari Jepang. Entah apa itu, Nenek lupa.”

“Ratu Punggawa punya celana dan baju bagus, Nek?”

“Tentu, sebab diberi Jepang.”

“Mudah-mudahan saya akan diberi juga, ya Nek?!”

“Mudah-mudahan.”

“Bintang timur sudah tenggelam Nek.”

“Sebentar lagi akan pagi.”

“Kita sudah sampai di mana ini Nek?”

“Ujung desa Pedawa, desa Bali asli, Baliage.”

“Desanya orang jual gula itu Nek?”

“Betul. Datukmu punya kenalan baik, di sini.”

“Nanti kita mampir, minta gula, yo.”

“Kalau kita kembali, nanti kita singgah. Biar tidak terlambat kita terus dulu.”

“Yang di barat itu bintang apa, Nek?”

“Itu bintang siang.”

“Oya, ya, saya lupa dulu sudah Nenek bilangi.”

“Bintang luku sudah tenggelam Nek?”

“Tapi itu bintang layang-layang masih tampak.”

“Oh, sudah hampir siang kalau begitu. Matikan saja obornya.”

“Sebentar lagi.”

Aku benar-benar merasa bangga dan gagah lewat di muka anak-anak di desa Pedawa, yang kebanyakan tak bercelana dan kalau ada yang bercelana pun maka celananya kulit kayu. Makin putih kelihatannya baju dan celanaku ketika hari makin terang. Aku masukkan kedua tanganku ke kedua saku celana sambil berjalan dengan langkah-langkah Seinendan berbaris.

Ketika matahari kelihatan sinarnya kami sudah mengikuti jalan yang menurun. Sudah pula melewati desa Pedawa. Sepanjang jalan jarang ada dedaunan menutupi jalan, malah penaung saja kurang. Nenek juga mendongengkan mengapa di desa Pedawa banyak enau. Pada jaman dahulu ada seorang pedagang yang tertipu.

Menurut Nenek, adalah seorang yang berjanji mau membeli buah enaunya sekepeng sebuah. Maka dengan girang hati pedagang itu menyanggupi. Setelah beberapa lama datanglah ia membawa sepondong buah enau dengan harapan akan mendapat untung banyak, sebab di desanya buah enau dapat dicari, tak usah membeli. Dicarinya orang yang mau beli itu. Yang mau membeli itu mengambil satu buah enaunya dengan membayar sekepeng, sebab dia berjanji mau membeli sekepeng sebuah dan dia tidak butuh lebih dari sebuah saja. Betapa marah pedagang itu. Buah enaunya dilemparkannya berhamburan. Itulah yang sekarang menjadi pohon enau yang banyak itu yang menghasilkan banyak tuak untuk gula. Nenek juga menceritakan adat kebiasaan orang Pedawa.

“Bahasa mereka lain dari bahasa kita. Juga adat mereka banyak tak sama dengan adat kita.”

“Dulu Nenek bilang, orang Pedawa tak boleh dimintai tuak di tengah jalan, sehabis menurunkan dari pohonnya. Kenapa, Nek?”

“Kalau dimintai di tengah jalan nanti, sisanya tak mau jadi gula atau pohonnya berhenti mengalirkan tuak.”

“Kita coba yo, Nek.”

“Jangan! Nanti dimarahi orang.”

“Gitu saja Nenek tak mau.”

“Tidak boleh!”

“Saya ingin minum tuak yang manis.”

“Kalau ada yang dagang, nanti kita beli.”

“Sungguh ya Nek.”

“Sungguh! Masa’ tak sungguh. Di sini tidak boleh bohong-bohongan. Orang sini tak ada yang bohong. Kalau berbohong mungkin orang tidak tahu, tetapi dewa-dewa tahu saja. Orang yang bohong pasti dihukum dewa.”

“Nek, katanya gula itu kotor ya. Bagaimana gula bersih begitu dikatakan kotor?”

“Kotor waktu membuatnya. Sebab juruh yang tak habis diminum dituang lagi ke kuali pemasaknya. Jadi, bekas mulut orang.”

