
Belakangan ini saya mulai rutin berjalan kaki lagi—walau baru memasuki hari kedua hahahaha...
Pada dasarnya saya bukan tipe orang yang konsisten melakukan
sesuatu, jadi menurut saya ini termasuk perkembangan yang lumayan bagus.
Bisa melakukannya selama dua hari berturut-turut saja saya
sudah amat bersyukur. Yah, paling tidak menurut standar saya sendiri begitu π¬
Saya
memutuskan berjalan kaki lagi karena kondisi badan akhir-akhir ini sedang drop
parah. Otot-otot terasa kaku, sendi-sendi terasa linu, kepala rasanya seperti
berdenyut-denyut...
Dan yang
paling fatal, selera makan saya berkurang. Padahal aslinya saya orang yang suka
makan. Dan begitu lidah ini tidak berselera, saya pun menyadari ada yang tidak
beres.
Maka dari
itu, saya mulai lagi kebiasaan jalan-jalan.
Sebetulnya jalan kaki ini sudah menjadi kebiasaan yang saya
tekuni sejak saya pertama kali menerima diagnosis tumor pada tahun 2024. Meski
tidak dijalani secara rutin, saya selalu kembali melakoninya tiap kali butuh.
Terus terang agak memalukan untuk saya akui, tetapi sebelum
menerima diagnosis itu saya bukanlah orang yang serius menjaga kesehatan. Baru
saat itulah saya betul-betul merasakan sendiri betapa pentingnya menjaga tubuh
dengan baik π₯²
Kala itu, wejangan dari Plato pun membekas bagi saya.
“Kurangnya aktivitas akan merusak kondisi terbaik manusia, sedangkan gerakan dan olahraga teratur mempertahankannya.”
Nah, filsuf dari ribuan tahun silam sudah membocorkan semua
solusinya. Lantas mengapa saya baru tersadar setelah babak belur menerima
konsekuensinya? Agaknya memang begini caranya manusia belajar π
* * *
Bisa dibilang dulu saya hidup dalam yang namanya
power-saving mode.
Saya jarang bergerak kecuali memang sangat terpaksa, karena
tidak suka jika ritme kerja saya terganggu.
Makan pun sering saya anggap terlalu merepotkan, hingga
menjadi kebiasaan untuk melewatkannya.
Lebih parah lagi, jangankan jauh, untuk jarak 50 meter pun
dulu saya tetap memakai sepeda motor lantaran tidak mau capek π€‘
Begitu parahnya pola hidup saya kala itu, hanya beberapa
langkah saja sudah membuat napas tersendat, ditambah hampir setiap hari saya
sakit kepala. Kalau sedang parah, perut saya mual hebat sampai seperti mau
muntah.
Tetapi ketika itu saya tidak menganggapnya sebagai
peringatan dari tubuh. “Ah, mungkin cuma kecapekan biasa,” begitu pikir saya.
Lalu, setelah dijangkiti tumor, saya baru sepenuhnya
tersadar. Jika pola hidup seperti ini diteruskan jelas tidak akan baik.
Sejak momen itu, saya mulai memahami pentingnya merawat
tubuh. Dan perubahan pertama yang saya lakukan adalah mengurangi perilaku sedentari yang amat saya gemari itu.
Meski begitu bukan berarti saya langsung mengambil langkah
besar untuk berubah! π¬ Karena olahraga intens
bagi saya sudah terasa berat, bahkan sebelum dicoba.
Stamina pun tidak prima, apalagi kalau harus memikirkan
hal-hal seperti membeli perlengkapan ini-itu hingga menyusun jadwal latihan...
Semuanya di luar kapasitas energi saya kala itu.
Nah, berbeda dengan jalan kaki. Cukup memakai sepatu dan
langsung keluar rumah, beres. Yang terpenting, ini adalah aktivitas yang paling
mudah—dan murah—untuk langsung dimulai.
Karena alasan-alasan inilah saya akhirnya memilih jalan kaki
sebagai bentuk olahraga ☺
* * *
Rute jalan kaki saya cuma di sekitar kampung saja. Tidak ada
tujuan yang wah atau keinginan untuk pergi ke tempat yang jauh.
