1 Januari 2026

Cara Menghadapi Kejamnya Dunia

Dalam beberapa kesempatan konsultasi, saya sering bertemu dengan siswa SMA yang sedang mengulang ujian atau mahasiswa yang usianya sekitar 25 tahunan. Mereka biasanya datang dengan wajah penuh harap dan dengan sangat sopan membuka pembicaraan, “Pak, bolehkah saya minta waktunya sekitar lima menit?” Maka saya persilakan mereka untuk berbicara.

Mereka pun mulai memaparkan kisah hidupnya. “Saya sebetulnya sudah tidak punya orang tua, Pak. Setiap pagi saya bekerja paruh waktu di toko swalayan untuk menambah biaya sekolah sambil tetap belajar.” Cerita itu jelas disampaikan bukan tanpa tujuan. Saya tahu, yang mereka inginkan sebenarnya adalah empati. Mereka mengharapkan sebuah pengakuan dari saya bahwa hidup mereka memang berat.

Namun saya justru menimpali dengan singkat, “Baik. Lalu apa yang ingin Anda sampaikan?” Seketika mereka tampak bingung. Setelah jeda canggung, barulah mereka masuk ke inti persoalan, “Begini, Pak. Sekarang saya sudah belajar materi sampai tahap ini, dan target saya sampai tahap itu. Menurut Bapak, kira-kira langkah berikutnya sebaiknya bagaimana?”

Saya pun menjawab apa adanya. “Anda sendiri yang paling tahu kemampuan Anda. Untuk urusan seperti ini, bukankah Anda justru yang paling tahu jawabannya?” (Itulah sebabnya tak sedikit orang yang terkejut setelah melaksanakan konsultasi dengan saya, karena citra saya di televisi yang ramah dan penuh perhatian terasa bertolak belakang dengan sikap saya ketika mengobrol langsung.)

Dalam situasi seperti itu, saya kerap menegaskan satu hal kepada para siswa saya: jangan merasa bahwa hanya Anda yang memikul kisah hidup yang berat. Jangan berpikir seolah-olah Andalah satu-satunya manusia yang hidup dalam kondisi terburuk di dunia ini. Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang lemah.

Bukan hanya Anda yang orang tuanya bercerai, yang menjadi sebatang kara terlalu dini, yang tidak akur dengan keluarga sampai-sampai harus hidup sendiri. Bukan hanya Anda yang hidup dalam kemiskinan, tidak punya uang untuk membiayai sekolah, lalu terpaksa bekerja di usia belia sekadar untuk bertahan. Ketahuilah, cerita-cerita seperti ini sangat umum. Saya sendiri juga menjalaninya.

Maka jangan menempatkan diri seolah-olah dunia memperlakukan Anda dengan paling kejam, seolah-olah hanya Anda yang tidak terlahir dengan keberuntungan.

Dari luar, hidup orang lain memang terlihat sempurna. Mereka tampak punya lingkungan yang suportif, punya bantuan yang melimpah. Namun kenyataannya, sebagian besar orang memikul beban dan kekurangan masing-masing, hanya saja mereka tidak selalu terang-terangan menunjukkannya...

Saya sendiri juga punya banyak cerita sedih, hanya saja tidak selalu saya ceritakan kepada Anda semua. Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Misalnya hari ini, saya sebenarnya akan menghadiri acara perjodohan. Ada janji temu hari ini, tetapi saya tidak akan menceritakannya kepada siapa pun. Saya akan menyimpannya rapat-rapat. Nah, siapa saja pasti punya perasaan untuk menutup-nutupi sesuatu seperti ini.

Dan dengan kondisi seperti itulah kita tetap menjalani hidup. Kita berusaha sebaik mungkin, jatuh bangun mencoba berbagai cara, walau tak jarang harus mengalami kekecewaan besar. Saya sering menekankan hal ini, terutama kepada siswa SMA. Mustahil ada anak yang jalannya mulus-mulus saja sejak kelas dua, selalu rajin belajar matematika, nilainya terus meroket, lalu di kelas tiga sukses di tryout maupun ujian nasional, dan akhirnya masuk universitas tanpa hambatan. Itu tidak realistis.

Setiap orang akan bertemu dengan yang namanya kejenuhan dan kejatuhan. Bahkan siswa yang paling giat belajar pun bisa terpeleset di ujian tengah semester. Ada yang sempat bangkit, lalu kembali jatuh di ujian akhir semester dan terombang-ambing sampai tryout. Meski begitu, ada juga yang bertahan sampai akhir, terus berusaha, dan akhirnya berhasil di ujian nasional. Jalur naik turun seperti ini adalah pengalaman yang saya yakini hampir semua orang lalui.

Anda bisa saja bertengkar hebat dengan orang tua, lalu berteriak dengan emosi, “Ah, bodo amat, aku gak mau belajar matematika lagi!”, dan melampiaskannya dengan merobek buku. Tahapan seperti ini wajar dan hampir pasti dialami setiap orang.

Saya memang sering menasihati—bahkan saya akui terkesan cerewet—bahwa sikap Anda terhadap matematika harus dibenahi. Namun ada masanya ketika latihan sebanyak apa pun tak juga membuahkan hasil. Anda akan merasa heran, “Kenapa ya di soal ini gak bisa-bisa?” Satu soal mungkin akhirnya terpecahkan, tetapi kemudian Anda mengalami kebuntuan yang sama di soal yang berbeda. Masa-masa sulit seperti ini adalah pengalaman umum, jadi tidak ada satu orang pun yang benar-benar luput darinya.

Kehidupan yang damai sepenuhnya itu tidak pernah ada. Tidak ada hidup yang mengalir mulus seperti aliran air. Kenyataannya, apa yang Anda rencanakan jarang sekali terwujud sesuai harapan. Sebab hambatan akan selalu mengadang di depan. Namun justru dengan terus melampauinya, satu per satu, Anda dapat menjalani hidup sambil memungut kebahagiaan kecil yang muncul di tengah perjalanan itu...

Lalu, berbagai peristiwa kebetulan akan terus bermunculan—pertemuan antara saya dan Anda pun sebenarnya lahir dari rangkaian kebetulan tersebut. Seiring waktu, kebetulan itu bisa terasa seperti sebuah keharusan.

Maka jangan terlalu berharap hidup ini akan berjalan persis sesuai rencana. Cukup hadapi hari demi hari dengan memusatkan perhatian dan energi pada saat ini. Ketika Anda menjalani setiap hari dengan sungguh-sungguh, di sanalah rasa pencapaian muncul, hasil dari usaha pun perlahan terlihat, dan begitulah hidup semestinya dijalani [.]


(Oleh Jeong Seung-jae, alih bahasa oleh Ristra Russilahiba. Gambar diambil dari Hankyung.)


Jeong Seung-jae adalah instruktur matematika terkemuka asal Korea Selatan. Melalui platform EtoosEdu, beliau menyampaikan materi matematika SMA baik secara online maupun di kelas akademi. Beliau juga menjalankan program beasiswa yang telah lama berlangsung dan secara rutin merilis materi serta kursus baru untuk mengikuti perkembangan kurikulum. Di luar aktivitas mengajar, beliau aktif tampil di acara televisi, berpartisipasi dalam inisiatif mentoring untuk publik, dan menjadi brand ambassador dalam berbagai kampanye pendidikan.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Silakan tinggalkan jejak berupa tanggapan, pertanyaan, atau sapaan 😊

© m o f u m e m o
Maira Gall