“Tapi kenapa Nenek suka beli juga?”

“Tidak semua orang yang membuat gula, kotor. Ada juga yang bersih.”

“Tapi kalau kebetulan dapat yang kotor?”

“Kita kan tidak tahu. Kita tidak melihat.”

“Nek, sudah panas.”

Ketika aku mengatakan panas, Nenek segera mengajakku mengaso. Kami mengaso di bawah sebatang pohon santan. Nenek membelahkan buatku ketupat dan telur. Aku makan lahap sekali, tapi Nenek cuma memandang aku dan sekali-kali menghapus keringat di dahiku.

“Kenapa Nenek tak makan?”

“Nenek belum lapar.”

Dua buah ketupat kuhabiskan dan sebutir telur. Setelah makan kerongkonganku terasa tersumbat dan Nenek bingung melihat aku. Untung dekat sana ada sawah. Maka aku minum air sawah yang masih kemerah-merahan berlumpur. Rasanya pekat amis.

Tapi air itu masih lebih enak daripada kencing, yang suatu kali pernah kucoba kucicipi karena ditipu kawan-kawan. Waktu itu kami main-main ke bukit. Setelah jauh berjalan kami payah dan haus, tapi tak ada air sama sekali. Tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan mentah juga tak ada. Tapi kemauan keras sekali untuk meneruskan perjalanan. Tiba-tiba seorang kawan mendapat akal. Diambilnya sehelai daun yang agak lebar, lantas dia jongkok menampung kencingnya. Kami mengerinyutkan bibir melihat dia meneguk kencing itu. Tapi dia kelihatan terlepas dahaganya, dan segar, serta menggerak-gerakkan tangannya ke atas. Enak, asin-asin, katanya. Lantas kami berlomba mengambil daun dan menampung kencing. Baru saja setetes menyentuh mulutku sudah begitu hebat desakan dari dalam perutku. Aku muntah seketika. Alangkah ramai teman-teman menertawakan aku. Mereka berlompat-lompat. Aku terus makin tak enak, kepalaku pusing, mata nanar karena marah dan lama aku jongkok menekan-nekan ulu hati. Akhirnya aku betul-betul skait dan tak bisa berjalan. Terpaksa mereka berganti-ganti menggendong pulang aku dan bertengkar mulut selama perjalanan itu.

“Kenapa kau tipu dia? Mestinya kau sendiri yang menggendong dia.”

“Kau juga turut.”

“Tapi aku kan belum mengapa-apa.”

“Tapi kau berdua tadi turut merencanakan.”

“Hanya merencanakan. Tapi kau yang mengerjakan.”

Sambil berjalan terus pertengkaran kecil itu berlangsng. Aku merasa makin baik dan sekiranya aku tak mengakali mereka tentu sudah dapat berjalan. Aku pura-pura masih lemas dan tidak kuat berdiri. Tahu rasa mereka menggendong aku sampai di rumah! Dan aku tersenyum puas dalam hati.

“Nanti ibunya marah,” kata teman yang sedang menggendongku.

“Biar kau yang dimarahi, sebab kaulah yang menipunya.”

Tiba-tiba aku ingat pada Ibu yang tak kumintai ijin waktu pergi. Kalau aku pulang sakit tentu makin dimarahi, tidak kawan-kawan saja. Dan setelah agak dekat dengan rumah aku bilang pada yang kugendongi:

“Aku sudah bisa jalan.”

Lantas diturunkannya aku, mereka kelihatan lebih senang daripada tadinya.

Setelah beberapa lama barulah kuketahui akal kawan itu, bagaimana caranya menipu aku. Waktu dia jongkok memegang daun yang sudah dipincukkan, sebenarnya tidak betul kencingnya ditampung. Itu tak kulihat sebab dia memunggungi aku. Dan karena daun itu agak tebal tak kulihat dari luarnya apakah berisi kencing atau tidak. Tapi dia menampakkan muka yang sungguh-sungguh seolah minum minuman yang sedap. Karena itu, aku kena tipunya dan tanpa kurencanakan sebelumnya aku enak digendong pulang . . . .