Tetapi di awal-awal, bahkan hal yang ringan sekali pun
terasa tidak mudah. Jalan kaki 10-15 menit saja sudah terasa berat π₯Ί
Itu pun bukan dengan tempo cepat layaknya olahraga,
melainkan sekadar jalan-jalan santai sambil mencari angin.
Namun perlahan-lahan tubuh saya mulai terbiasa. Menguat pula
stamina saya. Sampai pada akhirnya saya bisa berjalan dengan cukup nyaman
selama 20-40 menit.
Di hari-hari libur, saya sesekali berjalan hingga hampir
satu jam lo π
Dan seiring berjalannya waktu, entah karena mulai muncul
sedikit ambisi, saya pun sesekali mencoba yang namanya “jalan ala Jepang” yang
saya pelajari dari video NHK WORLD-JAPAN ini.
Triknya adalah bergantian antara jalan cepat dan jalan
lambat. Di luar dugaan, metode ini cukup menguji stamina.
Sewaktu pertama kali mencobanya, saya sempat mengeluh,
“Katanya jalan santai, kok jadi tes kebugaran begini sih?!” π€‘
Tetapi jelas terasa bahwa daya tahan saya untuk berjalan
jarak jauh dan dalam waktu lama mulai meningkat.
Pada awal mencobanya, hanya setelah beberapa menit berjalan
saya langsung batuk-batuk. Tulang rusuk juga terasa nyeri seperti mau pecah.
Otot kaki yang jarang digunakan pun sangat pegal, sampai-sampai saya harus
memakai koyo berhari-hari.
Namun kini keluhan-keluhan tadi sudah banyak berkurang. Jika
dibandingkan dengan sebelumnya perbedaannya cukup besar. Saya sendiri cukup
takjub dibuatnya π³
Tetapi yang lebih mengejutkan adalah bahwa bukan cuma daya
tahan tubuh yang meningkat. Saya juga menilai pikiran pun menjadi lebih jernih.
Berhubung saya harus work-from-home dengan durasi
yang lumayan panjang—dari pukul 9-an hingga larut malam—sering timbul di diri
saya perasaan seperti terpenjara di rumah sendiri.
Terlalu lama duduk dan memutar otak membuat saya merasa
tidak nyaman secara mental, hingga hal-hal kecil pun membuat saya lebih mudah
tersinggung. Entahlah.
Misalnya, saya mudah merasa gelisah jika respons dari
klien sedikit terlambat. Kalau pekerjaan tidak berjalan mulus, saya refleks over-thinking.
Tanpa sadar, saya juga mulai hobi menggerundel tentang keluarga dan kondisi
rumah.
Dipikir-pikir lagi, bukan hanya tubuh yang kaku, tetapi
pikiran saya juga ikut mengalami kondisi serupa π£
Anehnya, begitu keluar rumah untuk jalan-jalan,
perasaan-perasaan negatif itu perlahan-lahan memudar.
Namun tentu saja bukan berarti hidup saya mendadak lebih
optimis atau saya langsung mendapatkan pencerahan batin layaknya sang Buddha.
Tidak sampai sehebat itu kok π
Stres karena tenggat waktu masih ada. Begitu pula dengan pekerjaan
yang kurang saya sukai, yang masih saja tidak menyenangkan untuk dikerjakan.
Setidaknya pikiran yang selalu mengarah ke hal-hal negatif
sudah tidak sekuat dulu.
Siapa sangka, terlalu lama berada di satu tempat yang sama
bisa membuat cara pandang menyempit…
* * *
Oh ya, saya punya waktu khusus untuk menjalankan ritual ini.
Saya sebenarnya tipe orang yang paling produktif di pagi
hari. Karena itu, saya biasanya langsung mulai bekerja begitu bangun tidur.
Tetapi sekarang saya justru memilih untuk jalan-jalan lebih dulu.
Kalau saya rencanakan setelah selesai bekerja, kemungkinan
besar justru tidak akan saya lakukan. Saya belum sepenuhnya percaya pada
komitmen diri sendiri. Bisa dibayangkan, saya akan terus menunda entah sampai
kapan.
Makanya, saya putuskan untuk melakukannya di pagi hari
sebelum aktivitas lain dimulai.
Saya bangun sekitar pukul 04.30. Setelah salat subuh,
menyikat gigi, dan minum segelas air, saya keluar rumah sekitar pukul 05.00.
Nah, soal waktu ini sebenarnya sempat mengalami beberapa
kali penyesuaian. Dari pukul 04.30 hingga 05.30, dan akhirnya sekarang saya
putuskan untuk mulai sekitar pukul lima.
Kalau terlalu pagi tidak cocok. Sebab jalanan masih terlalu
sepi dan menimbulkan waspada berlebihan tiap terdengar suara-suara kecil sekali
pun.
Sebaliknya jika terlalu siang, jumlah orang yang
beraktivitas di luar rumah bertambah dan kendaraan bermotor lebih ramai,
sehingga menjadi kurang nyaman secara pribadi.
Nah, pukul lima ini pas di antara keduanya. Langit masih
belum terang, tetapi jalanan-jalanan juga belum disesaki oleh lautan manusia.
Atmosfernya pun istimewa, karena udaranya yang cenderung basah dan dingin.
Di samping itu, mengamati orang-orang yang jalan-jalan di
waktu yang sama juga cukup menyenangkan.
Khususnya di pagi hari Minggu, jalanan kampung jauh lebih
hidup daripada hari-hari sebelumnya.
Banyak orang mengenakan jersey, baik berjalan kaki
maupun berlari, dan rentang usianya pun ternyata lumayan beragam.
Dulu saya tidak terlalu memperhatikan hal ini, tetapi
setelah mulai rutin keluar di pagi hari, saya menyadari bahwa cukup banyak
orang yang aktif bergerak tiap pagi.
Tampaknya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan kian
meningkat, dan melihat pemandangan seperti itu diam-diam membuat suasana hati
saya ikut menjadi lebih positif ☺
***
Sungguh, saya masih belum bisa disebut sebagai individu yang
rajin apalagi disiplin dalam menjaga diri.
Sesekali saya masih ingin mematikan alarm dan kembali tidur,
sambil terlintas pikiran seperti, “Hari ini bolos ah...”
Namun jika ditanya apa bedanya saya yang sekarang dan
dulu... Mungkin fakta bahwa sekarang saya tidak lagi ingin abai akan
sinyal-sinyal yang diberikan tubuh?
Walau hanya sebentar di pagi hari, agenda jalan kaki itu
sudah membuat saya menjadi sedikit lebih enteng—baik jasmaniah maupun batiniah.
Dan mengingat saya baru sebatas memulai ulang, saya belum
tahu apakah nanti konsisten atau tidak. Maklum, tekad saya lebih seringnya
hangat-hangat tahi ayam π€£
Meski begitu, untuk beberapa waktu ke depan saya ingin merutinkan
berjalan kaki ini.
Karena bagi saya yang sekarang, inilah cara menjadi sehat
yang paling tidak membebani untuk dijalankan dalam jangka panjang [.]
(Gambar diambil dari Canva.)
Saya sudah dua tahun lebih tidak olahraga jalan kaki. Kalau saya biasa sore, sekitar jam limaan.
BalasHapusMungkin karena sekarang mudah lelah dan banyak aktivitas, sampai tidak sempat berolahraga. Perut sampai buncit hehehe
Boleh tahu Mas kenapa lebih suka olahraga sore? Soalnya kalau pagi 'kan udaranya masih enak, adem π
HapusWah, saya kalau sudah kecapekan, nggak ada semangat buat ngapa-ngapain, juga sama Mas. Maunya tiduran mulu di kasur! π€ Tapi lama-tama badan yang makin membesar juga bikin waswas. Jadi meski rebahan, hati nggak tenang karena mikirin kesehatan π
Often it happens that we don't realize the importance of good health until we get sick. What is most significant is that we do learn and that we do our best to make adjustments. It doesn't have to be all at once, what is good is that once we gradually implement the necessary changes to make sure we keep the changes.
BalasHapusI have been pre-diabetic for about 20 years. Over the last several years I have made significant changes.
I completely stopped drinking sodas such as Coca-Cola. Even the sugar free ones, because there is still some kind of sweetener in them.
I like to take walks in nature, for myself this is therapeutic.
Thank you so much for sharing, I wish you all the best in everything you do. ❤️
I still reach for Coca-Cola, Pepsi, and other fizzy drinks quite often. I do realise I ought to drink less. Excess sugar isn't good, after all. But it's bound to be difficult because I'm rather keen on sweet things! π Fingers crossed I'll get there someday.