Karena payah aku tak banyak bertanya-tanya kepada Nenek. Hanya sekali-sekali kutanyakan segala sesuatu yang belum pernah kulihat. Terutama tanam-tanaman yang tumbuh di tanah yang gundul itu. Yang banyak terdapat ialah pohon lentana yang di mana-mana sudah kulihat. Tapi kaktus yang panjang-panjang durinya dan tinggi pohonnya belum pernah kulihat. Di tanah gundul itu seolah menjadi pagar sepanjang pinggir jalan.

Jauh sebelum masuk ke kantor distrik Nenek sudah membebatkan handuk di punggungnya.

“Untuk apa Nek,” tanyaku.

“Kalau menghadap harus begini.”

“Untuk saya mana?”

“Ged tak usah pakai, sebab masih kecil. Asal ingat jalannya, harus merendahkan badan.”

“Kalau tak begitu Nek?”

“Dimurkai Ratu Punggawa atau tuan Jepang.”

Ketika memasuki pintu gerbang, Nenek berjalan setengah jongkok dan aku meniru-niru. Tangan Nenek dikatupkan di depan dada sejajar dengan ujung dagu. Aku payah berjalan begitu, tapi takut menggantinya. Setelah sampai di hadapan Ratu Punggawa (yang waktu itu hanya duduk di pelataran kediamannya, tidak dalam kantor) Nenek duduk di bawah agak jauh. Aku kasihan mendudukkan celanaku di tanah karena itu aku hanya jongkok. Nenek diterima dengan ramah, tapi tak disuruh pindah duduk dari tanah. Agak lama juga Nenek berurusan dan selama itu aku hanya sekali-sekali berani melihat muka Ratu Punggawa. Suaranya agak besar, cukup memperkecil hatiku. Tapi akhirnya Nenek diminta dengan sangat supaya suka bermalam di sana. Walau dengan rasa berat Nenek menginap juga di sana.

Sorenya aku merasa senang sekali makan. Nasinya putih dan lemas, berlauk ikan laut dengan kacang hitam dan lain-lain yang lama sekali sudah tak pernah kurasakan. Di rumah sudah sejak datuk meninggal kami cuma menyuap nasi campur yang hampir tiap hari berganti: suatu hari nangka muda, hari lain pisang muda dan tak jarang pula berganti-ganti antara daun ubi kayu, keladi atau daun-daun yang lain. Nasi putih yang berlauk nyaman itu memberi aku kenikmatan.

“Di sini kok ada banyak nasi, Nek.”

“Ratu Punggawa punya banyak beras.”

“Kita tak boleh minta, Nek?”

“Itu beras Jepang. Ratu Punggawa tak boleh memberikan kepada orang lain.”

“Jepang itu paling buruk, Nek,” kataku berbisik.

Kami tidur di lantai semen beralaskan tikar rotan. Punggungku sakit sekali, sebab igaku menjalur seperti tikar rotan itu. Nenek membantali kepalaku dengan lengannya. Besok paginya kami pamit pulang. Tapi sebelum berjalan kepada Nenek diserahkan sebuah bungkusan oleh isteri Ratu Punggawa. Aku tak berani tanya, apa isinya. Tapi setelah agak jauh kuminta Nenek membukanya. Setelah dibuka sedikit ternyata nasi. Ah, senang sekali aku.

Saat matahari condong ke barat baru kami sampai di rumah [.]

 

(Oleh Gde Winnyana, dikutip dari Cerita Pendek Indonesia 2. Gambar diambil dari Nationaal Archief.) 

1 komentar

  1. terasa sekali suasana penjajahanya waktu itu, hidup susah bahkan untuk makan nasi putih sekalipun sudah bersyukur, seharusnya di jaman ini kita lebih bersyukur dengan apa yang kita punya :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan 😊

© m o f u m e m o
Maira Gall