HapusLet's both try to stay in good health, Linda. Thanks again for coming by my blog ππ
I also wanted to mention that when you walk, it is not the speed that counts it is the movement.
BalasHapusHope this helps. I am rooting for you.
jalan kaki is one of good exercises, especially brisk walk. kita akan jalan kaki tersangan banyak kalau travel DIY ke mana2 negara luar cthnya japan, europe etc...cuaca di sana is conducive utk jln kaki, berbanding cuaca di negara2 tropika mcm malaysia dan indonesia. apa2 pun, jom jalan kaki bila ada peluang!
BalasHapusHi dear friend, I made a typo in my first comment...I said that I have been pre-diabetic for 20 years...it is actually 10 years! Because in my particular case for my health I decided to stop soft drinks due to the high sugar content. As well, sugar turns into fat. So I only speak for myself in this because my father was diabetic. And even though he was quite slim and weighed only about 115 pounds, sadly he died of a heart attack at the age of 64 in 1984. Diabetics are more prone to heart attacks.
BalasHapusThis is why I am trying to cut back on my sugar and keep my weight at a decent level. Right now I weigh 127 pounds, which is not overweight (as far as I know) but it isn't underweight, which is not good, either. I have been told that too much sugar can turn into fat as well as contribute to a stronger potential of having a heart attack.
I just wanted to mention this because I wouldn't tell others how they should live or eat, I was just talking about my own situation and how I am trying to take care of my own health.
However, if any of the information I have shared here helps someone else, I am very happy to do this.
You are amazing! And I totally understand having cravings for sweet things, believe me! LOL! When I go to the grocery store I try and stay away from all the cakes and pies, etc., because they look so good!
Saya suka berjalan-jalan di Garden saya melihat bunga2an..mudah kan berjalan usah malas ya gais..
BalasHapusSaya pernah baca, kalau jalan kaki, salah satu olahraga/kegiatan yang punya banyak manfaat bagi kesehatan. Saya sendiri gak pernah olahraga selama 10 tahun terakhir ini. Tapi di 6 tahun belakangan, kalau ke tempat usaha di pasar, jaraknya 300 meter, selalu jalan kali, baik pergi maupun pulang. Bukan karena rajin atau mau olahraga, tapi karena memang gak ada uang untuk beli kendaraanπ
BalasHapusUntungnya punya keponakan yang selalu aktif. Jadi, sering aku ajak jalan kaki muter-muter komplek. haha. Keeponakan aku tipe yang kepo dan mau nyapa orang meskipun kadang agak aneh juga.. haha. Kaya Orang orang lagi apa? cuma ngomongnya didepan orangnya π
BalasHapusseru sih jalan kaki.. meskipun nggak lari. sebisa mungkin sehari target 8000 langkah bisa tercapai
dulu ya mba, sebelum covid, aku pun sama... malas olahraga. stamina berasa bgt menurun... tapi pas covid, banyak temen kantorku yg meninggal. dan rata2 mereka meninggal akibat covid hanya krn komplikasi dengan penyakit yg sudah dulu ada, diabetes, jantung , darah tinggi. yg sebenernya bersumber dari pola hidup juga.. jarang olahraga, makan asal2an...
BalasHapusdari situ aku takuuut mba... akhirnya selama covid, aku rutinin pelan2 workout.. awalnya dari youtube.. 10 menit sehari, lalu meningkat 15 menit... makin naik lagi, sampe akhirnya skr rutin 1 jam 4x seminggu. ruang tamu aku renov, jadi mini gym... toh aku ga pernah terima tamu...
beli peralatan gym, yg penting2 aja dan yg sering aku pake pastinya... aneka barbel, dumbell, kettelball... pull up bar, treadmill. jadinya aku ga perlu ke gym, cukup di rumah, krn kdg yg bikin aku malas krn hrs keluar rumah :D.
trus, aku bersyukur krn beberapa temen deketku, memang rutin gym dan olahraga... jadi PT bahkan. so kalau sedang traveling dengan dia, aku malah terkontrol dari pola makan dan workout nya..
tekadang ada teman dekat yg rutin olahrga, malah bikin kita jd semangat juga . termotivasi setidaknya